Bincang bareng Pak Jenderal

Untuk Sepakbola Indonesia

“Pemimpin yang baik adalah dia yang mau melanjutkan kebaikan pendahulunya dan meninggalkan keburukannya tanpa mencaci” (Agum Gumelar)

Bertempat di sebuah tempat di kawasan Dharmawangsa, melalui bung Jojo Wahab. Pak Jend. (Purn) Agum Gumelar berkeinginan untuk berjumpa dengan nawak-nawak dari komunitas Suporter Aremania. Beberapa nawak-nawak Arema Senayan yang beberapa hari sebelumnya sempat berbincang dengan bung Jojo Wahab yang merupakan putra dari mantan Ketua Umum PSSI Abdul Wahab Djojohadikoesoemo (1960-1964) di kediamannya bersama dengan beberapa dulur dari komunitas suporter yang lain membahas perkembangan Sepak Bola yang semakin semrawut. Keprihatinan bersama atas kemelut, tragedi, dan ambisi yang mewarnai konflik PSSI menjadi semakin ruwet.

Kakek dari Natarina Alika Hidayat anak dari Amy Gumelar dan pebulutangkis Taufik Hidayat ini terkesan kalem dalam berbicara, menghargai lawan bicaranya, mendengar pendapat orang lain, namun bukan termasuk orang yang mudah dipengaruhi. Jendral yang semasa memimpin PSSI lebih memilih produk selain rokok sebagai sponsor liga ini berkesempatan menceritakan bagaiman ketika beliau ditunjuk oleh FIFA sebagai Ketua Komite Normalisasi. Setelah mendapatkan berita tentang penunjukan ketua dan anggota PSSI, segera pak Agum mengumpulkan seluruh anggota Komite Normalisasi di ruang rapat PSSI. Dan kalimat pertama yang disampaikan adalah : Saya tidak mau dan tidak ingin tahu dari mana anda semua berasal, saya juga tidak mau tahu di kelompok mana anda berpihak ketika terjadi Kisruh PSSI. Yang saya mau adalah, mari kita melihat kedepan, menyongsong sepakbola Indonesia yang lebih baik. Sembari memberikan pin Merah Putih kepada masing-masing anggota Komite Normalisasi.

“Pin Merah Putih yang saya berikan bukan sekedar Pin, tapi sebagai semangat bersama bahwa kepentingan bangsa dan negara adalah diatas segalanya” ujar pak Agum. “Janganlah terlalu lama kita melihat kebelakang, yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita songsong dan kita siapkan masa depan yang lebih baik” lanjut beliau. Mantan ketum PSSI ini juga sempat bernostalgia dengan Aremania. Dimana pada saat menjabat sebagai Ketua Umum PSSI, ketika itu Arema Malang (saat itu) lolos ke babak delapan besar Kompetisi Divisi Utama yang saat itu merupakan kasta tertinggi sangat terkesan dengan ribuan Aremania yang datang ke Jakarta untuk mendukung team kesayangannya. Dan beliau lebih terkesan lagi ketika Arema Indonesia (saat itu masih bernama Arema Malang) tidak lolos ke Semi Final, ribuan Aremania pulang dengan tertib kembali ke Malang tanpa meninggalkan jejak kerusuhan. Atas dasar hal ini, beliau mengusulkan kepada pengurus PSSI lainnya untuk memberikan gelar Aremania sebagai suporter terbaik, dan usul beliau disetujui secara aklamasi. Bahkan Pak Agum sendiri yang mengantarkan gelar Suporter terbaik ke kota Malang.

Menjawab pertanyaan tentang kisruh PSSI, pak Agum sangat sedih sekali setiap kali mendengar ada yang mengabaikan FIFA dan bahkan mengatakan “go to hell FIFA”. Beliau juga menceritakan bagaimana ketika berdebat dengan Direktur Keanggotaan dan Pengembangan Asosiasi FIFA Thierry Regenass ketika memperjuangkan 3 nama selain Nurdin Halid yang tidak diperbolehkan oleh FIFA untuk mencalonkan diri pada bursa pimpinan PSSI. Pak Agum sempat memanggil nama pejabat FIFA tersebut tanpa embel-embel Mister (pak) ketika disangka beliau telah diintervensi oleh Kelompok 78, dengan lugas beliau mengatakan “Karena saya adalah orang yang mau mendengar pendapat, jangan dikira saya adalah orang yang bisa dikendalikan”. Ketegasan dan keberanian mengambil sikap seorang mantan DanJen Kopassus yang sempat dua kali hampir pulang nama itu rupanya masih melekat dalam pribadi beliau.

Bagi FIFA, suatu hal amat sangat tabu, ketika ada sebuah Liga Tandingan di sebuah federasi. Bukan tujuan adanya liga itu yang dipermasalahkan, tapi adalah cara dengan menggunakan Liga Tandingan itu yang dipermasalahkan. Jika FIFA mendiamkan dan bahkan menyetujui adanya Liga Tandingan itu, bukan tidak mungkin hal itu akan dicontoh di federasi lain. “Lucu bukan jika kemudian Liga Champion Eropa juga ada tandingannya?” kelakar beliau. Dan salah satu calon yang ditolak adalah penggagas liga tandingan yang bagi FIFA adalah hal yang haram jadah. Sedangkan calon lainnya dianggap FIFA satu paket dengan yang lain. Wal hasil, alasan apapun yang digunakan, FIFA melalui Presidennya Sepp Blatter dan Direktur Keanggotaan dan Pengembangan Asosiasi FIFA Thierry Regenass tetap bersikukuh menolak beberapa calon tersebut.

Lebih lanjut menurut pak Agum, bukan hanya olahraga Sepakbola itu sendiri yang akan dirugikan jika Indonesia sampai di Suspened oleh FIFA. Multiplayer effect (efek berantai) dari terselenggaranya olahraga Sepakbola juga akan terpengaruh. Ambil contoh saja bagaimana dengan televisi penyiar Liga Eropa (yang diakui FIFA), masyarakat penikmat sepakbola bermutu Liga Eropa (yang diakui FIFA), penjual atribut Klub Sepakbola Lokal dan Internasional yang tersebar seperti jamur di musim hujan, yang notabene adalah industri kecil dan menengah. Belum lagi arus suporter yang datang ke stadion yang menimbulkan dampak positif perekonomian pula bagi masyarakat sekitar stadion. Oleh karena itu, sudah seharusnya seluruh masyarakat pecinta sepakbola Indonesia untuk tetap menjaga semangat Sepakbola sebagai alat perjuangan bangsa sebagaimana yang didengungkan oleh pendiri PSSI. Ir.Soeratin.

Pertemuan itu ditutup dengan ucapan nawak-nawak : “Sebagai Masyarakat pecinta Sepakbola, kami mendukung pak Agum dan KN untuk menggelar Kongres PSSI yang bersih dari suap, KKN, dan intervensi pihak manapun. Demi Sepakbola Nasional yang lebih baik” (lek)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Paklek Uning

host cindai. wkakakakaka....

You may also like...

1 Response

  1. Exo_arsen11 says:

    lanjutkan langkah Tegasmu pak Jendral….Suporter pecinta merah putih selalu mendukung utk “PERUBAHAN”…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply