Ketika Potongan Kue Tidak Dibagi. (Kritik Pelaksanaan Piala AFF di Indonesia)

Kekacauan yang terjadi saat antri tiket final AFF leg 2, lihat apa yang dilakukan petugas bersafari hitam di belakang (foto by Agung Ardana)

Suatu hal yang sangat memprihatinkan ketika melihat dan mengalami langsung bagaimana semrawutnya pengelolaan penyelenggaraan Piala AFF di Indonesia. Sebagai salah satu tuan rumah bersama piala AFF, pssi menggelar laga penyisihan group A bersama dengan Vietnam yang menggelar laga penyisihan group B.

Prestasi Team Nasional yang sedang melonjak dan kehadiran beberapa bintang baru hasil Naturalisasi meningkatkan animo masyarakat untuk menyaksikan dari dekat kiprah Laskar Garuda di ajang piala AFF. Akumulasi massa yang luar biasa saat pembelian tiket menguji profesionalitas LOC (Local Official Committe).

Keuntungan yang luar biasa dari penjualan tiket yang harganya benar-benar menguras kantong seharusnya memberikan ruang seluas-luasnya untuk melaksanakan gelaran Piala AFF secara profesional. Namun jika kita melihat dan mengikuti alur yang ada, yang terjadi sungguh memprihatinkan.

Alur pembelian tiket yang berbelit-belit dimulai dengan antrian panjang ribuan orang untuk mendapatkan nomor kupon antrian. Dari sini, terjadi akumulasi massa pertama yang memiliki potensi terjadinya kerusuhan. Logikanya, ketika terjadi penumpukan massa, maka dibutuhkan tangan-tangan yang terlatih dalam mengendalikan massa agar massa yang mengumpul bisa di atur secara tertib. Hal ini akan mencegah terjadinya Chaos. Namun jika kita melihat kondisi dilapangan, yang terjadi sangat bertolak belakang.

Hal tersebut kami rasakan sendiri ketika kami mengantri tiket untuk pertandingan Final Piala AFF Leg 2 yang sedianya digelar di Jakarta. Sejak malam satu hari jelang loket dibuka, antrian di depan seluruh loket sudah terkumpul banyak orang. Tanpa dibantu oleh satu orangpun dari pihak LOC maupun petugas keamanan (baca : polisi), kami selaku pengantri bersama dengan beberapa rekan yang lain berusaha keras untuk menertibkan massa agar antrian bisa berlangsung dengan tertib. Mulai malam hari jelang loket dibuka, antrian sudah tertata rapi menjadi 3 baris memanjang kebelakang.

Melewati tengah malam dan semakin mendekati pagi, jumlah pengantri semakin bertambah dan mencapai puncaknya pada pagi hari ketika jumlah massa semakin bertambah dan yang datang belakangan memiliki kekhawatiran tidak mendapatkan tiket, hal ini menimbulkan kekacauan yang luar biasa. Kerja keras dan kesabaran pengantri yang bertahan sejak malam hari sebelumnya menjadi sia-sia, demikian pula dengan kerja keras bersama-sama para pengantri dalam menertibkan antrian berbuah kekacauan yang diakibatkan kepentingan beberapa pihak saja di campur dengan tidak profesionalnya panitia pelaksana.

Adanya penginap di loket penyedia pertandingan piala AFF sebenarnya tidak pada pertandingan final saja, akan tetapi juga sudah ada pada saat pertandingan sebelumnya. Namun hal ini sama sekali tidak diantisipasi oleh pihak panitia dengan menyediakan pengamanan yang ada maupun bekerja sama dengan pihak Keamanan.

Dalam melaksanakan event sebesar itu, yang melibatkan massa dalam jumlah besar, tentunya di butuhkan bukan hanya sebatas kemauan saja, akan tetapi juga kemampuan dan profesionalitas yang tinggi. Segala pihak yang dapat mendukung suksesnya kegiatan tersebut harus di libatkan semaksimal mungkin. Hal ini tentunya akan mengurangi jatah keuntungan pssi selaku penyelenggara, akan tetapi jika berorientasi pada suksesnya acara yang akan digelar, dan bukan pada keuntungan saja, tidak akan terjadi adanya korban meninggal, luka-luka, dan kelelahan.

Apabila memang pihak pssi masih minim pengalaman dalam melaksanakan event sebesar itu, Event Organizer yang sudah berpengalaman bisa diundang untuk mengikuti tender pelaksanaan kegiatan tersebut. Hal ini tentunya jika pssi mau berbagi kue. (lek).

NB. Singkatan pssi di tulis dalam huruf kecil adalah unsur kesengajaan.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Paklek Uning

host cindai. wkakakakaka....

You may also like...

3 Responses

  1. taringi-11 says:

    Profesional adalah kata yg sangat dibenci pssi,salah satu bukti adalah layanan tiket piala AFF yg sangat amburadul…kenapa tidak memakai EO atau distribusi tiket bs dilakukan dgn menggandeng komunitas supoorter,memperbanyak loket dan dilakukan penyebaran…tapi krn Profesionalitas adalah kata yg sangat dibenci pssi inilah hasilnya…kita hanya bs berharap kedepan kita semua bs lebih PROFESIONAL terutama utk orang2 pssi

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Budi Arsono says:

    Dari semenjak semifinal, sudah banyak yang mengkritik soal pendistribusian dan penjualan tiket AFF,ternyata untuk Final tidak ada perubahan malahan makin semrawut.rasanya untuk event sebesar ini jangan lagi di pegang PSSI yang GMB ( Gak main Blass), serahkan saja ke fihak lainnya seperti Event Organizer

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Rian says:

    Piala AFF menjadi ajang kebangkitan sepak bola INDONESIA. Skill individu yang mumpuni ditambah naturalisasi menjadi kesatuan yang luar biasa. Pelatih Alfred juga punya visi yang sangat baik. JAYALAH persepakbolaan INDONESIA

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply