Rekonsiliasi dan Pemecatan

Oleh : Johannes Sugianto

Di tengah kerasnya tuntutan Kongres Luar Biasa (KLB), menarik untuk dicermati langkah yang dilakukan oleh pengurus PSSI dalam menyikapi hal itu. Tuntutan yang lahir dari Rapat Akbar Sepakbola Nasional (RASN) dan berbuah Mosi Tidak Percaya yang intinya menyerukan perbaikan di tubuh PSSI melalui KLB.

Meski menanggapi dengan dingin seruan itu, PSSI dengan dalih adanya surat FIFA tertanggal 21 Desember 2011 yang menyoroti kompetisi ganda di Indonesia, lalu mengirimkan Tim Rekonsiliasi ke klub-klub untuk mensosialisasikan dan berdiskusi soal surat tersebut. Berbarengan dengan itu, kembali Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin melayangkan himbauan agar mereka yang turut kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) kembali ke “rumah” yaitu PSSI (baca : Liga Prima Indonesia/LPI).

Pengiriman tim rekonsiliasi seperti ini tidaklah efektif, karena bukan hanya tidak mengantongi kewenangan untuk bersikap terhadap saran atau permintaan klub yang didatangi, seperti ketika bertemu manajemen Sriwijaya FC, tapi juga mengundang pertanyaan “apakah klub peserta LSI tidak mengerti isi surat FIFA itu” sehingga harus mendapat penjelasan dari staf PSSI?. Belum lagi bicara soal biaya yang timbul dari pengantaran surat ini, sesuatu yang terjadi di tengah efisiensi di tubuh PSSI. Bukankah ketika PSSI mengadakan rapat di rumah Arifin Panigoro mereka berdalih demi efisiensi?.

Kalau pengurus PSSI ingin berdialog dengan klub-klub LSI, sebenarnya hal ini sudah dihimbau oleh ke empat anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang dipecat pada 26 Desember 2011 lalu dan diumumkan keesokan harinya oleh juru bicara PSSI. Dialog itu merupakan langkah rekonsiliasi ketika terjadi sikap resisten terhadap langkah PSSI yang tidak tegas dan seenaknya dalam menentukan format kompetisi serta dimasukkannya 6 tim secara gratis atas dasar sejarah dan kasihan, plus atas permintaan sponsor. Hingga kini tak jelas siapa sponsor yang dimaksud, karena dalam pertandingan LPI belum terlihat di a-board dari perusahaan besar yang mendukung kompetisi itu.

Langkah rekonsiliasi itu, yang hakikinya mengusung kemauan baik dan ketulusan, juga makin mengundang pertanyaan besar ketika PSSI sendiri masih dianggap mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan klub, pengelola ISL, baik nama dan sifatnya yang bersifat pribadi. Sikap ini mendapat sorotan dari SFC ketika bertemu tim rekonsiliasi, karena malah bisa memperkeruh keadaan saja.

Rasanya rekonsiliasi ala PSSI kali ini hanyalah pemanis belaka, sekedar memperbaiki citra yang sudah terlanjur berantakan dengan berbagai langkah yang salah. Bukan berarti tak ada celah untuk memperbaikinya, terutama dalam soal kompetisi ganda untuk menghindari sanksi dari FIFA, tapi adakah ketulusan dan kejujuran untuk mau duduk bersama?. Tanpa itu, kembali sia-sia belaka, menghabiskan biaya atas keputusan FIFA yang mudah dibaca di media (lengkap dengan terjemahannya) dan perbaikan citra semata.

Apalagi pemecatan 4 anggota Exco yang dilakukan hanya berdasarkan perintah lisan lewat telepon, di saat kantor libur, sungguh merupakan penutup akhir tahun yang menyesakkan karena kembali menjadi catatan yang tak elok dalam kinerja PSSI. Apapun kesalahan mereka di mata pengurus, mereka juga pengurus yang mempunyai posisi sejajar sebagai anggota Exco, dipilih di dalam Kongres yang tak bisa dipecat hanya oleh SK Ketua Umum atas rekomendasi Majelis Etik (lembaga dalam lembaga yang tak dikenal dalam Statuta). Terasa sekali tak ada penghargaan secuilpun dalam tindakan ini bagi sesama kolega pengurus PSSI.

Rekonsiliasi jika memang dimaksudkan sebagai langkah merangkul kembali, harusnya dilakukan dengan duduk bersama, berdiskusi sambil ngopi, dalam bahasa sepakbola dan tawa. Bila hanya lewat pengiriman staf untuk mengantarkan surat, pernyataan di media saja, maka tak mengherankan bila rekonsiliasi itu dianggap sebagai intimidasi agar klub-klub mundur dari LSI dan ikut LPI. Selain itu merupakan sikap cari muka ke FIFA agar terlihat bahwa PSSI telah mengambil “tindakan yang layak” dalam menindaklanjuti surat induk organisasi sepakbola dunia itu.

Drama perseteruan antara organisasi dan anggotanya ini makin menyala, menjadi hiasan berita yang makin memanas di awal 2012, dan masyarakat hanya menyaksikannya dengan mengelus dada saja. KLB tinggal menunggu waktu saja untuk diketok oleh mereka yang makin geram atas segala langkah yang dilakukan induknya.

*Johannes Sugianto, penyair dan pengamat sepakbola

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

You may also like...

4 Responses

  1. Nuha Lin says:

    Perpecahan di tubuh PSSI merupakan bentuk ketidak tegasan semua pihak (stakeholder) dari awal semua stakeholder hanya “wait and see apa yang akan terjadi kemudian” so setelah terjadi semua pihak seperti kebakaran jenggot, coba dari awal mulai ada isu perpecahan langsung diselesaikan pasti semua tidak akan berlarut-larut.
    Nasi sudah menjadi bubur so kita tunggu saja drama apalagi yang akan di hadirkan oleh PSSI
    Nuha Lin – Resfato Pak Dhe 

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply