Sebenarnya…

Opini Johannes Sugianto

 

SEBENARNYA tak adil jika membicarakan apa yang telah diperbuat oleh para tokoh ketika berkuasa di PSSI dalam kurun waktu hanya 2,5 bulan saja dari masa kepengurusan yang 4  tahun lamanya. Bagaimana tidak, selama 8 tahun PSSI telah dibawa oleh penguasanya, Nurdin Halid, beserta pengurus lainnya, menjadi organisasi yang tak elok di mata masyarakat. Berbarengan dengan itu, prestasi juga tak kunjung tiba. Penantian yang terasa sia-sia dari warga negara sepak bola ini.

 

Namun, ini berbicara tentang PSSI. Berbicara tentang pengurusnya yang sudah bukan bocah kemarin sore di dunia bola. Djohar Arifin Husin sang ketua umum bukan cuma profesor tapi juga pernah menjadi Ketua Pengprov PSSI Sumatra Utara dan wasit. Bahkan, pernah menjadi staf ahli Menpora. Begitu juga wakilnya, Farid Rahman, yang berkecimpung di dunia tenis meja dan secara manajerial sudah mumpuni sebagai Komisaris Bank Saudara. Belum lagi bicara para anggota Exco (Executive Committee) lainnya yang sudah kenyang akan lika-liku persepakbolaan.

 

Apalagi merunut perjalanan para petinggi ini menuju kursi PSSI. Empat kali kongres harus dilalui, dengan bayang-bayang sanksi FIFA jika tak dipatuhi. Berbagai sebutan diberikan pers kepada mereka yang dikenal sebagai pendukung Arifin Panigoro (AP-yang taipan minyak dan politisi kawakan) mulai dari kubu Jenggala, Komite Penyelamat Persepakbolaan Nasional (KPPN) hingga Kelompok 78.

 

Maka logika yang ada, mereka sudah siap lahir bathin lengkap dengan segala perangkatnya untuk menjadi penguasa PSSI. Bahkan, sedari awal, mereka sudah didampingi konsultan serta beberapa individu yang berpengalaman di dunia bola, media, dan hukum. Maka sesungguhnya penahbisan sebagai pemenang di KLB PSSI di Solo merupakan bendera start untuk segera mengadakan pembaharuan di PSSI, sekaligus menguak lebar harapan bagi datangnya prestasi.

 

 

Namun, harapan itu dengan cepat menguap seperti halnya mimpi tentang reformasi di republik ini (kehidupan rakyat makin terjepit, korupsi kian menjadi), begitu kata orang pinggiran saat ditanya soal reformasi.  Itu pula yang ada dalam sajian kiprah pengurus PSSI saat ini: politik balas dendam dan sikap yang konsisten dalam inkonsistensi.

 

Keputusan pertama yang dikeluarkan sudah menyajikan aroma itu: pemecatan Alfred Riedl sebagai pelatih timnas digantikan Wim Rijsbergen yang pernah melatih PSM Makasar, peserta Liga Primer Indonesia, bersamaan dengan pengangkatan Manajer Timnas yang juga CEO salah satu klub LPI. Belakangan, sikap dan kinerja pelatih serta manajer timnas ini jadi sorotan luas usai pertandingan Indonesia melawan Iran dan Bahrain.

 

Klasik

 

Itu pun tak menghalangi praktik lain seperti membentuk PT Liga Prima Indonesia (PT LPI), mengganti PT. Liga Indonesia yang masih eksis dengan saham mayoritasnya dimiliki PSSI.  Berarti, ada dua badan pengelola liga profesional yang eksis, karena keduanya produk sah dari PSSI sendiri.

 

 

PT LPI sendiri akan mengelola kompetisi profesional yang dari awal digembar-gemborkan akan terbagi dalam dua wilayah, sesuatu yang mengubah sistem sebelumnya yang hanya satu wilayah. Meski digempur dari berbagai pihak, PSSI tetap bersikeras dengan formula ini. Lalu entah kenapa, akhirnya diputuskan kembali pada format satu wilayah dalam rapat Exco baru-baru ini. Sehari sebelumnya, di media ramai diberitakan tentang kerasnya sikap Ketua Komite

 

 

Hukum, La Nyalla Mattalitti yang menyala geramnya karena tak dilibatkan dalam pembuatan format kompetisi ini. La Nyalla bahkan mengancam akan menggunakan haknya untuk mengajukan usulan Kongres Luar Biasa.

 

Sebenarnya tak salah jika penguasa baru memberi warna tersendiri dalam kepemimpinannya, dengan gaya dan corak yang mungkin berbeda dari sebelumnya. Masalahnya, hanya dalam waktu belum tiga bulan, sudah terjadi berbagai hal yang membuat kening makin berkerut karena sulit untuk mengerti keputusan yang ada. Tak cuma soal aspek hukum saja, tapi juga pada rasa keadilan dan kepatutan masyarakat.

 

Meski sering dibilang bahwa bangsa ini punya ingatan pendek, tapi bukan berarti sejarah akan menjadi tumpukan catatan belaka. Politik balas dendam dalam sejarah seperti kisah Ken Arok tetaplah menjadi contoh klasik tentang pergulatan pelaku peristiwa dari masa ke masa, tinggal siapa dan seperti apa bentuknya.

 

Masih dalam hitungan hari perjalanan pengurus baru ini. Masih banyak waktu untuk memperbaikinya. Segala yang salah bisa dibetulkan kembali dalam keputusan dan sikap, entah dengan mengurangi emosi, tidak sensitif seperti lagi datang bulan, atau dengan gampangnya melontarkan ancaman hukuman disiplin. Contoh seperti ini adalah isu penggoyangan posisi ketua umum dan sekjen yang dirilis oleh pengurus PSSI menjelang pertandingan melawan Iran. Sebuah sangkalan yang dari aspek komunikasi tidaklah strategis dan justru memperlemah posisi sendiri.

 

 

Isu-isu memang tak semuanya harus ditanggapi, tapi bukan berarti lalu tak dicermati. Apalagi, jika itu memberi pengaruh tersendiri bagi wartawan, yang akan mewarnai penulisan berita atau ulasannya di media.

 

Sebenarnya, segala permasalahan yang membuat citra pengurus makin terpuruk bukanlah dari luar seperti yang didengungkan selama ini, karena justru dari diri sendiri. Masih banyak kaca untuk bercermin, seperti halnya waktu untuk membuktikan bahwa menjadi penguasa tidaklah selamanya. Dengan kata lain, bukan sekadar boneka belaka seperti yang sering diduga.

 

Johannes Sugianto

Penulis adalah Penyair dan Pengamat Sepak Bola

 

 

Dimuat di Topskor edisi Senin, 19 09 11

http://www.topskor.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2709:sebenarnya-&catid=99:kolom-redaksi

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

You may also like...

Leave a Reply