Mewaspadai Semangat Taekkyeon (Jelang LCA)

Taekkyon, Beladiri tradisional Korea

Taekkyon, Beladiri tradisional Korea

Korea diyakini berasal dari kata Goryeo, salah satu dinasti terbesar di Semenanjung Korea (935-1932). Korea sendiri termasuk salah satu dari beberapa peradaban tua dunia. Budaya Tembikar sudah dimulai sejak 8.000 SM dan dan zaman neolitikum dimulai sebelum 6000 SM yang diikuti oleh zaman perunggu sekitar tahun 2500 SM. Semenanjung Korea sempat berada di bawah satu kekuasaan ketika pada 2533 SM Kerajaan Gojoseon berdiri, dan kemudian terpeca-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil pada abad ke-3 SM. Selanjutnya pada tahun-tahun awal masehi tercatat tiga Kerajaan yang paling dominan di Korea, yaitu Goguryeo, Silla dan Baekje. Ketiga kerjaan tersebut saling bersaing secara ekonomi dan  militer, hingga pada 676 Silla berhasil menyatukan kerajaan dan menjadikan Korea bersatu atau pada saat itu lebih dikenal dengan Silla bersatu. Perjalanan panjang sejarah bangsa Korea terus berlanjut, mulai dari perpecahan internal perang antar kerjaaan, hingga ancaman invasi bangsa asing mulai dari Mongolia hingga Jepang pada perang dunia ke-2. Dengan menyerahnya Jepang pada Perang dunia ke-2, PBB membuat rencana adminsitratif besama Amerika Serikat dan Uni Sovyet (saat itu). Namun, akibat perang dingin antar ideologi yang terjadi pada saat itu, Korea justru terpecah menjadi Korea Utara yang menganut paham Komunisme dan Korea Selatan yang lebih demokratis.

Korea terletak di semenanjung Korea di Asia timur laut. Di barat lautnya ia dipisahkan Sungai Amnok (Yalu) dengan Republik Rakyat Cina. Sungai Duman di timur lautnya memisahkan Korea dengan Rusia dan RRC. Beberapa pulau-pulau penting antara lain Jeju, Ganghwa, Ulleung, Dokdo,Jindo, Geoje, dan sebagainya.

Bagian selatan dan barat Korea adalah dataran rendah dan sebelah timur dan utara memanjang rangkaian pegunungan Baekdu Daegan sepanjang semenanjung. Dataran tinggi Gaema berada di wilayah Korea Utara dan merupakan produk vulkanis dari zaman meszoikum. Titik-titik tertinggi termasuk Gunung Baekdu (2774), Sobaeksan (2184 m), Jirisan (1915), Baeksan (1724),Geumgangsan (1638), Seoraksan (1708), Taebaeksan (1564) dan sebagainya. Beberapa gunung lebih rendah berada tegak lurus dengan jaringan Baekdu Daegan, sebagian besar berkembang di garis tektonik dari zaman mesozoikum, dan pada dasarnya mengarah ke barat laut.

Tidak seperti pegunungan yang lebih tua di daratan semenanjung, banyak pulau-pulau penting dibentuk oleh aktivis vulkanik zamancenozoikum. Jeju yang terletak di pesisir selatan adalah pulau vulkanik besar dengan puncak Hallasan (1950 m). Ulleung-do dan Dokdo di laut timur terdiri dari batuan felsik dan berusia lebih muda.

Sebagaimana menjadi ciri khas kebudayaan tua dunia, demikian juga dengan Korea yang juga dialiri oleh sungai-sungai besar. Karena daerah pegunungan sebagian besar terletak di sebelah timur semenanjung, sungai-sungai utama cenderung mengalir ke sebelah barat dan selatan. Di barat mengalir sungai Amnok,  Chŏngchŏn,  Daedong,  Hangang,  Geum,  Yeongsan,  Nakdong,  Seomjin dan sebagainya. Sungai-sungai ini memiliki dataran banjir yang luas dan menyediakan tanah yang subur untuk pertanian.

Bahkan, perkembangan pesat Produk Domestik Bruto (PDB) Korea Selatan dari sekitar US$ 3 M pada 1962 menjadi US$ 204 M pada 1989 dan menyentuh 1 Trilliun US$ pada 2007 atau setara dengan negara-negara maju Eropa, dikenal dengan istilah Kejaiban di Sungai Han.

Dalam hal Kebudayaan,  Kebudayaan garis keluarga di Korea adalah berdasarkan atas sistem Patrilinial. Pria memegang peranan penting dalam kesejahteraan keluarkan dan diwajibkan untuk bekerja. Wanita diperbolehkan untuk bekerja hanya kalau diperbolehkan oleh suami atau jika hasil kerja suaminya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tugas utama wanita adalah untuk mengasuh anak dan menjaga rumah.

Budaya perkawinan Korea sangat menghormati kesetiaan. Para janda, walaupun jika suami mereka mati muda, tidak dizinkan menikah lagi dan harus mengabdikan hidupnya untuk melayani orang tua dari suaminya. Begitu juga yang terjadi pada seorang duda yang harus melayani orang tua dari istrinya walaupun istrinya tersebut mati muda.

Sebagaimana lazimnya kebudayaan tua yang menganut keyakinan Dynamisme, demikian pula dengan Korea. Hal ini masih terlihat dari budaya dan kebiasaan yang diwariskan hingga kini.  Ada sebuah tradisi / kebiasaan yang cukup terkenal di Korea. Tradisi ini dinamakan “sesi custom”. Tradisi sesi dilaksanakan sekali setiap tahun. Sesi adalah sebuah tradisi untuk mengakselerasikan ritme dari sebuah lingkaran kehidupan tahunan sehingga seseorang dapat lebih maju di lingkaran kehidupan tahun berikutnya.

Tradisi sesi dilaksanakan berdasarkan kalender bulan (Lunar Calender). Matahari, menurut adat Korea , tidak menunjukkan suatu karakteristik musiman. Akan tetapi, Bulan menunjukkan suatu perbedaan melalui perubahan fase bulan. Oleh karena itu, lebih mudah membedakan adanya perubahan musim atau waktu melalui fase bulan yang dilihat.

Dalam tradisi sesi, ada lima dewa yang disembah, yaitu irwolseongsin (dewa matahari bulan dan bintang), sancheonsin(dewa gunung dan sungai), yongwangsin (raja naga), seonangsin (dewa kekuasaan), dangasin (dewa rumah). Kelima dewa ini disembah karena dianggap dapat mengubah nasib dan keberuntungan seseorang.

Pada hari di mana sesi dilaksanakan, akan diadakan sebuah acara makan malam antar sesama keluarga yang pertalian darahnya dekat (orang tua dengan anaknya). Acara makan wajib diawali dengan kimchi dan lalu dilanjutkan dengan “complete food session”.

Ada juga mitos lain dalam memperoleh keberuntungan menurut tradisi Korea, antara lain “nut cracking” yaitu memecahkan kulit kacang-kacangan yang keras pada malam purnama pertama tahun baru, “treading on the bridge” yaitu berjalan dengan sangat santai melewati jembatan di bawah bulan purnama pada malam purnama pertama tahun baru yang katanya dapat membuat kaki kita kuat sepanjang tahun, dan “hanging a lucky rice scoop” yaitu menggantungkan skop (sendok) pengambil nasi di sebuah jendela yang katanya akan memberi beras yang melimpah sepanjang tahun.

Selain Taekwondo, Taekkyon dikenal sebagai olahraga tradisional bangsa Korea.  Taekkyeon mempunyai teknik mengunci, menanduk, menendang yang sangat bervariasi. Gerakkannya sangat ringan dan lentur, seperti orang yang menari dan terus menerus bergerak. Walau banyak yang menganggap taekkyeon mirip taekwondo, sebenarnya teknik dan prinsipnya sangat berbeda jauh.

Taekkyeon memakai banyak jurus sapuan tendangan bawah yang seakan membentuk bulan sabit. Gerakan tendangan bawah terdiri dari 10 jurus berbeda yang dinamakan “ddanjuk”.

Saat taekkyeon dipertandingkan sebagai kompetisi, teknik-teknik yang diizinkan hanyalah gerakan tendangan dan mengunci. Nilai didapat saat berhasil menjatuhkan lawan ke tanah atau keluar ring, juga pada saat tendangan mengenai kepala lawan. Gerakan-gerakan tangan atau menanduk apalagi melukai lawan sama sekali tidak diperbolehkan. Tendangan yang mengarah pada kepala umumnya cukup keras, tetapi tidak diizinkan dengan kekuatan penuh. Pemenang kompetisi kdang-kadang diputuskan dengan 3 kali kejatuhan yang dianggap paling bagus. Kontestan yang pertama kali menciptakan skor 2 poin dianggap menang. Namun aturan yang berbeda-beda diterapkan oleh masing-masing asosiasi taekkyeon yang sah. Bagi orang awam, pertandingan mungkin terlihat terlalu berhati-hati, namun sebenarnya terasa menegangkan bagi kedua kontestan. Keduanya mungkin akan berputar-putar atau berganti-ganti gerakan kaki sebelum melakukan tendangan keras secara tiba-tiba.

Jika kita mengingat bagaimana Tim Nasional Korea Selatan berlaga pada Piala Dunia 2002 bagaimana mereka bermain tak kenal lelah dengan gerakan yang terus menerus, dan keahlian bangsa Korea dalam seni memainkan kaki, sebagaimana rata-rata olehraga beladiri tradisionalnya yang cenderung lebih banyak menggunakan kaki, bukan hal yang aneh jika dalam olahraga modern seperti Sepak Bola saat ini bangsa Korea tercatat sebagai  salah satu yang terbaik di kawasan Asia.

Karakter ngeyel yang bergerak terus menerus sedikit banyak mirip dengan karakter ngeyel anak-anak Singo Edan yang pada hari Rabu nanti (16 Maret 2011) akan menghadapi peringkat 3 K-League tahun lalu Jeonbuk Hyundai Motors. Seperti halnya team dari Jepang Cerezo Osaka yang menganggap remeh Arema Indonesia, demikian pula dengan Jeonbuk FC. Hal ini merupakan kesempatan bagi para Singa untuk menunjukkan talenta dan semangat juangnya. (lek).

Disadur dari berbagai sumber.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Paklek Uning

host cindai. wkakakakaka....

You may also like...

1 Response

  1. Exo Aremania says:

    Kita akan Hadapi Bangsa korea dengan sejarah Panjangnya dan kehebatan Kompetisinya…tap[i harus diingat…Kita Bangsa dari Bhumi Arema yg selalu ngotot dan pantang Menyerah melawan siapapun ..tak terkecuali Jeonbuk yg terasah dikompetisi yg Hebat….Lawan..kerja Keras adalah tipikal Laskar Singo Edan….LAWAN…jabat Erat Resfato…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply