Journey to Bhumi Arema

Ditulis oleh Andreas Lucky Lukwira dari Tribun Aremania

Tanggal 11 Oktober lalu adalah pertandingan pertama Arema di ISL 2009/2010. Sebagai Aremania, momen seperti ini merupakan saat-saat yang sulit untuk dilupakan. Bersama sam Militan, yang juga tidak mudik lebaran, saya merencanakan untuk berangkat dan nonton bareng ke Malang.

Sebenarnya ada beberapa teman Aremania di Jakarta yang juga berniat mudik bareng. Namun terkait dengan pekerjaan mereka masing-masing, maka niat kami untuk mudik bareng batal.

Sam Beny, sam Santo dan sam Dino terpaksa berangkat terpisah karena baru bisa keluar kantor sore, lain dengan sam Militan yang shift malam sehingga bisa berangkat siang atau saya yang masih pengangguran sehingga bisa naik Matarmaja yang berangkat pukul 14:00 dari stasiun Senen.

Jumat 9 Oktober 2009

Sebelumnya ayas belum pernah bertemu dengan sam Militan, kami hanya berkenalan di dunia maya (facebook). Namun satunya jiwa sebagai Aremania membuat segalanya lain. Sam Militan yang naik dari stasiun Senen Jakarta Pusat membelikan tiket pula untuk saya yang baru bisa naik dari stasiun Jatinegara Jakarta Timur. Tidak ada kecurigaan tiket tidak akan saya pakai, semua karena satu persamaan yaitu sebagai Aremania.

Sedikit terlambat kami meninggalkan Jatinegara. Waktu berangkat yang akhir pekan (Jumat, 9 Oktober 2009) yang bertepatan dengan akhir pekan menyebabkan kereta yang kami naiki penuh sesak. Semakin ke timur semakin sesak. Namun kesesakan ini merupakan tantangan tersendiri naik kereta ekonomi.

Belum satu jam kereta berjalan, ayas mendapat telepon dari HRD ANTV. Saya dipanggil untuk tes rekruitmen keesokan harinya (sabtu 10 Oktober 2009). Sebuah pilihan sulit untuk ayas yang belum dapat pekerjaan setelah lulus kuliah. Namun berbekal doa dan kecintaan akan Arema, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Malang meskipun kesempatan kembali ke Jakarta sangat besar mengingat posisi Kereta masih di wilayah Karawang.

KA. Matarmaja

Selepas Cirebon, kereta makin sesak. Begitupun selepas Semarang yang biasanya semakin lowong. Tapi kesesakan tersebut sedikit terobati dengan cepatnya KA berjalan. Pukul 1930 KA sudah di Tegal, 22:00 di Semarang, pukul 02:30 masuk Madiun. Di Madiun kami bertemu dengan 3 orang Aremania usia remaja yang hendak menyambut Jakmania, meskipun sebenarnya Jak baru berangkat keesokan harinya. Kereta baru mulai lowong di Blitar, rekor baru bagi ayas dimana sebelumnya merasakan kesesakan terjauh hanya sampai Tulungagung.

Sekitar pukul 08:00 Matarmaja yang kami naiki sampai di Malang Kotabaru. Di perempatan Blimbing saya dan sam Militan bersama sam Gundul berpisah, menuju rumah masing-masing untuk beristirahat dan bertemu kembali esok dengan semangat Aremania.

Kota Malang bagi saya selalu nyaman untuk dinikmati dimana selalu saja ada cerita dan semangat baru untuk saya bawa ke Jakarta yang sumpek. Sore hari saya menyempatkan menonton ongis licek Arema U-16 berlatih di Armed Singosari. Menonton kida ayas main atau berlatih juga merupakan hiburan tersendiri untuk saya.

Minggu 11 Oktober 2009

Pagi itu ayas bangun dengan semangat Aremania. Saya sempatkan pula untuk mengikuti misa di gereja Albertus Blimbing. Ayas bernostalgia dimana di tempat itu ayas bersama almarhum ebes sering mengikuti misa dulu. Selain itu tidak lupa ayas jadikan kemenangan Arema sore itu sebagai intensi doa ayas. Setelah mendapat bekal spiritual, ayas bersama kida ayas dan nawak-nawaknya (4 orang) konvoi dari Mendit, Sawojajar, Kedungkandang, lewat eks-jembatan lori tebu (ayas ga itreng nama tempatnya), Kendalpayak, hingga masuk Kanjuruhan dari belakang(bukan dari Kepanjen).

Di Kanjuruhan ayas kembali terkumpul dengan kawan-kawan di Jakarta. Bersama sam Militan, sam Gundul, sam Purwantoro, sam Dino dan sam Santo yang menyusul dari Jakarta. Kanjuruhan sore itu menyuguhkan pemandangan yang luar biasa. Stadion penuh dengan Aremania dan tamunya, the Jakmania. Dan para pemain Arema sore itu seakan membalas dukungan Aremania dengan permainan yang cukup bagus.

Kami pulang dengan senyum mengembang. Dengan bersusah payah saya dan adik baru bisa lepas dari Kepanjen setelah satu jam menembus kemacetan yang diakibatkan sempitnya jalan sehingga tidak bisa menampung Aremania. Satu PR tersendiri bagi Pemkab Malang untuk dapat menyediakan infrastruktur jalan yang layak bagi Kanjuruhan yang bisa disebut sebagai salah satu objek vital di Malang. Setelah jajan nasi mawut (tidak ada di Jakarta) dan mentransfer hasil jepretan Kanjuruhan di Sawojajar. Saya beserta adik (kawan-kawannya sudah terpencar sejak kemacetan di Kepanjen) sampai kembali di Mendit sekitar pukul 21:00.

Senin 12 Oktober 2009

Sekitar pukul 12:00 saya ke stasiun Kotabaru Malang untuk mencari tiket pulang ke Jakarta. Saya wajib berada di Jakarta secepatnya untuk berjaga akan panggilan interview/tes pekerjaan lagi. Namun tiket Matarmaja hari itu sudah habis. Aremania wajib kreatif. Ayas coba hubungi teman Jakmania, supaya bisa naik di gerbong mereka. Dan Korwil Jakmania Pondok Gede (Bang Andi) yang juga bendahara tour Malang, memberikan saya tempat bersama Jakmania Pondok Gede (6 orang) yang pulang hari itu. Saya tidak perlu membeli tiket, cukup menjaga dan memberikan makan anak buahnya (oges lecep di Blitar Rp 3000×6 orang=18000).

Pukul 14:00 ayas meninggalkan Mendit menuju stasiun diantar adik yang 1 tahun belakangan tinggal di Malang mengejar cita-citanya bersama Akademi Arema. Kembali saya merasakan beratnya momen perpisahan di stasiun Kotabaru. Diiring nyanyian “terimakasih, Aremania”, saya melambaikan tangan terhadap adik saya. Lambaian tangan yang ditujukan pula kepada kota Malang.

Berada 1 gerbong dengan Jakmania tidak membuat saya asing. Lahir dan besar di Jakarta membuat saya lebih berlogat Jakarta dibanding Malang, meski (entah mengapa) jiwa untuk Arema. Bang Andi turun di Kepanjen untuk kembali mengurusi Jakmania yang lanjut di Malang. Dia sempat berpesan untuk berhati-hati selepas Cirebon, karena pada saat berangkat mereka sempat diserang Viking di Subang. Matarmaja kali ini berbeda dengan saat berangkat. Selepas Semarang kereta kami sangat lambat. Bahkan kami baru sampai Tegal pukul 07:00 (normalnya,04:30). Masuk Cirebon pukul 08:00 (Cirebon-Jakarta 4 jam, perkiraan sampai 12:00).

Di Cirebon, saat kereta berhenti, saya sempat bertemu dengan Aremania di gerbong lain. Saya informasikan untuk berhati-hati dan menutup jendela karena ada kemungkinan diserang Viking. Meninggalkan Cirebon suasana cukup mencekam. Semua di 3 gerbong Jakmania bersiaga, spanduk dibentangkan untuk menutupi jendela dari dalam supaya tidak ada batu masuk jika terjadi kaca pecah, tas-tas pun ditaruh di jendela untuk menahan masuknya batu.

Sekitar Pagaden (biasanya KA berhenti), KA berjalan kencang. Dan benar, saat itu pula terdengar suara lemparan dari luar kereta. Anak kecil yang ada rombongan diungiskan ke atas tempat barang, Jak angel yang ikut rombongan kami berlindung di bawah kursi, sementara beberapa Jakmania mencoba membalas dari dalam kereta. Ayas sendiri (masih dengan atribut Aremania), karena merasa tidak punya masalah dengan Viking hanya diam dan berlindung. Sekitar 1 menit sebelum lemparan-lemparan tersebut berhenti. Kereta terus melaju. Jakmania masih berjaga karena ada informasi di Cikampek juga sudah ditunggu serangan Viking. Susasana tetap mencekam.

Sebagai orang yang sering naik Matarmaja, saya mengetahui bahwa setelah stasiun Tanjungrasa adalah stasiun Cikampek. Hal ini saya informasikan kepada ketua rombongan (Bang Sobari). Informasi ini kemudian dilanjutkan ke anak-anak Jakmania lain. Dan benar, kami kembali diserang sebelum masuk Cikampek. Kali ini lebih banyak Viking (tidak beratribut) yang menyerang. Tiba-tiba KA berhenti di stasiun Cikampek. Di situ saya melihat adegan film Romeo Juliet nya Ucup, dimana ada teriakan “Persija sampai mati!!!!!!” lalu mereka turun dari kereta dan mengejar oknum Viking yang menyerang kami. Makin tegang karena tiba-tiba KA berjalan, sehingga teman-teman Jakmania yang di luar kereta mengejar oknum Viking berbalik arah mengejar kereta. Beruntung mereka semua terbawa kereta.

Hasil inventarisir Jakmania, 7 anggota rombongan luka-luka (termasuk 1 Aremania Jakarta yang saying ayas tidak berhasil mendapat namanya). Meski begitu, luka-luka yang didapat tidak begitu parah. Pukul 12:30 setelah melewati total 20,5 jam dari Mendit, serta 2 kali diserang oknum Viking kami sampai juga di stasiun Senen.

Sebuah perjalanan yang penuh cerita bagi saya. Mulai perkenalan dengan sam Militan, melepaskan peluang kerja, hingga diserang Viking. Sangat seru untuk tidak diceritakan kepada teman-teman Aremania dan juga Jakmania. Dan semuanya disempurnakan dengan kemenangan serta permainan indah Arema saat melawan Persija.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

ArSen

AreMa Senayan

You may also like...

8 Responses

  1. Arsen says:

    kipa ilakes

    VN:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VN:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. kacroep says:

    oyi wes

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. lembhoe_14 says:

    ajib…
    sangar ker….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. ExO ARSEN-11 says:

    woooww…genok woro2 ne rek….kipa ilakes 😛

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    • Eka Arsen38 says:

      lek ono kata2 genok ngene iki… mesti sing nulis pemuja setan teko ndalegi….. hehehheheh……. 👿 😈

      VN:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VN:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Andremania Arsen 18 says:

    huahahaha, muncul tah ndek kene???

    kipa lakes iki, sopo sing nulis???

    hahahaha

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. elek_hina says:

    mbois kang……

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply