Kompetisi Ganda Bukan Cuma Soal Statuta

Revolusi PSSI

Revolusi PSSI

Indonesia Super League (LSI) akhirnya bergulir seperti yang dijanjikan oleh PT Liga Indonesisa (PT LI) tepat 1 Desember 2011.  Dari beberapa pertandingan yang digelar, Persipura sebagai Juara ISL 2010-11 akan menjamu Persiba Balikpapan yang Juara Divisi Utama 2010-11 di Stadion Mandala, sekaligus menandai partai perdana ISL 2011-12.

Selain partai perdana itu, yang merupakan awal bergulirnya liga professional yang sudah dinantikan oleh masyarakat selama berbulan-bulan setelah karut marutnya pemilihan pengurus PSSI, dengan 4 kali Kongres serta pertikaian antara PSSI dan PT LI, terdapat dua hal yang menarik untuk dicermati dari situ. Pertama adalah berubahnya haluan dua klub besar untuk turut ISL daripada ke Indonesia Premier League (IPL) yang digulirkan PSSI dengan pelaksana PT Liga Prima Indonesia Sportindo (PT LPIS). Kedua adalah dikeluarkannya ijin dari BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) untuk kedua kompetisi tersebut.

Meski tak menyebut dengan detail seperti halnya Sriwijaya FC (SFC), namun keputusan Persib Bandung untuk tetap berlaga di ISL merupakan salah satu pukulan telak bagi PSSI karena keduannya tak hanya memiliki reputasi dan pendukung yang kuat. Lebih dari itu, merupakan magnet besar bagi sponsor untuk turut mendukung kiprahnya, seperti halnya Persija dengan Bambang Pamungkasnya, Arema, PSMS atau Persipura.

Beberapa hal yang disampaikan oleh SFC terkait dengan keputusannya untuk bergabung ke ISL, misalnya PT LI telah teruji menelenggarakan tiga musim kompetisi dengan baik, ISL lebih bergengsi dan pembagian saham PT LI yang menguntungkan klub (99 % untuk klub dan 1% perusahaan).  Sebaliknya jika turut IPL, klub merasa rugi karena pembagian sahamnya adalah 99 persen untuk PSSI dan 1 persen untuk yayasan, tidak ada satu persen pun untuk klub. Selain itu, menarik juga, alasan soal gengsi kompetisi serta track record PT LPIS yang pernah menggelar Liga Primer Indonesia di musim pertamanya pada 2010/2011 tetapi tidak selesai

Alasan ini bisa bisa diterima dengan logika, selain berpegang pada keputusan Kongres dan Statuta PSSi tentang jumlah peserta (yang berarti jumlah pemilik suara) kompetisi ISL. Klub-klub ini yang berdarah-darah mencari dana untuk bisa tetap ikut kompetisi, selain perkara lain yang juga membuat anggaran bisa membengkak. Lalu mereka tak dapat apapun kecuali gengsi sebagai juara dengan hadiahnya atau tidak turun kasta ke Divisi Utama.

Namun terdapat hal lain yang belum muncul di permukaan, lewat obrolan dari warung-warung,yaitu adanya keharusan untuk menyetor 20% nilai sponsorship kepada PT LPIS plus 10 % hasil penjualan tiket ke PSSI. Sebagai ilustrasi, sebuah klub besar sudah mendapatkan sponsor senilai Rp 11 miliar,maka yang Rp 2,2 miliar harus disetor ke PT LPIS. Sementara dari pembagian saham mereka hanya memperoleh Rp 2 miliar dari PT LPIS tersebut.

Sedangkan sikap BOPI yang memberi ijin legal bagi kedua kompetisi untuk berjalan, bisa dibilang merupakan sikap yang paling aman. Selain bersandar pada ketentuan yang ada dalam UU Sistem Keolahragaan Nasional, BOPI tentu tak mau terjebak dalam “pertempuran politik” karena dianggap memihak satu kelompok. Pada awal 2011 BOPI memberi ijin ke konsorsium yang dimotori Arifin Panigoro untuk menggelar Liga Primer Indonesia (LPI) yang oleh PSSI dianggap haram. Kali ini, PT LI yang menyeleggarakan ISL tentu punya hak pula untuk mendapatkan hal yang sama.

Menyimak berbagai hal yang ada, masalah kompetisi ganda ini memang tak sekedar soal legalitas atau tidaknya sesuai Statuta, tapi kepentingan bisnis tampak begitu mendominasi sehingga berbagai juruspun dilakukan untuk mengamankannya. Disini perlu dinanti, apakah PSSI akan terseret arus di dalamnya karena adanya sang Dewan Syuro yang terus menjadi penentu, ataukah mau menjalankan tugasnya seperti diamanatkan Statuta yaitu melindungi anggota PSSI.

 

Oleh : Johannes Sugianto

*Penulis adalah penyair dan pengamat sepakbola

Dimuat di koran Gosport 

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Kompetisi Ganda Bukan Cuma Soal Statuta, 10.0 out of 10 based on 1 rating

You may also like...

Leave a Reply