Pertandingan di Luar Lapangan Final Piala AFF 2010

Lonceng natal belum juga usai berbunyi pada sore itu, 25 Desember 2010 belasan nawak-nawak Arema Senayan sudah mulai mendirikan tenda dan bergabung dengan ratusan pengantre lainnya untuk berjuang mendapatkan tiket Final Leg 2 Piala AFF 2010 yang sedianya baru akan mulai di jual keesokan harinya pukul 10.00 WIB. Tingginya antusiasme masyarakat untuk menyaksikan perjuangan laskar Garuda meraih mimpi membuat barisan pengantre semakin panjang, dan lama. Bukan hanya sejak subuh, akan tetapi sejak sore hari sebelum loket dibuka, berbondong-bondong suporter Timnas Garuda berusaha untuk datang lebih awal dan mendapatkan posisi paling di depan. Seolah-olah turut merasakan perjuangan para pemain yang bertempur diatas lapangan hijau, untuk mendapatkan tiketpun, suporter rela mengantri puluhan jam lamanya.

Semakin malam, jumlah pengantre pun semakin bertambah, termasuk nawak-nawak Arema Senayan yang menyusul ke lokasi setelah menyelesaikan segala aktifitasnya. Bersama-sama dengan pengantre yang datang sejak awal, nawak-nawak mengatur barisan menjadi 3 baris kebelakang, hal ini dilakukan bersama dengan penuh kesadaran untuk memudahkan semua pihak mendapatkan tiket. Semakin malam, barisan semakin panjang, dan menjelang tengah malam, barisan telah mencapai pintu gerbang luar loket depan Masjid Al Bina. Hingga saat itu, diperkirakan massa yang mengantre sudah mencapai hampir seribu orang, tidak satupun pihak LOC maupun keamanan yang berada dilokasi. Hal ini tentunya menimbulkan kerawanan tersendiri. Untungnya semua pihak menyadari bahwa ada kepentingan bersama yang diperjuangkan bersama, hal ini membuat segala situasi dan kondisi menjadi tetap terjaga dan kondusif.

Melakukan perjuangan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang sama membuat rasa persaudaraan antar pengantre terjalin semakin erat. Saling menolong memenuhi kebutuhan seperti foto kopi KTP, hingga saling menghibur dengan menyanyikan lagu secara bergantian dan sahut menyahut antar kelompok suporter yang ada (di lokasi bersama-sama ada Aremania, The Jakmania, Boromania, dan Spartak Padang) membantu mengusir kejenuhan hingga waktu beranjak pagi dan semakin siang, serta kelompok massa yang datang semakin banyak.

Pagi 26 Desember 2010, massa pengantre semakin banyak dan tidak dapat diidentifikasi lagi mana yang benar-benar suporter, mana yang memiliki niatan lain seperti calo, copet, dan lain-lain. Bertumpuknya massa dengan kepentingan yang berbeda dan adanya kekhawatiran tidak kebagian tiket dari pengantre yang berada di barisan belakang membuat barisan semakin kacau, beberapa kali kerusuhan dan provokasi terjadi, hingga barisan yang ditata rapi dengan susah payah sejak malam sebelumnya menjadi kacau balau. Ditengah kekacauan yang terjadi, sekali lagi, tidak seorangpun komponen LOC ataupun Aparat Keamanan hadir di lokasi. Semakin terik matahari, kekacauan yang terjadi semakin parah, hingga jatuh beberapa korban dan sebagian pengantre yang sudah banyak terkuras energinya karena sudah mengantre sejak malam sebelumnya terpaksa meninggalkan barisan.

Foto By Atux

Foto By Atux

Kekacauan sudah semakin parah ketika beberapa petugas keamanan SUGBK (security) hadir dilapangan. Petugas security yang terbiasa hanya menjaga keamanan tanpa diiringi kemampuan untuk mengendalikan massa tidak mampu mengatasi kekacauan yang terjadi. Dengan terpaksa, nawak-nawak yang hadir lebih dulu dan memahami kondisi dan psikologis massa mengambil alih tugas keamanan untuk mengendalikan massa yang semakin beringas, dan sekaligus mengambil alih tugas mendistribusikan kupon antrian. Berbagai upaya dilakukan, mulai menyanyikan lagu-lagu khas suporter, mendistribusikan air mineral kepada massa yang mulai terlihat dehidrasi, dan lain lain. Semuanya dilakukan secara swadaya dengan tenaga dan biaya sendiri. Massa yang melihat perjuangan besama sejak malam harinya terbukti lebih simpatik kepada nawak-nawak yang berusaha untuk kembali menertibkan antrian dan membagikan kupon antrian. Terlebih ketika nawak-nawak tidak memprioritaskan diri sendiri ataupun kelompoknya sendiri untuk mendapatkan kupon, akan tetapi justru memprioritaskan penyandang cacat, wanita dan pengantre yang datang lebih awal. Bahkan, sebagai kelompok yang mendistribusikan kupon antrian, dari lebih 30 orang nawak-nawak yang turut mengantre tidak semuanya mendapatkan kupon antrian.

Setelah kupon antrian habis terdistribusikan, nawak-nawak meninggalkan kerumunan massa. Hal ini disebabkan massa yang tersisa adalah massa yang baru datang, sehingga jika nawak-nawak bertahan untuk mencoba mengendalikan massa, dikhawatirkan yang akan terjadi justru adalah friksi antar kelompok massa sendiri. Sebagian nawak-nawak yang tidak beruntung mendapatkan kupon memilih beristirahat dan menunggu barang dan kendaraan yang ditinggalkan nawak-nawak lain yang turut mengantre tahap selanjutnya.

Tahapan antrian selanjutnya, adalah menukarkan kupon antrian dengan kwitansi pembayaran. Secara teratur, nawak-nawak membentuk barisan antrian menuju ke Pintu VIII GBK. Tanpa ada niatan egois dan keinginan untuk mendahulukan kepentingan bersama, membuat nawak-nawak justru berada di bagian belakang antrian. Secara sportif dan penuh keikhlasan hal ini dijalani bersama oleh nawak-nawak. Ketidakbecusan dan ketidakprofesionalan panitia pelaksana yang sudah diketahui bersama tidak membuat nawak-nawak memanfaatkan hal ini dengan mengambil jalan pintas memanfaatkan jaringan yang ada untuk mendapatkan tiket. Namun, bersama dengan suporter lain yang tidak hanya berasal dari Jakarta, nawak-nawak tetap mengikuti prosedur yang ada sembari menyampaikan kritik baik melalui personal panitia maupun melalui media massa. Sikap Kritis tidak harus diiringi dengan sikap curang dengan tidak mengikuti mekanisme yang ada.

Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya antrian menukarkan kupon antrian mulai berjalan perlahan. Perlahan namun pasti, terlihat beberapa orang mulai meninggalkan tempat setelah mendapatkan kwitansi bukti pembayaran dan voucher untuk ditukarkan dengan tiket pada keesokan harinya. Sungguh proses yang sangat berbelit-belit, tidak profesional, dan melelahkan. Setengah lebih sedikit antrian berjalan, sekelompok massa yang berada diluar dan sejak beberapa saat sebelumnya mulai membuat kegaduhan mencoba untuk menjebol Pintu VIII GBK. Perlahan-lahan karena di dorong dan di tekan terus menerus, pintu mulai koyak, hingga akhirnya massa berhasil masuk. Melihat massa yang beringas, nawak-nawak menghawatirkan keselematan beberapa orang panitia pelaksana bagian penulisan kwitansi yang notabene tidak memiliki kewenangan apapun dan hampir dipastikan akan menjadi sasaran kemarahan massa.

Bergegas memasuki tempat penulisan kwitansi (toilet) nawak-nawak mematikan lampu, memaksa panitia melepaskan segala atribut panitia dan mengevakuasi dari tempat penulisan dan pembagian kwitansi (toilet). Di tengah kericuhan yang terjadi, seorang nawak slemania (Erwin) yang dititipi sebuah buku kwitansi dengan gemetar menitipkan buku kwitansi yang sebagian sudah terisi dan dilengkapi pula dengan foto kopi ktp. Akan menjadi nasib sial tentunya bagi sebagian pengantre yang sudah melakukan pembayaran jika data pembayaran mereka sampai hilang, dan akan menjadi kekacauan lebih besar pula jika buku kwitansi yang masih banyak bagian kosong yang belum terisi tersebut jatuh ketangan yang tidak bertanggung jawab, dengan mudahnya mereka bisa mengisi kwitansi tersebut dan menggabungkannya dengan voucher yang juga berhasil dijarah kemudian.

Kekecewaan yang meliputi nawak-nawak begitu besar, setelah semua perjuangan yang dilakukan hampir 24 jam lamanya berakhir dengan kerusuhan dan sia-sia. Ketidakhadiran pihak Kemanan (Kepolisian) ketika akumulasi massa terjadi hingga terjadinya kerusuhan, ketidakbecusan panitia pelaksana yang berada di bawah asuhan pssi mengantisipasi dan mengatasi segala hal yang terjadi menambah besar kekecawaan nawak-nawak. Di tengah kondisi kelelahan dan kekecewaan tersebut, beberapa orang termasuk saya sendiri sempat berucap tidak akan menyaksikan pertandingan secara langsung di dalam stadion kendati pada antrian hari sebelumnya nawak-nawak juga sudah mendapatkan beberapa tiket kategori 2 yang juga didapatkan dengan susah payah hingga harus menginap pula.

Namun setelah beristirahat sejenak dan menyaksikan kekalahan Tim Nasional pada Final Leg 1 yang berlangsung di Kuala Lumpur, nawak-nawak merenung, bahwa kita tidak boleh kalah. Timnas butuh dukungan, dan kita tidak boleh menyerah dengan keadaan yang terjadi, upaya untuk mengembalikan buku kwitansi yang berhasil diselamatkan dilakukan bersamaan dengan upaya untuk “melanjutkan antrian” yang tertunda oleh kerusuhan. Beberapa kontak dilakukan, hingga seorang petugas LOC (koordinator ticketting) Edy Prasetyo menghubungi kami dan mengadakan perjanjian untuk bertemu.

Setelah bertemu, beberapa orang nawak-nawak menceritakan kronologis kejadian dari antrian malam hari hingga kerusuhan sore hari berikutnya, sembari menyampaikan beberapa kritik terhadap pelaksanaan Piala AFF, termasuk berbelit-belit dan ribetnya proses mendapatkan tiket. Setelah menceritakan segala kronologis yang terjadi, disampaikan pula upaya untuk “melanjutkan antrian”. Beberapa tekanan yang dilakukan (tekanan kepada LOC, bukan menjilat, bukti rekaman pembicaraan ada pada redaksi) hanya membuahkan janji, bahkan nawak-nawak diminta untuk menunggu di Kamar Hotel (bukan lobby) yang disediakan panitia, namun demi mempertahankan idealisme, nawak-nawak menolak dengan tegas segala fasilitas dan kemudahan yang diberikan panitia. Keinginan kami hanya melanjutkan antrian dan mendapatkan tiket sesuai dengan kupon yang ada, kami tidak melebih-lebihkan jumlah dan juga tidak mau di kurangi satupun. Akhirnya setelah bernegosiasi alot, pihak panitia menjanjikan untuk mengurus semuanya dan kembali menghubungi 1-2 jam kemudian, sembari menunggu keputusan ketua panita (Joko Driyono). Waktu yang ada sedianya akan dimanfaatkan nawak-nawak untuk mengisi perut yang mulai terasa lapar.

Belum sempat meninggalkan hotel, telpon kami berdering dan terdengar suara Joko Driyono memperkenalkan diri di seberang telepon. Dilanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang kuota untuk suporter daerah membuat nawak-nawak yang turut mendengarkan pembicaraan menjadi jengkel, dan memotong pembicaraan serta menjelaskan bahwa nawak-nawak sedari awal tidak ada niatan untuk meminta jatah kuota (mengemis tiket), namun yang ada adalah niatan untuk “melanjutkan antrian”. “Kalau memang masih ada tiket untuk pengantri kami akan ambil, dan kalau memang tidak ada, Tidak perlu diada-adakan.” Tegas kami menolak kuota. (transkrip pembicaraan ada disini http://www.4shared.com/audio/6wfg1mJg/VN00005-20101227-2333.html). Mendengar adanya misskomunikasi, pihak panitia yang sedari awal ikut mendengarkan penjelasan dan alasan kami segera menengahi dan berjanji untuk membereskan segala sesuatunya secepatnya (maksimal 30 menit).

Kepalang tanggung, kamipun segera naik kembali ke lantai atas, setelah sempat bersitegang dengan pihak resepsionis hotel hingga memaksa manager hotel untuk datang  dan membantu kami memasuki lift, kamipun naik ke lantai atas dan menunggu apa yang sudah dijanjikan. Dan kali ini, apa yang sudah dijanjikan benar-benar menjadi kenyataan. 10 menit kami menunggu kami di hubungi dan pihak panitia meminta untuk bertemu, setelah kami temui, Koordinator tiket yang menurut pengakuannya sendiri sebelumnya tidak pernah melihat apalagi memegang fisik tiket memegang beberapa lembar tiket sesuai jumlah kupon antrian kami di kalikan 5 (sesuai jatah maksimal masing-masing pengantri). Setelah mendapatkan tiket malam itu (pukul 23.20 WIB) kamipun segera menghubungi teman-teman yang ikut mengantri (termasuk diantaranya adalah boromania, nawak-nawak Aremania Cikarang, dan nawak-nawak lain) untuk memberikan hak mereka. Setelah semua terdistribusikan sesuai dengan haknya, barulah kami memikirkan bagian kami sendiri.

Meskipun awalnya sempat pesimis dan berucap tidak akan masuk stadion, namun tekad untuk TIDAK MAU MENYERAH ternyata jauh lebih besar. Dan dibalik itu, kepuasan menonton sebuah pertandingan menjadi suatu hal yang benar-benar bisa kami nikmati, terlepas hasil pertandingan itu sendiri. Bahwa Tim Nasional tidak berhasil mencapai juara Piala AFF 2010, namun perjuangan yang dilakukan Laskar Garuda sudah Maksimal, penuh semangat dan pantang menyerah sebelum peluit panjang berbunyi. Setidaknya, dengan permainan yang telah ditunjukkan masih tersimpan harapan bahwa suatu saat kita pasti bisa meraih gelar juara. (lek)

Aremania Mendukung Timnas (Foto By PAS)

Berkibarlah Sang Saka (Foto by PAS)

Nasionalisme Kami (Foto by PAS)

We Are Indonesia (Foto by PAS)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Paklek Uning

host cindai. wkakakakaka....

You may also like...

6 Responses

  1. kancalawas says:

    loh kok ono tejo…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    • avner says:

      tanks kiriman nya bro… aq ampe menitikan air mata…. semoga aremania selalu jd pelopor kemajuan sepak bola indonesia…. savidi.

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
    • paklek_uning says:

      lapo iku tejo?

      VN:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VN:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Perjuangan tanpa lelah dan tanpa memikirkan diri sendiri/kelomp[ok..talames nawak…semoga kedepan semuanya akan semakin lebih baik…jabat Erat..salam satu jiwa

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Sam Ken says:

    Berjuang ampe titik kringet penghabisan wis pokok e… dari soak kering, teles kena kringet, kering kepanasan, basah lg keujanan ampe kering lg ke angin²… akhirnya rusuh jg, byk ceramah g banyak jualan tiketnya… panpel panpel… ancen njaluk di training lg!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. ppreyppsalsa says:

    Panpel e mbulet. Jaman modern begini masih jualan ticket dg cara tradisional.
    Untung gak ikutan ngantri….
    Kalo panpelnya pinter, penjualan ticket bisa disebar kebeberapa lokasi di Jkt. So…konsentrasi massa bisa dipecah shg tdk terjadi keributan plus kerusakan SGBK.
    Itu kalo panpelnya pinter………kalo gak pinter (baca : goblog)….????
    Anyway…….salut buat sampeyan kabeh mas……

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply