Ada Degradasi di Tengah Dinamisnya Kota Malang

Terminal Bus Arjosari, Malang

Oleh :Hanum Oktavia Rosyidah
MALANG – Kota Malang, seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota yang dijuluki Paris van java ini tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Hindia Belanda. Segala macam fasilitas umum yang ada di dalamnya, di rencanakan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan keluarga Belanda.
Sehingga, kesan diskriminatif pada beberapa tempat masih berbekas hingga sekarang. Misal, lokasi Ijen Boullevard dan kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga asal Belanda dan bangsa Eropa lainya, sementara penduduk Pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai.
Kita bisa melihat bagaimana kehidupan masyarakat Malang yang tinggal di pinggiran kota , masih cukup memprihatinkan melihat Kota Malang yang telah diposisikan menjadi sebuah kota dinamis yang terus bergerak maju. Sementara kawasan perumahan elit peninggalan Hindia belanda itu sekarang bagai monumen yang masih menyimpan misteri dan seringkali mengundang keluarga Belanda yang pernah bermukim disana untuk bernostalgia.
Di usinya yang kini menginjak 96 tahun, ruh perubahan bergerak secara dinamis dan mampu menempatkan Kota Malang sebagai salah satu episentrum bagi pergerakan pembangunan secara regional,nasional, bahkan internasional. Dengan begitu, tak berlebihan jika Kota Malang merupakan salah satu barometer kota yang mandiri.
Namun di balik dinamisnya perkembangan kota, bukan berarti tak menghadapi masalah. Misalnya saja mulai beroperasinya kereta api di Kota Malang sejak tahun 1879. Pada masa itu, perkembangan Kota Malang maju dengan pesatnya. Dengan begitu, berbagai kebutuhan masyarakatpun juga semakin meningkat terutama ruang gerak yang semakin berkembang terkait dengan semakin canggihnya sistem transportasi.
Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa kendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.
Sejalan dengan perkembangam tersebut, urbanisasi terus berlangsung menyebabkan kebutuhan masyarakat akan perumahan meningkat diluar kemampuan pemerintah kota. Sementara tingkat ekonomi para urbanis sangat terbatas, yang kemudian akan berakibat timbulnya perumahan-perumahan liar yang pada umumnya berkembang disekitar daerah perdagangan, di sepanjang jalur hujau, sekitar sungai, rel kereta api dan lahan-lahan yang dianggap tidak bertuan termasuk daerah pinggiran kota tadi.
Seperti kita ketahui, penduduk Kota Malang mencapai 830 ribu jiwa. Para urbanis yang masuk ke Kota Malang setiap tahunnya kira-kira mencapai 22 ribu orang. Mereka bisa terdiri dari pelajar, mahasiswa, pencari kerja, dan sebagainya.
Mereka yang ekonominya rendah, akhirnya membuat perkampungan kumuh yang menyebabkan degradasi kualitas lingkungan hidup. Hal tersebut tentunya menjadi masalah baru yang perlu diselesaikan di tengah semakin pesatnya perkembangan Kota Malang menginjak usia ke 96. (bersambung) num

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

ArSen

AreMa Senayan

You may also like...

Leave a Reply