Aremania Menggugat..

Ilustrasi (by FB Fan Page Arema Se Alam Dunia Gugat Majalah Tempo)

Adanya ulasan pada Majalah Tempo tentang sepakbola Nasional pada edisi akhir Januari ini membuat gerah Aremania. Pasalnya pada salah satu artikel terdapat ulasan tentang gelar juara Arema Indonesia pada musim 2009-2010 yang diduga penuh dengan intrik, kecurangan, dan pengaturan.

Aremania yang mengawal team Arema Indonesia sejak awal musim kompetisi dan mengikuti bagaimana team Arema Indonesia meraih setiap kemenangan demi kemenangan dengan penuh perjuangan dan kecerdikan tentu saja merasa gerah. Disamping itu, apa yang diketahui oleh publik Malang Raya dan masyarakat Indonesia selama perjalanan Arema Indonesia dalam meraih gelar juara tidaklah mudah, bukan hanya kendala teknis dilapangan dalam setiap pertandingan, namun juga faktor nonteknis diluar lapangan seperti kondisi keuangan team yang kembang kempis bahkan ditengah kompetisi team Arema Indonesia nyaris ditinggalkan pelatih dan mayoritas pemainnya karena pada saat itu Manajemen Arema Indonesia tidak mampu untuk memberikan gaji kepada pelatih dan pemain secara rutin dan berkala. Hal ini amat sangat kontradiktif sekali dengan adanya dugaan bahwa ada konglomerat ternama yang berada di belakang Arema Indonesia. Jika memang benar Arema Indonesia di back up oleh konglomerat ternama tentunya masalah keuangan bukanlah menjadi permasalahan yang krusial dan patut di khawatirkan.

Demikian pula dengan faktor teknis dilapangan, misalnya ketika Arema Indonesia akan menghadapi Persiwa Wamena yang seringkali diunggulkan dengan faktor non teknis yaitu lokasi home Persiwa Wamena yang berada di pegunungan dan bersuhu dingin serta bertekenana rendah akan menyulitkan bagi team-team tamu yang tidak terbiasa dengan suhu dan tekanan udara tersebut. Oleh karena itu, dengan cerdik pelatih Robert Rene Albert (saat itu) menggelar Training Center di dataran tinggi sekitar kota Malang untuk mempersiapkan anak asuhnya menghadapi medan yang berat. Tanpa melihat apa yang telah dilakukan sebelumnya, salah seorang mantan Pelatih Arema Indonesia tiba-tiba memberikan statement tentang hasil pertandingan tersebut (0-2 untuk Arema Indonesia) adalah sebuah keanehan, ditambah lagi dengan salah satu media olah raga yang juga menguatkan hal yang sam. Sontak Aremania pun menggugat, berbagai tanggapan di media terkait, bahkan hingga mengirimkan surat keberatan kepada Media tersebut (Top Skor) dan juga dengan menggunakan hak sebagai pihak yang merasa dirugikan dengan mengirimkan surat kepada Dewan Pers karena apa yang disampaikan dan diberitakan sangat jauh dari fakta.

Tidak ada pertandingan mudah yang dihadapi ketika Arema Indonesia berusaha keras meraih gelar juara pada musim 2009-2010. Setiap lawan baik kandang maupun tandang yang akan dihadapi oleh Arema Indonesia selalu mempersiapkan diri sebaik-baiknya, sehingga perlawanan sengit pada setiap pertandingan hingga pertandingan penentuan meraih poin juara (melawan PSPS di Pekanbaru) selalu terjadi. Dan semuanya dihadapi dengan kecerdikan, kekompakan team, dukungan Aremania dan juga kerja keras seluruh komponen yang terlibat. Oleh karena itu, tidaklah heran jika gelar juara yang diperoleh kemudian di syukuri dengan sepenuh hati dan dirayakan di segenap pelosok Malang Raya.

Setelah meraih gelar juara, perjuangan tidaklah selesai. Permasalahan klasik kembali terjadi, yaitu masalah keuangan. Besarnya kebutuhan untuk team, apalagi dimana kontrak pelatih dan seluruh pemain habis hampir bersamaan, memaksa manajemen untuk memutar otak guna mendapatkan dana untuk melanjutkan kompetisi musim berikutnya. Berbagai upaya pendekatan kepada pihak sponsorship dilakukan, termasuk diantaranya adalah kepada pihak Medco Group yang pada saat itu melalui salah satu anak perusahaannya (Bank Saudara) sedang melakukan negosiasi dengan pihak Arema Indonesia. Beberapa hari setelah negosiasi dilakukan, yang didapatkan ternyata bukan Sponsorship melainkan dana pinjaman yang di beritakan pada saat itu adalah sebesar Rp. 1,5 M. Melihat ada itikad baik dari pihak Medco Group dengan tangan terbuka pihak manajemen Arema Indonesia menerima dana pinjaman tersebut yang selanjutnya digunakan untuk memperpanjang kontrak pemain dan mendatangkan pelatih Miroslav Janu yang menggantikan Robert Rene Albert.

Namun yang mengejutkan, setelah beberapa saat berlalu diketahui bahwa dana pinjaman yang diberikan oleh pihak Medco Group melalui Bank Saudara dimanfaatkan untuk menarik Arema Indonesia kedalam kompetisi yang belum terbukti kualitasnya. Hal ini tentunya sangat menyinggung pihak manajemen Arema Indonesia dan juga Aremania, bahwa kesulitan yang pernah dialami oleh Arema Indonesia ketika pada saat itu hampir tidak satupun pihak sponsorship mendekat justru dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu menggalang dukungan guna membentuk liga tandingan. Tanpa berfikir panjang, pihak manajemen Arema Indonesia segera mengembalikan dana pinjaman tersebut (http://www.beritajatim.com/detailnews.php/5/Olahraga/2010-10-30/82407/Tolak_LPI,_Arema_Kembalikan_Uang_Medco)

Runutan kejadian yang tidak diikuti dengan baik dan tidak dipahami dengan seksama, nampaknya menjadi sebab kenapa redaksi majalah Tempo cenderung membuat tulisan yang menyudutkan pihak Arema Indonesia. Ketika opini atau tulisan tersebut disampaikan oleh media lokal yang memiliki segmen terbatas tentunya tidak akan begitu besar dampak opini yang terjadi, namun besarnya segmen dan jaringan Majalah Tempo membuat opini yang terjadi pun semakin luas. Oleh karena itu, berbagai tanggapan dari Aremania pun dilayangkan termasuk salah satunya adalah surat terbuka yang disampaikan oleh nawak Teguh R. Handoyo sebagai berikut. Pada bagian terpisah juga akan disampaikan Klarifikasi Resmi dari pihak Arema Indonesia yang disampaikan melalui Media Officernya.

Kepada: Yth. Pimpinan Redaksi Majalah Tempo

Saya sebagai Aremania dan pendukung kemajuan sepak bola nasional merasa senang dengan pemberitaan Tempo edisi 24-30 Januari 2011 yang mengulas tentang persepakbolaan kita. Namun ada beberapa hal yang mesti diluruskan dalam pemberitaan tersebut karena kurang/tidak sesuai dengan fakta yang terjadi, antara lain:

1. Kedekatan Arema dan Nirwan Bakrie, hal ini memang benar adanya namun tidak seperti yang dicitrakan dalam tulisan tesrsebut. Nirwan memang dekat dengan semua klub Galatama waktu itu termasuk membantu secara finansial (diantaranya adalah Arema), dan Arema tidak mendapatkan keistimewaan dalam hal yang menyangkut pertandingan. Juara edisi 1992-1993 diperoleh dari hasil perjuangan berat.
2. Pertandingan Arema vs Persebaya di Malang. Tidak ada bonek di dalam stadion seperti yang diberitakan. Proses terjadinya gol memang lewat penalti yang di dapatkan karena M. Ridhuan terjatuh dalam kotak 16 meski hanya sedikit bergesekan dengan bek Persebaya. Namun saat itu posisi wasit di belakang kedua pemain dan secara sekilas terlihat seperti pelanggaran. Komentator di TV juga berpendapat sama dengan wasit sampai saat kemudian ada replay kejadian tersebut (hasil replay tidak/belum bisa dijadikan justifikasi pengambilan keputusan dalam sepak bola).
3. Arema vs Persiwa di Wamena. Tudingan bahwa Arema melakukan suap juga dilontarkan oleh pelatih Persija (waktu itu) Benny Dollo, dan dijawab Aremania dengan mengadakan nonton bareng rekaman pertandingan di Wamena yang difasilitasi oleh sebuah koran lokal di Malang. Disitu terbukti bahwa Arema menang dengan bersih. Mengenai Manajemen Arema meminta bahwa pertandingan tersebut dikawal agar berjalan dengan fair, saya rasa hal itu wajar mengingat berulangkalinya kejadian “aneh bin ajaib” setiap Persiwa bermain di kandang.
4. Arema vs Persija. Seluruh dunia juga tahu bila skor akhir adalah 5-1 untuk kemenangan Arema, bukan 2-1 seperti yang dituliskan, dan Benny Dollo menolak melakukan press conference karena terlanjur malu.
5. Apabila ada beberapa nama yang dulu turut membidani lahirnya Arema, itu adalah hak dan rezeki dia. Arema tidak mendapatkan fasilitas khusus, bahkan terlalu sering di-dzolimi oleh PSSI. Aremania jugalah yang berada di garda depan dan meneriakkan Revolusi PSSI.
6. Kontributor majalah Tempo di Malang (Abdi Purnomo) sepertinya perlu dipertanyakan kredibilitasnya karena banyaknya informasi yang tidak akurat dan menggiring opini negatif para pembaca.
7. Bapak Pemimpin Redaksi yang terhormat, Arema tidaklah suci dan sempurna. Namun kami juga tidak seburuk dan sekotor yang digambarkan dalam tulisan anda.

Saya menulis surat keberatan ini dengan tujuan agar pembaca dapat memperoleh informasi yang utuh, akurat, dan tidak sepotong-potong sehingga menjadi multitafsir. Semoga majalah Tempo dapat terus berkarya.

Salam Satu Jiwa

Teguh R. Handoyo

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Aremania Menggugat.., 9.0 out of 10 based on 1 rating

Paklek Uning

host cindai. wkakakakaka....

You may also like...

3 Responses

  1. taringi-11 says:

    Jangan hanya dg Tulisan,kita sebar keberatan di setiap kota yg ada biro Majalah Tempo..Palembang siap bergerak..memang itu urusan manajemen tp sdh menyangkut Aremania layaknya kita jg bantu dg sampaikan surat keberatan yg dr manajemen..salam satu jiwa

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. rasya indil balikpapan says:

    Hanyalah sakit hati,karena tdk dpat menarik Arema ke LPI,,, semua tau kalo Tempo sponsor LPI

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. rasya & zhaki' says:

    Biarlah anjing bergonggong,,, kafilah tetap berlalu,,semakin tinggi kesuksesan Arema, semakin banyak pula yg iri pdnya,,,

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply