Saya tahu Rasanya (catatan dari tribun suporter)

Saya dan Beberapa The Jak (Kami Bersaudara)

Saya dan Beberapa The Jak (Kami Bersaudara)

saya memegang 11 tiket kelas II, titipan teman-teman sesama Aremania yang sengaja meluangkan hari Minggu nya untuk menonton pertandingan sepak bola Arema vs Persija di GBK Main Stadium. Menonton Arema bertanding bagi kami orang Malang yang mengadu nasib di luar Malang, bagai pulang kampung gratis. Jadi hasrat kami cuma tiga, bertemu Aremania lain, mendukung Arema dan menikmati pertandingan. Itu saja.

 

Pertandingan dimulai pukul 15.30an, tapi kami (seperti biasa) stand by di depan pintu masuk sejak pukul 14.00. 45 menit sebelum pertandingan dimulai kami baru masuk stadion, tidak seperti laga Timnas dengan banyak orang yang mendadak “fans”, laga kali ini terbilang sepi, jadi kami masih bisa santai memilih tempat duduk.

Aremania Gate 8-9 (seperti yang tertera di tiket kami), tetapi kami memutuskan untuk masuk ke Gate 10-11 an (atau Tribun 20-21) yang ternyata merupakan tempat Aremania terkonsentrasi, hanya 4 lajur tribun kelas dua (dibelakang Torch) yang penuh Aremania, sisanya menyebar. Sisi berlawanannnya, yang kami bisa lihat hanya lautan Oranye, tak apa ini kandang Persija, hati saya tidak boleh kecil karenanya.

Jika anda membaca tulisan ini dan berharap menemukan kilas balik pertandingan, anda salah besar. Jadi berhenti saja membaca (jika itu tujuan anda) sebelum anda kecewa.

Kamipun mulai bernyanyi, Sam Yuli sudah berdiri di depan, dan kami siap jiwa raga untuk mendukung Arema. Pemain pemanasan, dan salam “Goyang” pemain yang saya nantikan tidak se “hot” biasanya. Perasaan saya sudah tidak enak, ada yang lain, tapi saya tidak mampu memutuskan itu apa.

Starting Line Up keluar dan saya girang bukan kepalang. Baik, berhenti sampai di sini,tidak ada yang mampu mengalahkan Line Up ini sebelumnya > KMH [1], Njanka [24], Purwaka [2],Waluyo [27], Beny [7], Bustomi [19], Revi [77], Ridhuan [6], Esteban [17], Roman [9], Noh Alam Shah [12]. Saya berani bertaruh, ini Line Up terbaik yang dimiliki Arema saat ini.

Kick Off, pertandingan tidak berjalan baik bagi kami. Keras, dan sedikit brutal. Beberapadiving kotor dan tackling sembarangan di biarkan saja oleh wasit. Saya bukan pengamat sepak bola profesional, saya hanya suporter kelas kambing yang bahkan tidak mampu membeli tiket VIP, tapi saya yakin saya tahu mana yang disebut wasit adil dan mana yang tidak.

Seperti di hantam godam, kepala saya memaksa saya kembali ke beberapa waktu silam. Laga Final Piala Indonesia – Arema versus Sriwijaya – yang berakhir dengan kemenangan Sriwijaya FC. Along kartu merah dan keluar dengan ‘indahnya’ dari lapangan, menyisakan 10 pemain yang terbengong-bengong, menyisakan sakit luar biasa di dada suporter. Alasannya, kaki Along ‘terlalu’ tinggi, beberapa saat kemudian kaki Precious ‘bersarang’ di pipi Roman. NO CARD . Yess, wasit memang hebat.

Lain laga lain cerita. Community Shield , yang mempertemukan Arema kembali dengan Sriwijaya. Hasilnya Arema kalah, tapi bukan itu persoalan yang mengganjal di hati saya. Arema mendapatkan ‘hadiah’ penalty itu yang menjadi ganjalan. Saya bahkan tidak bisa tersenyum saat Njanka menjebol gawang lawan, saya bahkan tidak bersorak. Di kamar 3×4 tempat kos saya itu, saya hanya bisa duduk termangu. Oh tidak, bukan ini yang saya harapkan dari Njanka, bukan gol seperti ini yang saya harapkan datang dari kaki-kaki singa kami. Kami dapat satu gol, tapi rasa ini tidak membuat saya berteriak ‘YESSSSSSSSSSSSSS’. saya sedih. Saya hanya tidak ingin kejadian ini terulang lagi hari ini, tapi ini salah saya.

Saya salah karena berharap terlalu banyak pada kompetisi ini. Orang bilang, ini kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia, dan harus saya akui ‘kasta tinggi’ memang penuh gengsi. Tapi sepak bola bukan masalah gengsi, ini masalah hiburan masyarakat. Ini masalah kejujuran, masalah menjadi profesional. Kompetisi ini membuat sepak bola Indonesia tidak memiliki masa depan, mempermalukan keprofesionalan pemain dan wasit. Saya seharusnya sadar, saya tengah menghadiri kompetisi macam ini, seharusnya saya sudah siap dengan jargon “HARI INI SIAPA YANG DIBELA WASIT”, “HARI INI MILIK SIAPA”, “HARI INI SIAPA KUAT BAYARIN ROKOKNYA WASIT”, “HARI INI SIAPA YANG ‘HARUS’ KALAH”, dan “HARI INI KANDANG SIAPA”. Seharusnya saya tidak boleh lupa dengan semua ini.

Jangan terbuai dengan kemenangan beruntun di AFF, jangan senang dan bangga dengan baju bertuliskan Gonzales atau mungkin angka 17 tertera dengan indahnya di punggung anda. Perjalanan Indonesia masih jauh, dan bahkan kita belum mampu menapak tangga pertama. Kompetisi nasional kita masih amburadul, kualitas wasit kita hancur. Sampai kapanpun kita akan tetap di sini, berjalan di tempat, tidak kemana-mana.

Ketika Persija mengalahkan Singa Gila kebanggaan saya itu pun pada akhirnya, saya tidak mengerti harus mengucapkan selamat dan tertawa bersama ataukah saya harus marah karena kejadian tidak mengenakkan di lapangan selama 90 menit lebih tadi. Tapi The Jak saudara saya, mereka menerima orang-orang beratribut Arema dengan baik di kota mereka, dan selain rasa terima kasih yang dalam, saya tidak tahu harus bicara apa lagi. Tapi sesuatu mencabik hati saya dari dalam, Tim kesayangan saya di pecundangi, bukan salah pemain (baik Persija maupun Arema) mereka hanya bermain (terlepas dari skenario apapun yang terselip di belakangnya. Wasit menodai rasa persaudaraan ini. Tidak ada persaudaraan di sepak bola, terlebih di kompetisi ini. Apa yang saya cari, apa yang anda cari. Kemenangan, kebanggaan, rasa memiliki, itu semua bisa diatur. Perasaan anda dan saya bisa dipermainkan beberapa orang di meja ‘PENGURUS’.

Saya dan Gank Aremania

Saya dan Gank Aremania

Saya yakin, bukan ini yang anda cari. Sama seperti ketika saya memutuskan untuk memesan tiket laga ini jauh-jauh hari, mengosongkan semua jadwal, mengatur rencana dengan teman-teman. Apalagi bagi sebagian Aremania yang mengorbankan waktu dan tenaga untuk jauh-jauh datang dari Malang hanya untuk menyorakkan dukungan. Kami hanya ingin menonton pertandingan dengan hati senang. Bukan kemenangan yang kami cari. Semua Aremania dan Aremania sudah hapal mati tentang ini, kami bukan suporter baru yang marah karena kalah. Menang kalah bagi kami sudah biasa, ini pertandingan dan kami mengerti.

Sepanjang sisa babak kedua tangan saya tidak berhenti mengepal, mata saya dan tunangan saya yang duduk disebelah saya menerawang, kami berpikir. Kami berteriak berkali-kali memanggil nama wasit, pelanggaran demi pelanggaran terjadi, dan pria berbaju kuning itu tak bergeming, seakan-akan tidak memiliki hati, tidak memili nurani. Dia meliat pelanggaran, dia mendengar teriakan kami, tapi dia tidak memasukkannya dalam hati. Bagaimana bisa, jika hati pun mungkin mereka tidak punya. Di kompetisi seperti inikah Arema kami harus berakhir. Mulut saya dan teman-teman tidak berhenti merapal doa, agar pemain kami jauh dari cidera, permainan berjalan lancar dan kami menang. Tidak berhenti bernyanyi, tidak berhenti berdoa, tidak jera kami mendukung, tapi inikah yang harus diterima tim kebanggaan kami?.

Jangan marah kawan, saya tahu rasanya, sudahlah saya mengerti. Beberapa anda yang membaca yang pernah di ‘pecundangi’ Arema dengan ‘hadiah-hadiah’ nya yang tidak bisa saya pungkiri, saya meminta maaf. Saya mengerti rasanya, keluar dari stadion dengan langit yang semakin gelap dengan ribuan tanda tanya berkelebatan di kepala. Saya mengerti rasanya jika anda ingin menghajar wasit saat itu juga. saya mengerti perasaan anda, karena kita suporter dan saya merasakannya juga.

saya bukan orang yang memiliki akses khusus ke dalam tim-tim sepakbola nasional kita. saya pun bukan official tim, panpel, dan apapun yang terhubung dengan tim dan tetek bengeknya. saya cuma suporter, pekerjaan saya mendukung, terlebih dari pada itu pekerjaan saya adalah mengamati dan menganalisa.

Saya bosan. sepak bola bukan permainan satu dua orang, ini milik pemain di lapangan, ini milik suporter, berilah kami wasit yang jujur, wasit yang mampu menjaga hati nuraninya. sepak bola itu game , dan game dimainkan tanpa emosi tanpa tendensi. Game dimainkan dengan rasa senang, di tonton dengan enjoy have fun dan setiap momen harusnya jadi a good time .

game dimainkan apa adanya, harusnya tanpa skenario. saya kemudian berpikir, mungkin laga pertama liga sebelah masih disiarkan secara amatir, mungkin juga masih tidak mampu menyuguhkan pertandingan ‘seimbang’ antara kedua belah tim. tapi mereka bermain dengan senang, tiket sold out, suporter pulang dengan “tepuk di hati” yah kami kalah karena pemain kami bermain tidak cukup bagus atau yah kami menang karena pemain kami memang spektakuler. Wasit jujur, pemain jujur. itu awalnya. bahkan awal dari semuanya. (pitt).

original post : by Canggih Puspitasari

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Paklek Uning

host cindai. wkakakakaka....

You may also like...

11 Responses

  1. mrsnugrah says:

    terima kasih pak admin sampun di post di sini ^^b …
    salam satu jiwa.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. _REA_ says:

    nice artikle …
    nyuwun shared …dong
    sasaji

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    • paklek_uning says:

      monggo sam

      VN:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VN:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
  3. mrsnugrah says:

    hihihhi monggo ^^b
    hidup paklikkkkk …

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Sam Ken says:

    ayas yg telat, Hiks² T_T

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. ppreyppsalsa says:

     Timbangane ben taun sport jantung n mumet ndelok Arema gak iso ngontrak pemain. Plus melihat wasit yg gak tegas thd pelanggaran n berat sebelah spt yg sampeyan keluhkan.
     .Bro, dg  kata  lain sampeyan pingin Arema pindah ke LPI. Aku yo setuju

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. ppreyppsalsa says:

    .  Dr pada setiap tahun sport jantung.  Mas, mendingan  Arema melu LPI  . Setuju banget Mas

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. diandra says:

    artikel e apik jeh, merinding mocone. sopo sing nulis, ayo nulis o meneh sing akeh,tak dukung.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. mrsnugrah says:

    ihihihhihih jek blajaran iki sam ^^b matur suwun sampun di komen njih.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply