Pada Sebuah Gerbong

Ditulis oleh Purwantoro dari Tribun Aremania

Tampak jelas gambaran nyata dari potret di negeri ini dengan buruknya fasilitas dan pelayanan terhadap satu kelas satu status yang amat paling rendah stratanya yaitu Kelas Ekonomi.

Pun itu juga ayas alami ketika melakukan perjalanan Arus Balik ke Atrakaj pada tanggal 26 September 2009 bersama dengan nawak-nawak dengan menggunakan fasilitas publik jasa transportasi darat yaitu naik Kereta Api Ekonomi MATARMAJA (singkatan dari nama kota atau stasiun Malang Blitar Madiun Jakarta).

KA. Matarmaja di Stasiun Senen, Jakarta

Sesak, panas dan tidak manuasiawi itu yang ayas rasakan selama perjalanan dari Stasiun Kota Baru Ngalam menuju Stasiun Pasar Senen Atrakaj yang berangkat pukul 15.00 WIB dan tiba pukul 13.30 WIB dengan mengalami keterlambatan 5 jam 30 menit dari jadwal kedatangan yang seharusnya pukul pukul 09.00 WIB sesuai yang tertulis di selembar karcis. Dengan sepuluh gerbong atau kereta yang terisi hampir kurang lebih 2000 jiwa .

Ayas juga teringat oleh gurauan seorang nawak dengan mengatakan “Dengan harga 51.000 rupiah minta enak dan nyaman, mana ada di negeri ini ?” .Sungguh ironi di suatu negeri yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo. Dimana kayu di lempar menjadi tanaman benih ditabur menjadi buah dan bunga.

Seorang nawak ayas juga pernah bilang meski secara subyektif “Terasa belum lengkap menjadi seorang Aremania bila belum merasakan perjalanan dengan KA Matarmaja”. Kenapa begitu karena banyak sejarah dan nostalgia yang panjang antara Aremania dan kereta kelas Ekonomi ini.

Saat ayas memasuki gerbong dan duduk pada salah satu bangku sempat terasakan nafas aroma dan gairah jiwa yang terekam pada beberapa retakan kaca jendela akibat lemparan batu atau benda keras lainnya.

Disini ayas mulai mencoba merunuti menapaktilasi dan mencoba merasakan saat saat yang tidak pernah terlupakan setiap Aremania bahwa di gerbong ini pernah ada catatan manis dan getir dari sisi sepak bola .Saat senang karena kemenangan saat air mata berlinang karena teman seperjuangan berpulang saat harus berbagi kebersamaan karena rasa lapar dahaga dan tanpa keluh kesah.

Di sini di gerbong ini pernah berpuluhan ribu Aremania pergi dari Ngalam menuju kota lain entah Madiun, Solo dan Jakarta dengan semangat dengan gelora mendukung tim Singo Edan di manapun berlaga atau entah mengadu nasib yang lebih baik dari saat sebelumnya.

Mejeng dulu

Jika dinding dinding gerbong dapat memutar ulang nyanyian dan yel yel para Aremania mungkin mengalahkan bunyi atau raungan derit putaran roda roda dan lengkingan terompet lokomotif itu sendiri. Tiada kata surut atau balik langkah meski dengan resiko dapat sambutan lemparan batu dari suporter tim kota lain sewaktu pulang dari mendukung tim Arema yang menjuarai Piala Copa 2005 atau saat saat sesudah dan sebelumnya.

Jika bangku bangku dalam gerbong ini dapat mengatakan betapa banyak dan ribuan para Aremania yang tidak dapat tertampung untuk duduk dan bersandar bahkan harus rela berdiri atau duduk bergantian dan tergeletak di lantai demi sebuah kebersamaan demi ikatan yang tidak terpisahkan oleh waktu, keadaan dan tujuan dengan tim pujaan Singo Edan.

Bagi ayas gerbong itu bagai satu kiasan dimana suatu kepedulian dan persaudaraan akan tetap berjalan dan terus berjalan mencapai suatu tujuan dengan segudang cita cita dan harapan meski melewati riuh rendahnya bermacam rintangan halangan dan cobaan.

Bagi ayas gerbong itu adalah pemantik atau mortir yang harus di lontarkan mengahadapi ponggahnya tangan tangan kekuasaan yang di luar sepakbola dengan berbagai cara yang berupaya memecah belah dan mencabik cabik kesejatian sebagai Aremania yang mempunyai loyalitas tanpa batas sebagai Arek Ngalam untuk Arema dan Ngalam.

Jika nama gerbong itu dan berangkatnya dari Ngalam maka sepatutnya pergerakan gerbong Aremania dari sana. Dengan selalu memenuhi bangku bangku Stadion Kanjuruhan dan dalam hal ini ayas masih angkat topi terhadap nawak nawak di Ngalam yang masih konsisten hadir meski dengan segala perbedaan kemampuan tapi mempunyai satu teriakan Arema.

Setidaknya Aremania turut menjalankan roda roda kereta pemasukan buat keberadaan dan perjalanan Arema menuju juara. Ayas teringat saat saat di Stadion Kanjuruhan yang penuh sesak penuh teriak dan penuh sorak tanpa menimbulkan gejolak juga merindukan gerakan MEXICAN WAVE yang di awali dari tribun skor atau tribun timur terus ke tribun utara di lanjutkan ke tribun VIP berikutnya ke tribun selatan dan kembali ke tribun skor lagi sebagai bukti satu hati ,satu jiwa tertumpah dan terasa tanpa memandang itu siapa yang ada.

Di sini ayas hanya menulis sebuah gerbong sebagai saksi bisu tentang nilai nilai yang di torehkan pada tiap waktu masa dan era namun tak mudah untuk di enyahkan selama gerbong berikut dengan rel rel ribuan kilometer terbentang terhampar terlintas walau tergerus oleh kerasnya roda kehidupan namun semangat dan gairah bukan hanya sekedar semboyan atau selepas peluit ditiupkan sebagai tanda keberangkatan kereta namun masih ada jadwal jadwal panjang di papan yang harus di lakukan yaitu kepedulian dan berbagai dukungan tanpa henti sebagai Aremania terhadap Arema dalam satu jiwa .

Tak terasa perjalanan yang mengharuskan dan mengedepankan besarnya kesabarannya yang tak terhingga serta rasa syukur senantiasa.Ayas coba hilangkan kepenatan dan kegalauan dengan bercanda dan bersendagurauan dengan nawak nawak seperjalanan (sebagian anak STM Grafika Ngalam yang menjalani tugas PSG di salah satu harian Ibukota) atau menertawakan diri sendiri masing masing tentang apa yang terjadi di sepanjang perjalanan dengan saling berbagi makanan dan minuman (hingga tiada yang tersisa) tempat duduk dan saling mengawasi barang bawaan hingga harus saling bertautan satu sama lainnya dengan segala keterbatasan.

Warung Arema

Dapat ayas banggakan adalah sampai saat ini hanya Aremania lah yang pernah melakukan tour dengan jumlah kurang lebih belasan ribu orang terbesar sepanjang sejarah sepak bola Indonesia dan ayas saat ini dapat merasakan bagaimana dengan segala sarana dan keterbatasan Aremania saat itu tidak mengurangi rasa cinta dan rasa memiliki tim Arema.

Dengan mengenang sisi perjuangan nawak nawak yang lalu dengan gerbong ini setidaknya dapat membayar lunas keluhan dan kelelahan ayas sepanjang perjalanan malah berbalik menjadi rasa kagum atas sisi lain dari Aremania dengan tidak adanya tulisan coretan grafitty atau vandalisme di bangku ataupun dinding dinding gerbong.

Dari dan berawal di Ngalam lahirnya suporter dan atmosfer sepakbola sejati penuh kreasi atraksi dan punya rasa peduli yang memberi warna dan inspirasi bagi supporter lain. Maka patutnya suara suara dukungan kurang lebih 45.000 Aremania selama 90 menit yang membahana (bahkan mengalahkan suara gerbong gerbong itu sendiri ) di penjuru Stadion Kanjuruhan menjadikan pemain ke 12 yang siap meluluh lantakkan kebesaran tim lawan siapapun yang datang.Menjadikan nafas baru menjadikan darah biru menjadikan auman seru sang singoedan. Yang tidak hanya tertinggal pada stasiun stasiun kekalahan tapi akan selalu terbawa oleh gerbong gerbong kemenangan dan kejayaan.

Selagi partai kandang belum dimainkan sepatutnya sedikit uang ditabungkan. Ketika partai tandang di mulakan sepatutnya kursi kursi stadion Kanjuruhan di penuhkan.Saat peluit pertandingan telah di tiupkan sepatutnya applaus panjang dan nyanyian dukungan di bahanakan.Sewaktu pertandingan dilakukan singa singa pantang menyerah atau angkat tangan laksana pejuang di medan perang yang yakin dapat dimenangkan.

Aremania adalah generator atau motor penggerak roda dan lokomotif yang sudah teruji dengan satu jiwanya membawa begitu banyak pribadi pribadi yang ber loyalitas tanpa batas di dalamnya mengiringi dan mengantarkan Arema meraih kejayaan.

Bila nawak-nawak karena suatu keadaan dan kondisi jadikan gerbong ini sebagai catatan nilai nilai lebih dan sisi positif Aremania dan sebagai pengingat bahwa di Ngalam hanya ada satu tim sepakbola AREMA yang patut kita jaga keberadaannya dengan kepedulian nyata kita. (pur/arsen.com*)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

You may also like...

Leave a Reply