Kami ada saat mereka tak ada

photo bu bola.okezone.com

Prestasi team nasional Indonesia yang mencapai semifinal dan tetap menang hingga semifinal leg 1, ditambah dengan hadirnya bintang naturalisasi berawajah imut, serta pemberitaan media yang begitu luar biasa dari pagi hingga pagi lagi, dari acara olah raga hingga infotainment membuat antusisasme masyarakat Indonesia baik yang berasal dari Jakarta maupun yang berdatangan dari daerah-daerah.

Jika kita menengok jejak Tim Nasional dibawah pssi asuhan nurdin halid dkk, sebelum kemenangan beruntun saat ini, tidak satupun prestasi yang diraih. Kekalahan demi kekalahan datang terus menerus, di tengah kekalahan-kekalahan tersebut, kami semua para masyarakat bola tanah air, tak pernah lelah mendukung Laskar Garuda dibawah komando sang Kapten Bambang Pamungkas.

Pada saat itu, jangankan penuh, terisi setengah stadion saja panitia pelaksana sudah harus sangat bersyukur. Itupun dilakukan dengan berbagai upaya dan pendekatan kepada para masyarakat bola melalui komunitas-komunitas dan kelompok suporter yang ada dalam melakukan penjualan tiket, bahkan hingga memberikan harga diskon. Dulu, segala atribut kebesaran Timnas dan Team peserta ISL diberikan tempat seluas-luasnya untuk berekspresi dan berapresiasi di altar suci sepakbola Indonesia (SU GBK).

Namun, ketika baru setitik prestasi mulai diraih. Beberapa kemenangan mulai berpihak kepada Laskar Garuda, serta ekspose besar-besaran oleh berbagai media hingga membuat Alfred Riedl (pelatih Team Nasional Indonesia) gerah, masyarakat sepakbola seolah-olah dilupakan. Kami semua dianggap seolah-olah tidak pernah ada, apresiasi dan ekspresi yang diwujudkan dalam bentuk spanduk dan bendera amat sangat dibatasi. Hanya spanduk-spanduk tertentu yang berasal dari orang-orang tertentu saja yang menodai kesucian Altar Suci Sepak Bola Indonesia, bahkan untuk berusaha membawa masuk bendera saja kami harus berdebat panjang dengan yang terhormat anggota ExCo pssi bapak Togar M Nero.

Belum lagi jika kita melihat kesiapan panitia pelaksana untuk menggelar laga internasional ini. Jika kita bandingkan dengan FIFA Club World Cup 2010 (dulu Piala Toyota) dimana penjualan tiket sudah bisa dilakukan secara online dan setelah melakukan pemesanan dan transaksi secara online, panitia mengirimkan email berisi attachment tiket pertandingan hal ini menjadi alternatif untuk mengurangi antrian di loket. Namun panpel kita yang sempat mencalonkan diri menjadi tuan rumah piala dunia 2010 seolah-olah tutup mata dengan teknologi ini (disaat Indonesia masuk dalam 5 besar pengguna internet di dunia).

Mereka justru seolah-olah menunjukkan antusiasme masyarakat dengan panjangnya antrian di loket-loket di sekitar SU GBK. Terlebih lagi dengan ketentuan baru pembatasan pembelian tiket leg 2 masing-masing pengantri hanya dibatasi maksimal membeli 5 tiket, sehingga menyebabkan antrian diloket semakin panjang dan menuntut para pengantri untuk sabar berjam-jam berdiri dibawah terik dan hujan. Padahal, jika panpel yang berada dibawah naungan pssi asuhan nurdin halid mau sedikit melek teknologi, jutaan pengguna internet di Indonesia dapat memanfaatkan sistem online, atau setidaknya dengan bekerja sama dengan komunitas suporter yang ada, akan dapat memperingan tugas petugas loket, dan mengirit biaya pembelian kwitansi.

Mereka seolah-olah lupa, bahwa kami, masyarakat sepakbola tidak pernah minta jatah tiket secara gratis, kami membeli tiket dan bahkan kami tidak minta diskon. Mereka seolah-olah lupa, bahwa ketika prestasi team nasional masih berada di kolong tempat tidur mereka masih belum berada di alam mimpi mereka, kami selalu hadir bersorak-sorak penuh semangat mendukung Team Nasional yang tidak pernah menang. Yang mereka pikirkan hanya keuntungan, keuntungan, keuntungan, keuntungan dankeuntungan. Selamat Tidur dan Selamat menikmati keuntungan anda Bang Napi. (lek)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Paklek Uning

host cindai. wkakakakaka....

You may also like...

8 Responses

  1. Devi says:

    ngenes…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    • paklek_uning says:

      ngenes dan lemes…

      VN:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VN:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Ferdy says:

    turunkan nurdin sekarang juga..

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. dent says:

    kepanasan kerrr ..

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. zhar says:

    itulah indonesia….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. farid says:

    yang lebih ngenes lagi bahwa setitik prestasi timnas kali ini diklaim berkat kerja kerasnya ketua umum PSSI,bahkan beliau mengatakan para penonton/masyarakat/insan bola yg meneriaki “Nurdin mundur” ia anggap orang2 yg tertutup hatinya,kenapa saat timnas jeblok ia gak berani ngakui ketidak becusan dlm memimpin?BENAR2 KETUA UMUM YANG TERTUTUP HATINYA!SALAM SATU JIWA,JAYALAH GARUDAKU SINGKIRKAN KUTU2 DISAYAPMU!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. taringi-11 says:

    Hidup NURDin BanGSat…secuil prestasi didalam perjalanan panjang keterpurukan menjadi kebanggaan Masyarakat Bola yg disaat Timnas terpuruk menjadi tempat sandaran dukungan utk PSsI dan skrg saat Timnnas berbintang PssI tidak mengenal komunitas bola…PssI hanya peduli keuntungan dan Keuntungan…PSsI skrg dg sgala kepongahannya dan carut marut distribusi Tiket tetap BANGGA berkata INI hasil kerja keras kami…..mantap nian kau PsSi..! Salam satu jiwa

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. begitu gelegar sayap garuda mulai mengibas lebar….nurdin pun tersenyum riang, seakan ia berjasa paling tinggi di antah berantah PSSI.seakan menunjukan taji nya “nih Gua…” tapi nurdin tetaplah nurdin….obyektifitas tidak akan pernah lekang dengan ribuan sikap, senyum , dan sok jago mu nurdin….kami bukan lagi suporter bodoh, bukan lagi suporter edan….tapi kami adalah tombak yang siap menusuk dada mu….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply