Pelatih & Ayah Tiri

Oleh : Johannes Sugianto

Ada istilah baru di kalangan pecinta bola, seperti ramai di media atau celetukan di internet yaitu “ayah kandung” bagi Alfred Riedl dan “ayah tiri” untuk Wilhelmus Gerardus Rijsbergen. Sebutan ini bukan hanya soal prestasi yang diraih timnas Indonesia tapi juga pada sikap dan tindak tanduk seorang pelatih.

Tugas pelatih memang tak mudah. Kursi paling panas di dunia adalah kursi pelatih, begitu yang sering terdengar. Ada yang dipecat hanya beberapa minggu saja, tak peduli punya nama atau tidak. Tolok ukurnya adalah sajian kemenangan, memenuhi target sang pemilik klub atau Negara yang merekrutnya.

Namun dalam soal ‘ayah kandung’ dan “ayah tiri” tentu bukanlah prestasi yang dibicarakan, tapi sosok teman, ayah atau saudara bagi pemain. Bambang Pamungkas dalam web pribadinya ketika menyinggung pertemuan dengan Alfred Riedl, mantan pelatih timnas yang dipecat begitu saja oleh PSSI, mengatakan “Pertemuan saya, Firman, Markus, Wolfgang dan Alfred sendiri lebih kepada ucapan perpisahan dalam kapasitas sebagai sahabat, tidak lebih dan tidak kurang. Dan apakah ada yg salah mengenai hal tersebut, saya rasa tidak.”

Memang tak ada yang seratus persen memenuhi kriteria sebagai pelatih yang baik. Dosen psikologi untuk jurusan guru sepakbola di Universitas Olahraga Köln, Werner Mickler mengatakan, “Pelatih harus pintar-pintar menyesuaikan diri dengan situasi”. Ia memberi contoh seorang pelatih yaitu Jupp Heynckes. “Dia bukan hanya pelatih, dalam arti ia mengajarkan pemain apa yang harus dilakukan. Tapi seseorang yang bisa membantu seorang pemain berkembang. Ia punya banyak pengalaman hidup hingga mampu membantu seseorang menjalani hidup.”

Sedang Leo Beenhakker yang akrab dengan pemain-pemainnya mengatakan: “Paling sulit adalah mengatur 23 pemain yang masing-masing punya kemauan sendiri.” Bagi Beenhakker pelatih harus memberi kehangatan dan para pemain harus merasa aman dengan pelatih. “Saya tidak bisa melatih pemain yang tidak saya cintai. Cinta itu saya perlihatkan dengan keakraban.”

Pelatih Wim Rijsbergen yang disorot karena kekasarannya memaki dan menyalahkan pemain atas kekalahan timnas Indonesi dari Bahrain mungkin bisa belajar dari para pelatih lain yang jauh lebih punya torehan prestasi. Setidaknya mengingat kembali ucapan Leo Beenhakker yang pernah melatih Trinidad dan Tobago, dan ketika itu Wim sebagai asistennya.

Tak mudah menjadi ayah tiri, dan jika tak berubah atau tetap dipertahankan posisinya, maka pemain timnas akan makin kehilangan sosok ayahnya. Malah akan menjadi luka menganga ketika induk semang terus tak mau mengerti, bahkan siap menghukumnya hanya karena bertermu seorang sahabat yang pernah menjadi ayahnya ketika berlatih.***

Penyair dan pengamat sepak bola.

Dimuat di Koran GoSport edisi Jumat, 16 09 11

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

You may also like...

1 Response

  1. Dulu, walau kita kalah , tp kita pulang dengan kepala tegak & penuh kebanggaan. Bangga atas permainan yg tak kenal lelah, yang menghibur, yang bener2 maen bola.

    Kemarin, kita kalah, & kita meninggalkan tribun stadion dengan penuh tanda tanya (????) kenapa bisa seperti itu.
    & ternyata, mmg ada sesuatu yg salah “didalamnya”

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply