Antara Tempo – Arema – Politik

Neni dan Majalah Tempo

Neni dan Majalah Tempo

Sebuah berita  Tentang Walikota Malang, Bapak Peni Suparto, yang mengomentari kebungkaman AREMANIA terhadap Nurdin, ketua PSSI yang kekeuh tidak mau turun mendapat tanggapan yang ramai dan beragam di sebuah situs berita, http://www.detik.com/ digital life.

Ya, sepakbola belakangan memang mendadak menjadi buah bibir media nasional.. Jika dulu kabar sepak bola yang menghias headline berita-berita pada media nasional adalah hanya jika ada kerusuhan yang dibuat supporter, sekarang sejak sepakbola dibumbui bumbu asam-manis-pahit macam Nurdin, Bakrie, Andi Malarangeng, Irfan Bachdim hingga Kiki Amalia, sepakbola menjadi primadona buruan berita, yang tak segan tampil di berita-berita nasional di prime time sekalipun.

Gejolak didalamnya tentu disorot dan dikuliti, salah satunya LSI versus LPI. Dimana LSI sebagai liga prestisius di ranah sepakbola nasional produk PSSI dan Liga bentukan pengusaha Arifin Panigoro, sebagai bentuk terobosan atas bobroknya sistem dan kinerja  PSSI.Tiga klub LSI hijrah ke LPI, salah satunya klub yang selama ini digerakkan oksigen berupa Dana APBD Kota Malang yaitu Persema.

Jika anda bertanya apa pendapat saya masalah LPI dan LSI ini, maka jawaban sayabahwa  LPI adalah hawa segar. Upaya perbaikan dan letupan keinginan perubahan membuahkan kompetisi ini. Ini hanya kompetisi, yang mewadahi sepakbola. Lalu LSI? Kenapa harus takut? Jika tak ingin kalah “bersaing”, maka perbaiki sistem kompetisi.

Masalah organisasi? PSSI sebagai “intansi vertikal” Federasi Sepak Bola Internasional harus diperbaiki, rasanya reformasi bukan kata yang tepat, PSSI sakit kronis, harus di revolusi. Sayangnya, jaman yang katanya jaman demokrasi ini rasanya tak satupun sendi kehidupan yang tak diracuni dengan politik.

LPI vs LSI tampak sebagai panggung perebutan simpati, tujuan politis ikut menghiasi, mengingat sepakbola sudah mendarah daging pada masyarakat negara ini..
Maka menanggapi komentar Peni,(Maaf ) saya pun mengedepankan prasangka jelek saya.. Politis!

Ini bukan masalah rivalitas Persema-Arema Indonesia  atau yang menurut beliau saat ini  Aremania  yang mendadak jinak kepada Nurdin.

PSSI cukup tidak “percaya diri” untuk bersaing, maka sebagai pemegang wewenang, PSSI mengeluarkan regulasi yang menghambat gerak klub jika nekad menyeberang ke LPI.. Pandanglah persaingan liga ini dengan banyak variabel. Menghadapi Nurdin dan PSSInya, terutama dalam konteks dua liga ini, tak cukup dengan “PSSI JANCUK!!”, frasa yang dipopulerkan Aremania..

Perlu upaya sistematis dan terorganisir. Juga ketegasan pemimpin negeri, aparat hukum, peradilan dan  untuk menghormati harkat bangsa ini. Tak semata-mata berteriak Nurdin turun lalu tinggalkan PSSI.

Pandang variabel lain. Banyak yang perlu dipikir panjang dan dipedulikan. Bagaimana dengan kelangsungan eksistensi pemain? Lisensi pelatih? Liga Champion Asia yang akan segera dihadapi Arema Indonesia ? Tapi jika ingin menggunakan prasangka positif, anggaplah ini sebuah cubitan, yang menggeliatkan kekritisan kita.

Kritis yang cerdas, berteriak tegas dengan solusi, bukan asal mengumpat revolusi.
Lain lagi di Twitter, Tempo terbaru telah terbit,  membahas KORUPSSI.. Maka sepulang jam kantor saya sempatkan membeli majalah ini..

Dan? Juntrungannya saya kecewa dengan isinya.

Saya pikir TEMPO akan membahas PSSI dan segala kompleksitas masalahnya. Namun ini malah membahas LSI 2009/2010  yang isinya sangat mendiskreditkan Arema Indonesia..

Media sekelas TEMPO saya rasa harus cukup cerdas untuk menempatkan diri secara netral. Tujuan jurnalisme bukan hanya mengeruk konsumen dan menyebarkan berita sesuai keinginan redaksi, bagaimana dengan poin mencerdaskan bangsa? bukan mengadu domba *sigh*.Tidak peduli posisinya sebagai sponsor liga primer.
Yak, Arema Indonesia  sangat didiskreditkan.

Kalimat demi kalimat diramu agar terasa sedap. Vetsinnya? Bakrie family. Media tentu juga menganut teori Supply-Demand.. Masyarakat saat ini rasanya senang melihat berita yang menjadikan Bakrie sebagai sasaran.

EITS, tunggu dulu dan  jangan salah paham, Ical Bakrie adalah politisi nomor satu yang saya BENCI.. Saya hanya jijik melihat sepak bola dihubungkan dengan politik..“Sudah waktunya pemimpin kita meniru teladan dari negara lain. Aparat hukum harus dikerahkan untuk menindak tegas pelaku tak terpuji du dunia sepak bola. Akan sangat bermanfaat bila Presiden bersemangat memimpin perang melawan korupsi di sepak bola” -Majalah Tempo, Rubrik Opini, halaman 23- .

Sayangnya, kalimat menggebu itu sekedar Prolog Pemanis namun tak ada kelanjutan.Makin kebelakang kalimat demi kalimat saya rasa ditujukan untuk menyerang klub tertentu dan orang tertentu.

Tempo Investigasi judulnya diawali kalimat “PSSI seperti membiarkan pertandingan merajalela di Liga Indonesia.

“Pemenang dan pecundang bisa diatur. Musim lalu Persebaya buntung, Arema beruntung” Sangat mendiskreditkan Arema Indonesia bukan.?

Jujur, pertandingan Arema Indonesia melawan Persebaya yang dimaksud yang berakhir dengan last minute penalty, tidak membuat saya senang malah kecewa. Sungguh. Menang dengan kontroversi semacam itu lebih tidak mengenakkan bagi saya dibanding seri atau kalah sekali pun dari klub tetangga yang kami anggap rival nomor satu yang gengsi abis deh kalau kalah.

Isinya mengenai Saleh Mukadar yang mengatakan bahwan ada lima pemain Persebaya yang “dibeli”, spesialis pembuat blunder, perdagangan gol, mereka menawarkan diri untuk menjadikan lapangan sebagai panggung sandiwara gara2 kepepet gaji tak kunjung dibayar..
“Persiwa Wamena ini tim aneh, karena selalu mendapat penalti di menit-menit akhir. Ujar Robert pelatih Arema saat itu. Tapi diluar dugaan banyak orang, Arema justru menang 2-0. Lewat pertandingan yang bersih, Arema bermain cantik. Dua gol Arema dicetak Muhammad Ridhuan da Roman Chmelo. Apa rahasianya? Arema mengaku meminta tim khusus PT Liga Indonesia untuk memantau pertandingan di Wamena. Kami ingin mengantisipasi faktor non teknis, begitu ujar Manajer Arema. Arema menang justru ketika pertandingan tidak diganggu “keanehan” macam-macam. Menurut sumber TEMPO, kejadian di Wamena itu indikasi bahwa Arema memang “dikawal” petinggi PSSI.”Sebuah pembunuhan karakter bukan…..
“Singkat cerita, pada Mei 2010, setelah bermain imbang 1-1 dengan PSPS Pekanbaru, Arema resmi menjadi juara. Ribuan Supporter Aremania membanjiri pertandingan terakhir Arema di SU GBK, Senayan Jakarta. Di sana, Arema mengempaskan Persija 2-1. Lengkap sudah kesaktian tim Singo Edan.”
“Kalau dirunut ke belakang, Arema sesunggunya bukan tim andalan. Ketika musim dimulai, September 2009, mereka nyaris bubar. Pemilik Arema, PT Bentoel Indonesia, mendadak menarik diri…….Ketika krisis itulah ikatan lama antara keluarga Bakrie dan Arema hidup lagi……Arema menerima bantuan Bakrie lebih dari 7 miliar…….Ketika sebagian klub lain berjibaku, kasak kusuk kanan kiri dengan faktor non teknis, Arema bisa melenggang dengan gelontoran 4,5 M dari Ijen Nirwana – perusahaan pengembang perumahan milik Grup Bakrie – di awal musim ini mempertegas kedekatan antara Arema dan keluarga Bakrie”

Sedemikian dipelintir dan dipolitisir.. Investigasi? Becanda, ini layaknya Opini Satir.Saya tidak ingin menyangkal bahwa dunia sepak bola ini memang penuh intrik sinting a la sinetron.. Cara teknis dan nonteknis ditempuh demi sebuah prestisius.. Seperti yang saya ungkapkan tadi.. Saya pun kecewa melihat pertandingan aneh Arema dan Persebaya..

Tapi yang ingin saya gugat disini adalah fakta-fakta yang tak dilirik, dilesapkan, dianggap tak ada. Keajaiban apa?? Lepaskan semua rivalitas, politik, gengsi antar klub, pakailah kacamata penikmat permainan sepak bola profesional.

Permainan Arema Indonesia  musim lalu, secara waras dan profesional diakui bagus. Tidak peduli dengan faktor non teknis, dia bukan Dewa pertandingan, lihatlah permainan teknis!!! Kecantikan permainan teknis itulah penghasil utama poin demi poin, yang didapat bukan tanpa pengorbanan.

Lalu kesaktian Singo Edan? Puluhan ribu pasang mata yang menonton langsung pertandingan penutup baik live maupun lewat televisi menjadi saksi  bahwa permainan Arema saat itulah yang membawa kemenangan. Permainan yang dihasilkan oleh taktik, strategi Teknis, keringat, kerja sama dan support, bukan kesaktian!

Mungkin Arema memang belum memiliki laporan keuangan sesuai dengan SAP (walau untuk hal ini sebenarnya tidak kurang kompetensi aremania yang akuntan yang mumpuni), kami mandiri dengan donasi dari Berbagai  sponsor termasuk Bakrie, yang selalu menjadi point of interest pemberitaan yang sayangnya melupakan yang lain.

TAPI JANGAN LUPAKAN bagaimana ribuan Aremania setia mendatangi setiap pertandingan, dengan agregat tertinggi, dengan harga tiket paling mahal, demi eksistensi klub. Jangan lupakan berbagai macam kreasi kostum dan aksesori Arema yang pembeliannya berarti memberikan sumbangsing secara langsung kepada Arema, laga amal, meet and greet.

Nampak keseharian di setiap sudut Malang Raya, kostum Aremania baik ada atau tidaknya pertandingan, banyak dipakai sebagai atribut sehari-hari.. Sponsor bukan satu-satunya asupan Arema, dukungan materi dan spirit Aremania yang sama sekali tak disebutkan di Tempo ini lah nyawa Arema Indonesia…
Saya sudah sangat MUAK dengan politisir Sepak Bola.. Jika media sebagai pencerdas bangsa malah menjadi tukang gosip oportunis yang menyajikan sebagian berita kontroversial secara tak berimbang, dan masyarakat bola yang langsung memakan mentah-mentah sajian media lalu dengan mudahnya saling menghujat, MIMPI kita kalo ingin sepak bola negeri ini waras…
Saya hanya penikmat bola.. Yang ingin menikmati permainan 2×45 menit ini, TANPA POLITISIR, TANPA KEPENTINGAN selain permainan itu sendiri.. Nikmati bola sebagai Game, bukan panggung sandiwara media pencitraan!!

Oleh : Neni Puji Artanti Nugroho
sumber http://senyummerahmuda.blogspot.com/2011/01/antara-tempo-arema-politik.html

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Antara Tempo – Arema – Politik, 10.0 out of 10 based on 1 rating

ArSen

AreMa Senayan

You may also like...

42 Responses

  1. Prie says:

    Hehehe… sungguh sebuah tulisan yang “cinta” Arema, sampai semua alasan yang dikemukakan pun ber”ciri khas” suporter fanatik sebuah tim sepakbola.
    Its okay.., ibarat gajah di pelupuk mata tak tampak tapi kuman di seberang lautan begitu jelasnya, itulah gambaran dari opini diatas.
    Saya 1000% yakin majalah TEMPO bukan menyajikan investigasi abal2 (seperti dituduhkan), kredibiltas TEMPO tak “serendah” itu (jika melihat track record yg sampai dibreidel & di bawa ke pengadilan segala, hanya gara2 investigasinya yg selalu jauh menghunjam ke pokok permasalahan).
    Diakui atau tidak, AREMA sudah jauh masuk ke rana “politik” – meski para Aremania mengatakan tidak. Fakta2 yg diucapkan Rendra Kresna, Andi Tabusalla sampai masuknya Ijen Nirwana (serta mengembalikan uang sponsor salah satu Bank milik Arifin Panigoro) adalah bukti nyata AREMA “milik” orang2 PSSI, sama halnya dengan Pelita Jaya.
    Kenapa kita (para Aremania) banyak yg tidak bisa menerima kenyataan?

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    • 'Pengamat' says:

      Bagaimana dgn juara2 liga tahun sebelumnya (sebelem arema juara red.),persija,persik,persipura,persebaya,bukankah di waktu mereka -mereka itu juara,juga kental dengan aroma politik (pilkada didaerah masing2) ? Kenapa tempo tidak ‘menginvestigasi’ hal ini ? Kasian Arema, Tempo terlalu..

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      • Prie says:

        Kebetulan AREMA adalah fakta teraktual, SAH saja bukan?
        Dan kalo mau ditarik jauuuuh kebelakang, PSSI memang sudah bobrok dan penuh kolusi.
        Liga Indonesia I, Persib sdh disiapkan jadi Juara (mengalahkan Petro di final). Karena kalo Petro sampai menang, Senayan akan hancur, citra (ex) perserikatan yg notabene pemakai APBD akan pudar (karena dikalahkan ex Galatama yg non-APBD). Padahal, saat itu, Jacksen Tiago yg membela Petro sempat bikin gol murni (tapi dianulir, katanya offside), dst, dlsb.

        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0 (from 0 votes)
        • neni says:

          hai mas prie, salam kenal.. terima kasih komentarnya atas tulisan saya.. saya hanya ingin mengatakan, saya bukanlah defensif terhadap kritik yang ditujukan kepada tim yang saya cintai.. saya menyayangkan, pada tempo EDISI KALI INI, yang diangkat dan disorot adalah sisi komersil yang berujung pada pembunuhan karakter.. Tidak mengangkat fakta secara utuh.. Saya tidak mengatakan bahwa AREMA bebas dari kepentingan politik atau suci dari faktor2 “non-teknis” yang disebutkan TEMPO edisi ini.. Saya tidak bisa membuktikan secara konkret keSUCIan AREMA, sama seperti para kontributor yang tidak bisa membuktikan secara konkret keTIDAKSUCIan (?) AREMA.. Tapi jelas terlihat, kecenderungan penggiringan opini pembaca ke arah yang negatif.. Itu yang sangat saya sayangkan

          best regards
          Neni

          VA:F [1.9.22_1171]
          Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
          VA:F [1.9.22_1171]
          Rating: 0 (from 0 votes)
    • qumal says:

      @pri: bagi saya tempo (dan anda) hanyala sebuah asumsi pribadi dan tak mendasar. dan anak kecilpun bisa melakukannya. kredibilitas tempo? hahaha jangan naif bro. media di indonesia menjual berita bukan informasi.

      katakan dengan fakta bukan dengan asumsi. itu kl anda punya kredibilitas.

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      • Prie says:

        Menarik mengikuti debat kusir disini.
        Cuma, bagaimana bisa menjadi “besar” kalau sebuah kelompok suporter tidak mau menerima kritik dan fakta yg diungkap pihak lain?
        Dan lucu kalo TEMPO disamakan dg media2 yg lain (tapi nggak apa2, semua orang berhak mengeluarkan pendapat; apalagi kalo blm pernah berkecimpung di dunia jurnalistik di negeri ini).

        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0 (from 0 votes)
        • qumal says:

          tidak masalah bro.. asal opini itu harus netral dan tidak mendiskreditkan dan cenderung terkesan fitnah. kl mau berdebat dan berpendapat, harus sesuai fakta dan itu yg membedakan intelektualitas dan debat jalanan.
          kl anda punya sebuah justifikasi sertakan dengan fakta…

          VA:F [1.9.22_1171]
          Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
          VA:F [1.9.22_1171]
          Rating: 0 (from 0 votes)
        • @Prie : beri Aremania fakta dan bukti yg otentik jgn bersandar pada sumber yg harus dilindungi…kalo memang ada fakta dan bukti yg otentik serta dapat dipertanggung jawabkan…sebagai aremania siap untuk dianulir gelar juara kami..Buktikan jgn asal ngomong…percuma debat kalo gak ada bukti…buka semua hal2 yg kamu tuduhkan berdasarkan sumber…kalo BENAR knapa harus takut…

          VA:F [1.9.22_1171]
          Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
          VA:F [1.9.22_1171]
          Rating: 0 (from 0 votes)
          • paklek_uning says:

            sayangnya tidak pernah ada bukti. hanya ucapan sesat dari mereka2 yang syirik. dan justru sebaliknya ucapan2 sesat itu yang senantiasa bisa dipatahkan dengan bukti2 yang dimiliki Arema dan Aremania…

            VN:F [1.9.22_1171]
            Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
            VN:F [1.9.22_1171]
            Rating: 0 (from 0 votes)
    • Hidung says:

      Sebentar.. saya hanya ingin bertanya kepada wartawan tempo.. mengapa harus arema yang bekerja dengan dana sendiri…mandiri.. yang harus diusut..
      bukankah kalo mau dibilang korupsi itu harusnya berasal dari dana APBD.. yang jelas2 milik negara.. baik itu berasal dari dana hibah maupun dana lain..
      tentunya semua tahu jika itu sebenar2nya korupsi.. :)

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      • Prie says:

        Weiiit… seruuu… seruuu…
        Inilah kalo dapat informasi cuma sepotong2.
        Bacalah majalah TEMPO edisi tersebut dengan tuntas, disana akan dibahas dan ditelisik dengan data dan fakta yang akurat (ada 4-5 artikel). Dan isinya bukan hanya masalah AREMA saja, ada DELTRAS yang punya rekening atas nama pribadi, ada klub dari Kalimantan yang senangnya nyuap wasit, ada Persisam yang raja penalti (20 penalti dalam 15 pertandingan kandang), dan masih banyak pernik2 lain kbobrokan PSSI dengan kompetisinya.
        Iki lak podo karo tukang becak ngarep stasiun, nemu suwekan koran sing artikele gak tutug, tapi dikomentari rame2, seolah2 ngerti masalahe. Iki guduk debat kusir maneh, tapi debat tukang becak, hahahaha…..

        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0 (from 0 votes)
    • paklek_uning says:

      Prie disini hanyalah seorang pengecut dan pecundang yang tidak berani mengaku siap sebenarnya dia. coba klik tautan pada namanya Prie, justru akan masuk ke web AremaFc.com tapi matur nuwun sebelumnya sudah memopulerkan web kami. dengan memasang pada identitas anda setiap yang meng-klik akan menaikkan rating official web kami.

      VN:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VN:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Sam Ken says:

    Betul sam² Mbak²… harusnya di ralat :

    “Singkat cerita, pada Mei 2010, setelah bermain imbang 1-1 dengan PSPS Pekanbaru, Arema resmi menjadi juara. Ribuan Supporter Aremania membanjiri pertandingan terakhir Arema di SU GBK, Senayan Jakarta. Di sana, Arema mengempaskan Persija 2-1. Lengkap sudah kesaktian tim Singo Edan.”

    –> Arema 5-1 Persija

    Artikel mbois, ayas kehabisan kata²

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    • Prie says:

      @Ken
      Hahahaha… setujuuuuh….. (suwun, saat itu aku kebagian tiket 7 lembar ; begitu sampai di SGB, rombonganku dadi 22 uwong, hahahaha….)

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
    • Bro Fahroe says:

      Saksi mata di GBK 30 Mei ’10 menyatakan bahwa skor akhir adalah Persija 1 – 5 Arema.

      VN:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VN:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
  3. AREMARUDAM says:

    Negara ini negara demokrasi, bebas-bebas saja Tempo, Tempe dan media-media yang lain membuat opini. Demikian juga yang lain bebas mengeluarkan pendapat. Bagi saya politik itu penting, bagaimanapun sebuah pemerintahan harus berpolitik, demikian juga sebuah klub penting untuk berpolitik. Karena politik adalah strategi untuk mencapai tujuan kita.
    Kemudian kerjasama antara AREMA dengan tokoh2 politik, saya juga berpendapat tidak ada masalah dengan hal itu, jangankan cuma tokoh politik, dengan tokoh setan pun kl perlu jg kerjasama yang penting tetap menjaga sportifitas, dan AREMANIA tetap bersatu itu yang utama.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    • Prie says:

      Kalo dg pendapat @AREMARUDAM aku sepakat.
      Kerjasama dg siapapun oke2 saja, asal tetap SPORTIF (ini harus di “garisbawah” i) ; apalagi kalo ditambah bersatunya Aremania (tidak ada yg menelikung teman dg statement2 yg mengatasnamakan Aremania).
      ***Susahnya, koq masih banyak Aremania yang nggak bisa menerima perbedaan pendapat ya? Nggak beda dengan BONEK kalo masih seperti itu !

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      • Bro Fahroe says:

        ya jelas beda lah sama Bonek,.. Bonek berwarna Biru Daon dan Arema berwana Ijo Laut.. wkwkkwk

        piss sam

        VN:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
        VN:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0 (from 0 votes)
  4. boy says:

    Tempo itu bukan majalah kemaren sore. dia sudah profesional dan terbuka. Itu kenyataan dan sama sekali tidak mendiskreditkan arema.
    So arema juara karena bantuan.
    malu…malu… dong… arema ketauan urikk.. hahaha…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. ppreyppsalsa says:

    Heran….pingin lihat sepak bola saja sulitnya setengah mati di negeri ini.
    Kita datang ke stadion, duduk, menari, bersorak, bernyanyi rame2. Itu saja yg aku inginkan. Yg penting pikiran fresh.
    Sudahlah……jangan dipolitisir olah raga ini. Capek lihat n dengarnya.

    Tapi satu hal yg pasti…..mbak dalam foto diatas sinam jess. Iku mbak Neni sing nulis artikel iki tah ? Hiks….dadi eling ojob lawas sing ndik Suroboyo.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. qumal says:

    akan lebih sportif lagi kalau kita beropini berdasran fakta… sehingga tidak terkesan memfitnah.
    thats all

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. mrsnugrah says:

    hyukkk … cinta Arema tapi tetap berpikir terbuka, tidak ada yang sempurna, begitu juga Arema, oleh karena itu Aremania dan Aremanita ada, untuk selalu menemani Arema bertumbuh, menjadi tim besar dan dewasa.

    good article Neni ^^b

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    • Prie says:

      wuaaah…. komentare Mbak iki jan bijaksana temenan rek…
      Lek Aremania/aremanita punya positive thinking koyok ngene kabeh.., pasti AREMA dadi klub percontohan (dalam konotasi positif) !

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
  8. Hidung says:

    Jaaasuuk.. Fotone Neni Maneeeh… Oaaalaaah.. terkenale talah malehan awakmu nen.. -_-“

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    • neni says:

      Bravo Aldito cerewetttttt *wes a, forum umum iki* ;p

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      • ppreyppsalsa says:

        Kancane sampeyan gak cerewet koq mbak Neni. Dhek e ngomong opo anane. Tapi asli sampeyan sinam mbak. Aku temenan dadi eling ojob lawas sing saiki ndik Suroboyo. 😉
        Dari pada baca n dengar komentar yg bikin pusing, mendingan lihat yg bikin artikel. Dikerjaan sdh pusing, pingin baca2 yg fresh n ringan ehh… malah nemu orang adu argumen. Keluh… :sad:

        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0 (from 0 votes)
      • Hidung says:

        hahahaha…. Biarin weeek…
        Emosi ak ndelok fotomu dimana-mana .. hahahahaa
        -_-”
        Mugo2 ae fotomu iso nampang nang majalah TIMES pisan..

        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0 (from 0 votes)
  9. Bro Fahroe says:

    sing penting Revolusi PSSI

    VN:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VN:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    • Kus says:

      setuju karo Sam Fahroe. masalahe, kita saiki wis mlempem. semangat 2008-2009 iku digondol Nurdin cs. po ra isin? ayas isin, tp ayas bangga pd Arema. lha, tp ojo sampe dadi fanatik lho. gak sehat.

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
  10. HarapMaklum says:

    @prie : “Diakui atau tidak, AREMA sudah jauh masuk ke rana “politik” – meski para Aremania mengatakan tidak. Fakta2 yg diucapkan Rendra Kresna, Andi Tabusalla sampai masuknya Ijen Nirwana (serta mengembalikan uang sponsor salah satu Bank milik Arifin Panigoro) adalah bukti nyata AREMA “milik” orang2 PSSI, sama halnya dengan Pelita Jaya.
    Kenapa kita (para Aremania) banyak yg tidak bisa menerima kenyataan?”
    – ya kenapa tidak??? IJEN NIRWANA ada diwilayah kota malang, sepeti juga PT BENTOEL… turut mendukung kemajuan daerah yang ditempatinya ,dan itu menurut ayas wajar wajar saja ,seperti ente mengadakan “inagurasi kampus” napa harus cari sponsor diluar kota??sedangkan didalam kota banyak perusahaan yang siap mensponsori acara ente

    Menarik mengikuti debat kusir disini.
    Cuma, bagaimana bisa menjadi “besar” kalau sebuah kelompok suporter tidak mau menerima kritik dan fakta yg diungkap pihak lain?
    Dan lucu kalo TEMPO disamakan dg media2 yg lain (tapi nggak apa2, semua orang berhak mengeluarkan pendapat; apalagi kalo blm pernah berkecimpung di dunia jurnalistik di negeri ini).
    – monggo silahkan untuk mengungkap kritik dan fakta , yang ayas sesalkan TEMPO mengungkap fakta ttg AREMA hanya dari warung warung kopi , kl ente kemaren sore melihat pertandingan SRIWIJAYA VS AREMA ,apakah itu hasil akhir itu rekayasa juga??? karena menurut ente AREMA anak emas PSSI?

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    • Prie says:

      SriwijayaFC vs Arema Indonesia:
      Octo Maniani dilarang bela SFC
      Kurnia Meiga boleh bela AI
      **status: sama2 pemain timnas yg harus ikut TC

      Knapa harus ada diskriminasi (dan ini diprotes SFC) ??????

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      • Kus says:

        yo Sam Prie iki ono benere. kita opo gak ngerasa sih kalo saiki Nurdin Gayus dkk iku ingin nguasai Arema lan biar jinak dikasih macam2 kemudahan. Meiga dikek’i wkt oleh ngebela tim kita, lha Okto ora. yo yg ngene2 iki yg garai fitnah ke Arema. asline Nurdin Gayus dkk itu yg mengorbankan kita.

        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0 (from 0 votes)
        • paklek_uning says:

          Cara pengajuannya beda, Arema mengajukan 10 hari sebelum pertandingan. SFC cuman 3 hari sebelum pertandingan. kalo hasilnya sama-sama diijinkan yo jelas gak adil.

          VN:F [1.9.22_1171]
          Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
          VN:F [1.9.22_1171]
          Rating: 0 (from 0 votes)
      • @ prie; mulai keliatan syirik dan “abal-abal”nya “aremania” yg satu iki wkwkwk, andai kemarin tendangan budi masuk para makhluk syirik tidak akan memperpanjang masalah yang sudah jelas jawabannya yaitu arema jauh hari sudah memasukkan surat ijinnya, selain itu bukankah arema paling “dirugikan” dengan pemanggilan pemain timnas??bayangkan 4 pemain yang semuannya pilar harus dipanggil wajar rasanya arema meminta satu saja pemainnya bisa bermain karena kondisi tim memang sedang kekurangan, dan sekali lagi itu sudah jauh hari!

        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
        VA:F [1.9.22_1171]
        Rating: 0 (from 0 votes)
  11. Wiro Sugiman says:

    Daripada sibuk analisa mending liat ini : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=354789105&postcount=66

    Wes…aku menikmati aja…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  12. Andrye says:

    sedikit koreksi, pada kalimat “Arema mengempaskan Persija 2-1”, yang benar skor adalah 5-1 untuk Arma. trimsYour comment

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  13. ries says:

    @prie: kita aremania terbuka kok, hanya kami (asli aremania) objektif dengan apa yang dilakukan arema. jerih payah mereka. persepak bolaan indonesia memang kacau, tapi alangkah sakitnya kalo arema di anggap d beri gelar. Coba saja kamu main sebagai pemain arema, jatuh bangun memberi kemenangan, lalu kamu d pojokkan oleh artikel sperti itu? kami hanya ingin bermain sepak bola, saya yakin anda juga sempat menonton pertandingan arema. kecuali anda memang sudah buta, arema secara fakta memang bermain sangat baik musim lalu. Kecuali yang anda tonton adalah pertandingan yang anda suka arema vs persebaya dengan hasil akhir 1-0 (yang mungkin merupakan favorit anda) since you really want to see arema lose dimana pertandingan itu saya tidak bangga sama sekali dan anda mungkin saja mulai memiliki alasan untuk menyimpulkan prestasi arema dengan pikiran2 negatif. I, my self keep thinking possitive unless you my ‘friend’, will stay in negative. Peace, Mr negative. Ciao!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  14. Jambrong says:

    Yang Jelas Arema Indonesia Tdk Pake Uang Rakyat,Tp Bisa Juara..Terserah Tempo Mo Nulis Apa..Itu Pint Plus Nuat Arema Indonesia,Lha Wong Tempo Aia Nulis Skor Persija – Arema Indonesia salah Kok Yo Dibela’in…Klo Sirik Ma Arema Ojo Nanggung Nanggung,Bro…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  15. rude says:

    INTINYA TURUNKAN NURDIN!! gitu aja kok repot..

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    • janu ilalang says:

      gmana cara nya sam..kalo ngomong turunkan NH sdh 3 tahun lalu..lah sampe sekarang aja NH masih berjaya…

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
  16. Andreas says:

    Tempo dulu dan sekarang sudah beda. Sekarang sudah mulai tidak objektif lagi. Terbukti selain data tidak valid, pernah juga Tempo membuat cover yang berbau SARA dan jelas menyakiti pemeluk agama tertentu. Makanya sekarang Tempo tidak laku dan omsetnya cenderung menurun. Yang jelas Tempo makin tidak bermutu. Malas baca Tempo

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply