Ancaman Pemecatan yang Membuka Lebar Pintu KLB

ENTAH catatan akhir tahun seperti apa yang bisa diberikan kepada PSSI, organisasi olahraga yang menjadi alat perjuangan di masa awal berdirinya.Prestasi tim nasional yang diperlihatkan timnas  senior dan U-23 sepertinya terbenam dalam hiruk pikuk kekisruhan di tubuh PSSI sendiri.

Akhir tahun yang konon dipakai sebagai saat melakukan introspeksi diri justeru menjadi kalender pertunjukan aksi yang tak henti oleh PSSI. Terkini dengan ancaman pemecatan terhadap 4 anggota Komite Eksekutif (Exco) karena dinilai telah melanggar kode etik organisasi, yaitu La Nyalla Mattalitti, Erwin Budiawan, Roberto Row dan Tony Apriliani

Keempatnya dihukum oleh Majelis Etik PSSI yang dipimpin Todung Mulya Lubis untuk meminta maaf kepada Ketua Umum PSSI dan Komite Eksekutif PSSI di kantor PSSI serta diteruskan kepada Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Konfederasi Sepak Bola Dunia (FIFA) dalam waktu maksimal 2×24 jam terhitung sejak dibacakan putusan pada 20 Desember 2011.

Keberadaan Majelis Etik yang tidak ada dalam ketentuan di Statuta PSSI sendiri sebelumnya juga mengundang pertanyaan tersendiri karena yang ada hanyalah Komite Etik, yang telah dibentuk dan diketuai oleh T.Mulya Lubis. Tentang hal ini, alasan pembentukan Majelis ini menurut Todung hanyalah untuk mengefisienkan kerja anggota Komite Etik PSSI yang bejumlah 20 orang. Sebab menurut Todung, tidak mungkin seluruh anggotanya bisa melakukan pemeriksaan sekaligus. Tugas utama Majelis Etik yang beranggota 7 orang dari Komite Etik adalah melakukan pemeriksaan laporan yang masuk terkait dugaan pelanggaan kode etik.

Ancaman sanksi pemecatan tersebut tentu bukan main-main atau gertak sambal semata. Keputusan itu dikeluarkan oleh badan yang diketuai seorang advokat senior, diamini oleh para tokoh masyarakat yang dikenal juga sebagai tokoh gerakan moral seperti Komarudin Hidayat  dan Anis Baswedan. Artinya, aspek hukum dan etika sudah diteropong oleh para tokoh tersebut, dengan segala implikasinya.

Anggota Exco sebanyak 9 orang dipilih dalam Kongres PSSI, berbarengan dengan Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum. Pemecatan itu hanya bisa dilakukan dalam Kongres, bukannya dalam rapat Exco atau hanya dengan Surat Keputusan Ketua Umum saja. Ancaman tersebut jika dilaksanakan jelas akan membuat api makin membara bagi anggota PSSI yang telah menyerukan Kongres Luar Biasa (KLB) atas kinerja pengurus yang dinilai makin menjadi melanggar Statuta.

Namun, pada sisi lain perlu juga dicermati apakah itu juga merupakan pertanda pengurus PSSI saat ini memang sudah berani untuk menyiapkan KLB (sesuai Statuta bisa diusulkan oleh anggota Exco dan anggota PSSI) agar pemecatan tersebut legal?. Artinya, tak lagi berkelit dengan mengatakan perlu ijin FIFA segala, karena jelas FIFA tak bisa melarang berlangsungnya KLB selama itu memenuhi ketentuan yang ada di Statuta dan tanpa intervensi pemerintah.

KLB adalah langkah revolusioner dalam perjalanan kepengurusan yang baru berusia 6 bulan ini, namun dengan menyimak apa yang sudah ada jalan menuju ke perhelatan penuh intrik, biaya tinggi dan emosi itu semakin terkuak lebar. Pengurus PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin yang telah membuka jalannya lewat berbagai keputusan yang kontroversial, tanpa menghiraukan suara anggotanya sendiri dan keputusan Kongres yang ada. Sebagai “bapak” juga tak pernah menunjukkan sikap mengemong dan mengalah. Ancaman dari Majelis Etik PSSI ini makin membuat kobaran api makin menyala dan menjalar ke segala sisi.

Semoga masyarakat yang sudah muak dengan segala kisruh ini bisa menambah porsi kesabarannya menanti akhir dari segala yang terjadi. .KLB untuk perbaikan pembinaan dan prestasi atau tetap membiarkan prestasi sepakbola mati suri.

 

*Johannes Sugianto, penyair dan pengamat sepakbola

 

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

You may also like...

1 Response

  1. Ebesrek says:

    hehehe…….
    Klb bukan jaminan sepak bola indonesia membaik sam…
    justru dengan klb semakin terpuruk,dan sisa” orde lama pssi di bawah kendali NH kembali “mengeruk” pundi” APBD…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply