Kasus Diego Michiels : Kobaran Api yang Kian Menjalar

 

KASUS Diego Michiels, pesepakbola yang memutus secara sepihak kontraknya dengan klubnya, Pelita Jaya FC merupakan hal yang menarik untuk dicermati dari berbagai aspek, dan akan menjadi suatu pelajaran tersendiri dari aspek legalitas bagi para pemain serta klub-klub sepakbola di tanah air.

Ada tiga hal yang patut dicermati dalam kasus tersebut yaitu ketidak netralan PSSI, pencitraan bagi kompetisi Liga Prima Indonesia (LPI) sebagai kompetisi resmi bagi PSSI dibanding Liga Super Indonesia (LSI) yang dianggap ilegal, serta upaya pengalihan isyu oleh PSSI terhadap berbagai persoalan yang melanda dunia persepakbolaan saat ini. Ketiga hal itu tak bisa dipungkiri telah terpampang dengan nyata meski bisa dibantah dengan berbagai argumentasi oleh PSSI sendiri.

Pada hal pertama, dalam konperensi pers yang singkat (hanya 15 menit) Diego didampingi oleh dua staf khusus PSSI. Ini merupakan perlakuan yang istimewa mengingat yang terjadi adalah kasus antara seorang pemain dengan klubnya yaitu Pelita Jaya FC yang turut berlaga di LSI. Apakah sengketa hukum yang sedang berjalan antara pemain dan klub berhak diintervensi oleh PSSI?.

Jika PSSI beralasan untuk melindungi sang pemain, bagaimana dengan hak pemain di klub-klub peserta LSI yang tidak bisa membela negaranya sebagai anggota timnas?. Apakah pendampingan itu terkait dengan tuduhan Pelita Jaya bahwa pengurus PSSI yaitu Bernard Limbong menekan para pemain, termasuk Diego untuk pindah?.

Hal kedua, kompetisi LPI memang kalah wibawa dan popular dibanding LSI baik dari aspek penonton, supporter maupun daya tariknya bagi sponsor. Apalagi pesertanya yang lebih sedikit dan terdiri dari tim yang memiliki kualitas lebih rendah.

Salah satu langkah untuk mendongkrak popularitas kompetisi ini adalah menghadirkan seorang bintang, dan pilihan itu jatuh pada Dieog Michiels. Langkah yang meniru Liga Primer Indonesia, yang singkatannya sama yaitu LPI, dan menjadi liga haram di masa kepengurusan Nurdin Halid, dengan menghadirkan Irfan Bachdim sebagai ikonnya. Kebetulan juga keduanya pemain naturalisasi yang berdarah bule.

Hal ketiga, kasus Diego dengan segala aspeknya merupakan upaya pengalihan isyu terhadap gencarnya tuntutan akan Kongres Luar Biasa (KLB) serta gugatan hukum oleh klub terhadap PSSI (Persipura menggugat ke Court of Arbitrase for Sport dan 8 klub ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat).

Belum lagi upaya rekonsiliasi yang mendapat sambutan dingin dari para peserta LSI dan masih ragu-ragunya PSSI menjatuhkan sanksi terhadap Persipura atas kenakalannya menjadi peserta LSI. Langkah ini mudah dibaca dan merupakan pembodohan pemikiran untuk kepentingan politis dari PSSI yang bertujuan merubah pola pikir masyarakat akan kinerjanya selama ini.

Apakah semudah itu merubah pandangan para pecinta sepakbola, supporter dan para pemain sendiri terhadap berbagai langkah PSSI yang makin tak popular?. Kasus Dieog Michiels tak pelak bukan lagi sekedar antara dirinya dan Pelita Jaya tapi sudah menjadi cerminan makin ruwetnya persepakbolaan Indonesia yang dari hari ke hari tak kunjung membaik prestasinya.

Entah sampai kapan pengurus PSSI membiarkan semua ini menjadi kobaran api yang kian menyala dan menyebarkan panasnya ke segala sudut. Sumber : Harian GOsport edisi Sabtu, 07 Januari 2010

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

ArSen

AreMa Senayan

You may also like...

Leave a Reply