Kompetisi Ego & Semangat balas budi

Oleh Johannes Sugianto

 

Seorang wartawan bertanya kepada manajer sebuah klub yang dalam kompetisi Liga Indonesia tetap bertahan dalam 18 klub professional. “Mas, kapan ada manager meeting untuk verifikasi agar klub sampeyan tetap lolos untuk kompetisi mendatang?”.

 

Sang manajer dengan tenangnya menjawab “Manager meeting?  Apa yng mau dimeetingkan?  Format kompetisinya masih mengambang, plus belum bakunya badan liga alias penyelenggaran kompetisinya”. Sang wartawan manggut-manggut, sembari terheran akan kenyataan kompetisi liga professional saat ini.

 

Dialog itu terjadi beberapa hari sebelum PSSI memutuskan bahwa kompetisi tetap dalam format 1 wilayah, bukannya 2 wilayah seperti digembar-gemborkan selama ini oleh mereka sendiri. Keputusan itu ditentukan dalam rapat Komite Eksekutif PSSI di sebuah hotel berbintang di Jakarta  (16/9). “Verifikasi ketat tetap akan dilakukan dan klub peserta nantinya belum tentu berasal dari ISL semua. Hanya klub-klub yang sudah profesional yang bisa turun di kompetisi tertinggi di Indonesia,” ujar Djohar Arifin, Ketua Umum PSSI.

 

Soal peserta kompetisi sebenarnya sudah ditentukan oleh PSSI sendiri dari hasil putaran yang ada, dengan 4 tim yang promosi. Jika dilakukan verifikasi, sesuai 5 aspek yang ditentukan AFC (finansial, legal, keolahragaan, infrastruktur dan administrasi perseorangan).,Jika nantinya ada beberapa dari 18 peserta Liga Indonesia gugur, apakah tak mengusik rasa keadilan? Klub-klub ini sudah berdarah-darah dalam perjuangannya untuk tetap bertahan atau naik pangkat (promosi). Apalagi mepetnya waktu yang ada yaitu 3 bulan saja.

 

Semestinya PSSI sebagai mbah-nya klub-klub ini benar-benar memerankan dirinya sebagai pelindung dan bukannya memaksakan kehendak, menuruti semua perintah AFC tanpa mau menjelaskan permasalahan dalam dunia persepakbolaan sendiri. Apakah klub LPI yang tanpa APBD sudah disebut profesional dengan mengandalkan financial, legal dan administrasi semata? Lapangan juga masih menyewa seperti halnya beberapa klub di Liga Indonesia. Belum lagi bicara aspek di luar 5 kriteria yang ada yaitu penonton dan supporter misalnya.

 

Belum lagi bicara tentang pemulihan status Persibo Bojonegoro dan Persema Malang yang mestinya dilakukan dalam Kongres PSSI. Jika kedua klub ini lolos atas dasar pemenuhan 5 kriteria, maka bisa dikatakan pengurus PSSI sendiri menginjak-injak Statutanya sendiri. Ironis, karena selama ini mereka menghujat kepengurusan sebelumnya soal hal yang sama.

 

Keadilan rasanya makin menjauh dibenamkan ego balas dendam dan balas budi. Berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Seperti dikatakan penyair Rendra dalam “Pamplet Cinta”nya: “Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sekat. / Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan / adalah penindasan”.

 

*Penyair dan pengamat sepak bola

 

Dimuat di Koran GoSport edisi Selasa, 20 Sept 2011

Link : http://www.facebook.com/#!/notes/yo-sugianto/kompetisi-ego-semangat-balas-budi/10150326172164310

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

ArSen

AreMa Senayan

You may also like...

Leave a Reply