Nyatakah Universalitas Aremania (Tanggapan artikel Universalitas Aremania)

Senayan, 30 Mei 2010. Saat ini Puluhan ribu Aremania berkumpul, asli Malang atau bukan tapi tetap dalam satu semangat, satu jiwa.

Ketika membaca artikel aremasenayan.com yang berjudul Universalitas Aremania saya tertarik dengan kalimat ini.

Ono malah sing kadit osi ngomong owoj tapi gak pernah absen ke stadion setiap arema Niam. Di luar Malang, bahkan ada yang tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Malang, namun bangga beridentitas sebagai Aremania.

Kenapa saya tertarik? Mungkin ini bisa menjadi salah satu bukti dari universalitas Aremania. Ya, karena saya bukanlah orang asli Malang. Saya justru lahir di Bandung dan besar di Pekanbaru, Riau. Saya sempat menggemari Persib Bandung dan PSPS Pekanbaru. Terutama ketika PSPS membentuk The Dream Team di awal-awal tahun 2000-an.(FYI, umur saya sekarang 19) Namun, saya tidak menemukan sesuatu yang membuat saya benar-benar setia terhadap dua tim itu. Kemudian perhatian saya tertarik kepada sebuah tim, yaitu Arema.

Apa yang membuat saya tertarik dengan Arema? Kebetulan saya mempunyai kakak laki-laki yang kuliah di Malang. Dari dialah saya menerima cerita-cerita mengenai Arema. Dan tahukah apa yang selalu diceritakan? Tentang AREMANIA.

Itu lah yang membuat saya mulai tertarik dengan Arema. Kreatifitas serta keloyalitasan Aremania yang terus diceritakan oleh kakak saya itu seolah menyita perhatian saya. Memang benar apa yang ditulis di artikel tersebut bahwa yang menjadi magnet warga luar Malang ada 3 faktor,

  1. Kreatifitas Aremania. Dalam setiap laga kandang dan tandang, dimana Aremania selalu memberikan dukungan dalam bentuk atraksi yang menarik, nyanyian dan lagu2 yang memberikan semangat dan menghibur, tarian yang atraktif.
  2. Sportifitas Aremania. Kalah dan menang adalah bagian dari permainan, dan setiap kemenangan adalah kado terindah bagi Aremania, sedangkan kekalahan bukanlah menjadi alasan untuk membuat ulah dan kerusuhan seperti yang dilakukan beberapa kelompok suporter lain dan uniknya, media seolah-olah sangat hobi sekali untuk mengekspose hal hal semacam ini (kerusuhan suporter) dibanding persahabatan suporter.
  3. Pesan Damai. Aremania selalu membuka tangan lebar-lebar bagi siapapun suporter team Tamu yang berkunjung ke Malang. Dan hal ini tentunya berbalas dengan sambutan meriah mereka jika Aremania berkunjung. Lambat laun, hal ini menjalin persahabatan yang semakin meluas, sehingga hampir di semua tempat di negeri ini, Aremania adalah sahabat yang baik. Mereka datang dengan damai, membeli tiket dengan tertib, dan pulang tanpa meninggalkan jejak kerusuhan.

Saya mulai menonton Arema berawal saat final Copa Indonesia 2005, saya melihat aksi Firman Utina sampai sekarang yang saya sepertinya telah benar-benar cinta mati pada Arema.

Saya tidak bisa berbahasa jawa namun saya bisa mengerti saat orang berbicara jawa. Saya pernah ke Malang, namun saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Gajayana ataupun Kanjuruhan. Namun, saya benar-benar bangga beridentitas Aremania.

Saya sempat bergabung dengan Aremania Pekanbaru dan nawak-nawak yang semua memang asli Malang menerima saya dan menempatkan saya sebagai saudara mereka juga. Padahal terhitung saya bukan asli ngalam dan saya tidak bisa berbahasa jawa.

Sekarang saya berada di Jakarta, saya ingin sekali bergabung dengan saudara-saudara saya yang bergabung di Arema Senayan. Namun keterbatasan waktu dan transportasi terus menghalangi saya untuk bergabung dengan mereka yang sudah saya anggap saudara meski belum pernah bertemu.

Sekarang, yang saya tanyakan. Apakah kalian, Aremania yang benar-benar asli Malang bisa betul-betul menerima orang-orang seperti saya, Aremania yang bukan asli Ngalam? Apakah nantinya kalian bisa memperlakukan kami dengan hangat seperti ketika kalian saling bertemu sesama Kera Ngalam?

Kalau terbukti bisa, maka universalitas Aremania pun semakin benar adanya. Rasa cinta saya pun akan semakin besar dan saya menjadi semakin yakin dengan slogan “Salam Satu Jiwa” yang diiringi dengan perbuatan nyata, virus persatuan serta jiwa dan semangat Aremania mampu mempengaruhi seantero negeri yang kita cintai ini.

Salam Satu Jiwa, Arema Indonesia

Oleh: Rizki Prasetyo Hutomo

original post : http://hoshizoraku.blogspot.com/2011/04/nyatakah-universalitas-aremania.html?sms_ss=twitter&at_xt=4da8607cddfdde8b,0

 

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)
Nyatakah Universalitas Aremania (Tanggapan artikel Universalitas Aremania), 10.0 out of 10 based on 1 rating

Paklek Uning

host cindai. wkakakakaka....

You may also like...

3 Responses

  1. Raden says:

    Salam Satu Jiwa, jika kalian Aremania kita adalah saudara

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Akucintaandreasluckylukwira says:

    Tenang saja, saya jg g bs bahasa jawq…malah g minat bljr bahasa jawa meski ortu saya berasal dr Gombong n Malang…yg jstrusy cibta mati adalah bahasa yg dpakai Aremania, osob kiwalan alias bahasa walikan…salam sati jiwa

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Arema_bersatu87 says:

    Boikot arema IPL dan arema ISL agar arema kembali bersatu
    gabung group FB ne sam

    salam satu jiwa

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply