Sepak Bola Kultur Keledai

KOMPAS. Kamis, 10 Desember 2009 | 02:46 WIB
Anton Sanjoyo

Saat Komite Olimpiade Internasional atau IOC membuat aturan pembatasan usia cabang sepak bola pada ajang multicabang (multievent), pembina sepak bola di Indonesia pasti tahu maknanya. Namun, saya yakin, mereka tidak tahu esensi dari perintah IOC yang usianya lebih dari satu dasawarsa itu. Dalam filosofi IOC yang tertuang pada piagam ”Gerakan Olimpiade”, pembinaan usia dini merupakan salah satu pilar pembangunan olahraga.

Dalam Kongres XIII di Kopenhagen, Denmark, Oktober lalu, Presiden IOC Jacques Rogge sekali lagi mengingatkan tentang betapa krusialnya pembinaan atlet sejak usia muda. ”Kongres IOC Ke-13 ini akan selalu dikenang sebagai kongres bagi pembinaan atlet usia muda. Gerakan Olimpiade akan memberikan arah yang jelas tentang bagaimana cara melayani atlet-atlet muda,” ujar Rogge.

Memang, IOC tidak memberikan petunjuk pelaksanaan bagaimana detail membina atlet usia muda. Dalam ajang olimpiade, misalnya, tim sepak bola harus diisi pemain-pemain yang usianya belum mencapai 23 tahun (U-23). Esensi dari peraturan ini adalah setiap negara harus membina pemain usia dini, menggelar kompetisi reguler bahkan sejak usia anak-anak, agar terseleksi sejumlah pemain andal yang siap berlaga di olimpiade.

Supporter Indonesia di GBK

Supporter Indonesia di GBK

Jauh sebelum IOC mengeluarkan syarat U-23 di olimpiade, badan sepak bola dunia FIFA dan Eropa (UEFA) sudah lebih dahulu menerjemahkan pembinaan usia muda dengan menggelar kompetisi U-17, U-21, dan U-23. Pemain-pemain bintang yang kemudian menjadi legenda bagi negaranya, mulai dari Diego Armando Maradona, Zinedine Zidane, Thierry Henry, hingga Lionel Messi, lahir dari kompetisi usia muda. Mereka tidak begitu saja muncul sebagai bintang, tetapi jatuh bangun dari tingkat anak-anak, remaja, sampai memetik buah perjuangan dengan terseleksi mewakili negaranya.

Sangat jelas, negara-negara utama sepak bola dunia, seperti Brasil, Argentina, Italia, Inggris, Belanda, Jerman, dan Spanyol, punya kultur kerja keras dalam membina sepak bola. Mereka praktis tidak mengenal kata ”instan” untuk menghasilkan tim nasional yang tangguh. Kompetisi sebagai mesin utama dan satu-satunya untuk menghasilkan produk pemain andal dijadikan pilar.

Kultur kerja keras itu sulit dicari di Indonesia. Pembina sepak bola di negeri ini lebih suka mencari jalan pintas. Mengirim sejumlah pemain, biasanya ke luar negeri, untuk berlatih. Bakat-bakat muda itu memang biasanya dikirim ke negara yang kuat tradisi sepak bolanya semisal Italia, Belanda, atau Uruguay. Namun, tradisi sepak bola di suatu negara, betapapun hebatnya negara itu, tak bisa di-copy paste begitu saja. Bahkan, orang paling tidak terpelajar sekalipun pasti tahu penyebabnya. Negara-negara itu punya tradisi kompetisi usia muda yang sangat kokoh. Sementara itu, sekumpulan anak muda Indonesia yang menimba ilmu di sana praktis tanpa modal kematangan berkompetisi. Mereka barangkali tak sekadar berlatih, tetapi juga ikut berkompetisi. Namun, sekali lagi, bekal dan kematangan berkompetisi anak-anak muda Indonesia ini jauh dari cukup.

Jika Italia, Belanda, dan Uruguay, atau negara-negara yang kuat tradisi sepak bolanya menganut kultur kerja keras dan kompetisi, Indonesia kemungkinan besar menganut kultur keledai. Sebab, hanya keledai yang bisa jatuh di lubang yang sama sampai dua kali. Nyatanya, serangkaian kegagalan pengiriman bakat-bakat muda ke luar negeri tak membuat pembina sepak bola di Indonesia terbuka wawasannya. Entah mengapa—barangkali memang proyek pengiriman ini jauh lebih simpel dan instan—program-program semacam ini diulang lagi dan lagi.

Pembina sepak bola di Indonesia benar-benar tidak pernah belajar dari pengalaman pahit. Mereka punya dalih, pokoknya sudah mengerjakan sesuatu bagi pembinaan usia muda. Dalam pikiran mereka barangkali ada dalil, membuat kompetisi usia muda adalah pekerjaan besar, sulit, dan butuh perjuangan ekstra para pengurusnya dan tidak populer. Untuk apa membuat yang sulit, kirim saja ke luar negeri. Beres, mudah, instan, dan ada uang proyeknya.

Hari ini, tim U-23 Indonesia yang berlatih di Uruguay mencoba membuat keajaiban lolos dari babak penyisihan di SEA Games Laos. Boaz Solossa dan kawan-kawan akan berjuang melawan Myanmar. Sebelumnya, pasukan ”Merah-Putih”, yang menjelang SEA Games Laos ramai dipromosikan para petinggi PSSI bisa meraih emas, atau sekurangnya melaju ke final, menahan imbang Singapura dan kalah dari tuan rumah Laos yang lima tahun lalu menyepak bola saja belum becus.

Kalaupun Indonesia mampu menggebuk Myanmar, nasibnya masih akan ditentukan oleh laga lain antara Singapura dan Laos. Jika laga itu berakhir imbang, Indonesia yang dilatih trio Uruguay, Alberto Bica, Gabriem Anom, dan Francisco Morales, itu harus angkat koper.

Apa pun bisa terjadi dalam sepak bola, termasuk keajaiban Indonesia lolos. Namun, barangkali inilah momentum yang paling pas bagi PSSI untuk berkaca diri. Serangkaian kekalahan Boaz cs bahkan sejak masa uji coba seharusnya menjadi bahan evaluasi. Namun, alih-alih mawas diri, PSSI malah sudah membuat keputusan untuk meneruskan proyek crash program berlatih di Uruguay.

PSSI barangkali tidak mau pusing membuat program yang lebih konstruktif bagi bakat-bakat muda itu. Barangkali para petinggi di Senayan sana sedang berkonsentrasi penuh untuk mewujudkan mimpi jadi tuan rumah Piala Dunia 2022 meskipun pada saat bersamaan, tak satu pun petinggi PSSI datang ke Cape Town untuk presentasi.

Mau ke mana sepak bola Indonesia?

trims sam Aries Ngundab

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

ArSen

AreMa Senayan

You may also like...

6 Responses

  1. Arsen-11 says:

    bukan hanya Instant tapi bener tak terpola pembinaan sepak bola..Mentalitas n semangat bersepak bola harus diperjelas…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Arsen26 says:

    Tanamkan Jiwa Cinta Tanah Air
    [ Mulai dari Hal-hal yang kecil yg bisa Kita Lakukan ]

    Hentikan dan hilangkan Kebiasaan Korupsi/atau memakan yang bukan haknya

    Pembinaan dan Itikad Baik & jalankan Program
    Evaluasi Hasil dan Lakukan Perbaikan ke arah yang Positif

    Jangan Pesimis dengan Negara Kita Sendiri

    Tanamkan Bahwa Indonesia Adalah Negara Terbaik

    INDONESIA Menuju Tuan Rumah Piala Dunia 2022

    INDONESIA BISA…!!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Pak Dhe Arsen says:

    smakin mau bermawas diri dari segala aspek smakin maju sepakbola itu sendiri…nggak ada politik dan intrik

    VN:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VN:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Falih Moreplay says:

    Sepak bola Indonesia, kalo ingin maju, bubarkan klub-2 yang di danai dan di urus oleh pemerintah daerah atau kalo gak, para birokrat-2 itu keluar dari kepengurusan suatu klub. Biarkan klub-2 itu profesional mencari hidup sendiri. Terus gulirkan liga sejak usia dini, benahi dan didik wasit, pelatih usia muda, dengan pengetahuan-2 yg terkini. Kerusuhan supporter harus di tindak lebih tegas, tegas,tegas dan tegas lagi. Hukum se berat-2 nya para perusuh, agar para investor aman menanamkan modal pada klub-2 itu…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Yui says:

    hmmm,, ganti semua pengurus PSSI cari yang bener tahu tentang dunia kulit bundar,, jangan salah pilih yang akhirnya semakin memperburuk prestasii….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  1. 25 February 2011

    […] This post was mentioned on Twitter by Abdullah Hariri, Arema Senayan. Arema Senayan said: Sepak Bola Kultur Keledai http://t.co/4vBMB4v via @aremasenayan […]

Leave a Reply