Ketika Terlantar dan Konyol

Logo IPL

Logo IPL

Seperti apa perasaan pengurus PSSi ketika tahu dua klub peserta Liga Prima Indonesia (LPI) “terlantar” di Papua karena sama-sama tak diacuhkan oleh lawan-lawannya yang sudah menyatakan berlaga di Liga Super Indonesia (LSI). Akhirnya kedua klub itu, Arema Indonesia dan PSM Makassar menggelar latih tanding di stadion Mandala Jayapura dan ini merupakan mandatt dari PSSI.

Jika tetap selalu berpijak pada kepongahan karena punya kekuasaan sebagai pengurus federasi yang berhak memutar roda kompetisi, di luar itu haram atau jadi liga liar, maka pengorbanan kedua klub itu akan dianggap sebagai bagian dari perjuangan. Setidaknya menunjukkan bahwa LPI seperti mengerti aturan main meski terkesan konyol karena klub menghambur-hamburkan uang.

PSM Makassar yang datang untuk memenuhi jadwal bertanding dengan Persidafon, diperkirakan menghabiskan anggaran mencapai kurang lebih Rp 300 Juta. Rinciannya, tiket pesawat Garuda untuk 29 orang pergi pulang, penginapan, dan konsumsi serta kebutuhan lainnya selama di Jayapura empat hari. Nilai dana yang mestinya bisa dipakai untuk kebutuhan klub sendiri, dan semestinya tak perlu mubazir karena PSM sudah mengetahui bahwa Arema Indonesia yang datang lebih dahulu dicueki oleh Persipura.

Lalu apa yang dilakukan oleh kedua klub itu setelah mencari sendiri akomodasi ke hotel dan sewa lapangan, selain menikmati indahnya alam Papua? Keduanya mengadakan gelar latih tanding di stadion Mandala Jayapura, dan ini merupakan mandat PSSI. Betapa menggelikan dan mahalnya uji coba dua klub ini. Jika berupa uji coba, Arema Indonesia bisa melakukannya dengan jauh lebih murah melawan klub-klub di Jawa Timur, dan PSM Makassar dengan klub yang dekat di wilayah timur Indonesia.

Kekonyolan itu sebenarnya tak perlu terjadi kalau PT Liga Prima Sportindo sebagai penyelenggara kompetisi LPI mampu menyusun jadwal pertandingan dengan baik. Mampu di sini bukan sekedar menaruh kalender dan klub dalam jadwal tapi juga mau berkomunikasi dengan semuanya. Semisal dengan Persipura dan Persidafon, yang sudah menyatakan akan berlaga di LSI. Jika masih bersikukuh dengan alasan menunggu surat resmi kedua klub itu, alangkah naifnya alasan itu karena bukankah bisa dilakukan dengan telepon atau email?.

Kekonyolan semacam itu mestinya tidak dituruti dengan membabi buta oleh klub-klub yang memilih berkompetisi di LPI. Dalam suatu kompetisi yang baru saja dimulai terasa ajaib jika ada tim yang melakukan uji coba atau pertandingan persahabatan. Namun jika itu dilakukan karena telah menerima kucuran dana dari konsorsium, hanya bisa menghela nafas saja menyaksikan adanya klub yang tak lagi berpikir logis dan mempertaruhkan harga diri untuk melaksanakannya.

Entah sampai kapan kekonyolan demi kekonyolan ini menjadi santapan sehari-hari rakyat yang sudah lelah dengan persoalan sepakbola yang lebih konyol lagi.

Oleh : Jo Sugianto
*Penulis adalah penyair dan pengamat sepakbola

Dimuat di Tabloid Bola

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

You may also like...

Leave a Reply