Vox Populi Vox Dei

Vox Populi Vox Dei, ucapan tersebut seringkali kita dengar dalam berbagai hal yang terkait dengan konteks politik dan demokrasi. Arti dari Kalimat berbahasa Yunani tersebut kurang lebih adalah “suara rakyat suara Tuhan”. Bukan dalam arti kata mempersonifikasikan Tuhan ataupun sebaliknya, menuhankan peran manusia, Kalimat ini lebih berarti mengenai betapa besar kekuasaan yang dimiliki oleh rakyat, dalam arti kata, dalam suatu konsep pemerintahan demokratis, keputusan tertinggi berada di tangan rakyat. Tentunya tidak mungkin diartikan secara harfiah bahwa setiap rakyat berhak untuk mengeluarkan keputusannya sendiri-sendiri, namun ada mekanisme tertentu yang dianut dengan cara yang berbeda-beda oleh masing-masing wilayah teritorial yang berada dalam batasan wilayah Negara.

Dalam konteks sepak bola, dalam hal ini adalah club sepakbola, sebagaimana sedikit diuraikan dalam artikel sebelumnya (Baca : Go A Head Arema Indonesia), bahwa di bebeapa negara Sepakbola maju telah menganut suatu system dimana kepemilikan sebuah club bukan lagi berada di tangan pengusaha konglomerasi pemegang saham, namun beralih pada Suporter. Dalam konsep kepemilikan sebelumnya pun, dimana club sepakbola dimiliki oleh para Pengusaha yang kebanyakan konglomerat memiliki sebuah club dalam bentuk saham. Dalam kutipan dari Wikipedia, saham itu sendiri adalah satuan nilai atau pembukuan dalam berbagai instrumen finansial yang mengacu pada bagian kepemilikan sebuah perusahaan. Dengan demikian, kepemilikan club yang di wujudkan dalam bentuk saham menimbulkan pengertian bahwa club tersebut berbentuk Perusahaan (Badan usaha). Sedangkan Perusahaan adalah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya semua faktor produksi, dengan tujuan dan fungsi usaha adalah untuk mendapatkan untung (profit) dengan cara yang sah menurut hukum.

Sepakbola itu sendiri sebelumnya hanyalah sebatas salah satu jenis olah raga yang dimainkan oleh 2 team yang masing-masing beranggotakan sebelas orang dengan peraturan-peraturan yang telah disepakati. Dalam era industrialisasi sepak bola, Sepak Bola mengalami perluasan makna menjadi profesi yang “mempekerjakan” orang-orang yang profesional dibawah satu kelembagaan formal yang berorientasi pada hasil atau keuntungan. Profit oriented ini menjadi ciri khas suatu industri dimana para pelaku industri adalah pengusaha dengan perusahaannya. Dengan konsep seperti ini, maka juara tidak lagi hanya sebatas menjadi gelar, namun akan menjadi pencapaian ekspektasi tertinggi dari kinerja suatu team, dan yang paling penting, juara juga akan menjadi nilai jual yang tinggi bagi pelaku usaha didalamnya.

Dalam suatu upaya usaha, konsekuensi yang didapatkan adalah jika tidak mendapatkan keuntungan, maka akan merugi. Kondisi ini juga lumrah terjadi di dunia industri sepakbola. Ketika sebuah club mengalami keuntungan besar, maka dia akan berupaya untuk lebih meningkatkan nilai jualnya, dengan cara misalnya melakukan pembelian pemain-pemain tersohor dengan harapan bisa meraup untung besar dari merchandise/appareal resmi yang mencantumkan nama dan nomor punggung pemain tersebut. Dalam konteks bisnis hal ini adalah hal yang sangat luar biasa, namun dalam konteks kebutuhan suatu team, belum tentu pembelian pemain ini akan membuat kinerja (permainan) team menjadi lebih baik. Dan ketika sebuah club mengalami kerugian, maka sebaik apapun team yang dimiliki club tersebut harus siap untuk menanggung resiko, seperti yang terjadi pada Fiorentina beberapa tahun yang lalu misalnya, ketika dinyatkaan pailit, dan dianggap tidak mampu mengikuti kompetisi (dari segi finansial) maka salah satu dari The Magnificient Sevent ini harus siap untuk di degradasi secara paksa.

Beberapa club besar saat ini juga tengah mengalami ancaman serupa, seperti halnya Manchester United, akibat pembelian yang dilakukan oleh Glazer dengan cara hutang dan penanganan manajemen yang salah, maka salah satu club terbesar di EPL ini saat ini harus menanggung hutang dalam jumlah yang hampir setara dengan APBN kita. Menengok apa yang telah sukses dilakukan Barcelona beberapa tahun terakhir, melihat pula bagaimana Bundesliga menjadi liga paling sehat dan paling profit di Eropa meskipun dengan harga tiket paling murah di Eropa, Red Army (suprter MU) berupaya mengumpulkan dana untuk membeli club dari Glazer. Kepemilikan club oleh suporter menjadi trend baru di dunia Sepak Bola Eropa bisa jadi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dan tentunya, faktor paling dominan adalah dukungan dan kecintaan suporter terhadap team. Dalam industri sepakbola pun, faktor ini (suporter) juga dianggap salah satu faktor dominan. Dengan dukungan suporter/fans club yang besar dan menggurita di seluruh dunia, bisa dipastikan bisnis akan berjalan dengan lancar, brand dari pihak sponsor pun akan dikenal semakin luas.

Namun, adanya resiko bisnis yang juga cukup besar menjadikan berbagai club menjadi was-was akan mengalami resiko terburuk. Dan untuk mengantisipasi hal itu, atas dasar loyalitas dan kecintaan, suporter mengambil alih kepemilikan club. Dengan dimiliki oleh suporter, yang mendukung secara total dan tidak mengharapkan tendensi keuntungan, diharapkan keberlanjutan sebuah club dalam kompetisi akan dapat terjaga.

Loyalitas Aremania, Potensi besar Arema Indonesia

Hal ini mungkin hal baru untuk diterapkan di Negara kita, alih-alih kepemilikan oleh suporter, Era sepakbola industri saja kita belum pernah mengalami. Tapi jika di tempat lain sudah memberikan kita pelajaran bahwa sepak bola industri adalah cara yang kurang bijak dalam membangun dunia persepakbolaan, dan orang lain telah menyediakan kesimpulan kepada kita, kenapa kita harus bereksperimen ikut melaluinya?. Dengan besarnya basis dukungan dan loyalitas yang luar biasa yang ditunjukkan oleh suporter di tanah air, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa konsep kepemilikan club oleh suporter adalah cara yang paling tepat untuk menjadikan lebih maju dunia persepakbolaan kita.

Yang harus dipahami adalah kepemilikan club oleh suporter bukan berarti kemudian club akan dikelola oleh suporter. Dan juga tidak perlu ada ketakutan akan terjadi perpecahan diinternal pendukung ketika berbicara profit club. Jika kita mengaju pada apa yang dilakukan oleh Barcelona, mekanisme yang dianut adalah dengan menggunakan suatu wadah atau perkumulan. Dengan beranggotakan 170.000 (seratus tujuh puluh ribu orang) dimana masing-masing anggota membayar iuran sebesar 140 Euro setiap tahunnya. Jumlah ini, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga tiket terusan untuk satu musim pertandingan (harga tiket untuk kelas termurah rata-rata adalah 84 Euro). Selanjutnya dana segar yang diperolah dari iuran tersebut akan digunakan untuk operasional perkumpulan yang membawahi club.

Dalam sebuah perkumpulan dengan jumlah anggota sebanyak itu, tentunya dibutuhkan suatu mekanisme keterwakilan untuk menyuarakan segala keputusan dan kebijakan perkumpulan. Dalam hal ini, perkumpulan secara rutin dan periodik menyelenggarakan sebuah mekanisme pemilihan presiden/dewan eksekutif dalam sebuah kongres yang diikuti oleh representasi dari seluruh peserta perkumpulan tersebut. Ada mekanisme tepisah pula untuk memilih perwakilan yang akan hadir di dalam kongres.

Selanjutnya, dewan eksekutif yang terpilih akan menduduki posisi setara dengan komisaris dalam dunia industri sepakbola. Sedangkan posisi direksi dan kebawah adalah para pekerja profesional yang bekerja di digaji secara profesional sebagaimana layaknya club sepakbola. Peran-peran usaha seperti ticketing, sponsorship, merchandise, dll tetap ada. Dan jika setelah dilakukan perhitungan di akhir musim ternyata club mendapatkan profit, maka Barcelona (perkumpulan) sepakat untuk mengalokasikan seluruh profit tersebut dalam bentuk sosial. Ada berbagai lembaga sosial yang dibiayai dan di sumbang oleh Barcelona, yang paling nampak adalah yang dalam beberapa tahun terakhir selalu menemani di jersey team yaitu Unicef, sebuah lembaga sosial dibawah PBB yang bergerak untuk anak-anak dan pendidikan. Dengan kata lain, secara tidak langsung perkumpulan Barcelona ada karena fungsi sosial yang dia miliki.

Dapat kita bayangkan jika hal ini terjadi di negara kita, khususnya Malang, yang memiliki basis suporter terkuat di Indonesia, dengan sebaran yang tidak hanya berada di Malang Raya, namun tersebar di seluruh pelosok nusantara bahkan di luar negeri. Tentunya besarnya basis suporter ini menjadikan potensi untuk pemilikan club berbasis suporter dan jika dilaksanakan berbarengan dengan mengemban fungsi sosial yang diutamakan untuk wilayah Malang Raya, maka pembangunan dan perbaikan diberbagai bidang akan dilaksanakan dan di support oleh kita sendiri. Semoga ini bukan hanya sebatas mimpi. (lek)

 

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Paklek Uning

host cindai. wkakakakaka....

You may also like...

41 Responses

  1. Bro Fahroe says:

    yo ngene iki sing dikarepno,…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply