Paradigma Kekuasaan, Pembekuan dan Penolakannya

Oleh Johannes Sugianto

Beku, dalam kamus Bahasa Indonesia ternyata juga bermakna “tidak mempedulikan keadaan di sekelilingnya”. Itu bisa disimak pada kalimat “hatiku beku sejak kegagalan cinta dengannya”. Tapi jika dikaitkan dengan sepakbola tentu pengertiannya akan berbeda.  Bagi pemain, lingkungan itu berarti teman satu tim, pelatih, official, penonton dan juga penggemar.

Seharusnya hal itu juga berlaku bagi pengurus PSSI yang tidak boleh mengabaikan apa yang terjadi di lingkungannya, yang bisa diartikan pada kalangan organisasi (anggotanya) serta masyarakat, sponsor, mitra bisnis, FIFA dan AFC serta tentunya media massa. Ketidakpedulian ini bisa diartikan bahwa pengurus yang ada telah beku hatinya.

Di tengah kebekuan itu, keputusan terkini yang ditelorkan adalah melakukan pembekuan terhadap 9 Pengurus Provinsi (Pengprov) PSSI yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, DIY Yogyakarta, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta dan Bengkulu. Dua Pengprov itu ketuanya dijabat oleh anggota Exco (La Nyalla Mattaliti dan Toni Apriliani) yang dipecat berbarengan dengan Roberto Rouw dan Erwin D.Budiawan oleh pengurus PSSI, sisanya dianggap melanggar ketentuan organisasi karena mendukung Kongres Luar Biasa (KLB).Erwin sendiri juga Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) PSSI Samarinda, yang anehnya belum juga dibekukan kepengurusannya. Entah apakah karena Pengcab tak punya suara di Kongres?.

Pembekuan itu sendiri bukannya tak mengandung cacad hukum, karena sesuai pasal 38 Statuta PSSI, Exco tidak dapat mengambil keputusan penting kecuali dihadiri oleh 2/3 anggota Exco. Saat ini dengan pemecatan 4 anggotanya maka hanya tinggal 11 anggota saja (termasuk Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum). Belum lagi soal kebenaran pembekuan Pengprov itu karena keinginan Pengcab dan klub-klub di masing-masing provinsi. Di Jawa Timur terjadi perlawanan dengan penolakan atas pembekuan itu.

Bisa ditebak bahwa pembekuan 9 Pengprov itu, dan bisa diikuti ke Pengprov serta klub lainnya (yang memiliki hak suara di Kongres) merupakan langkah pengamanan untuk Kongres Tahunan pada Maret 2012 mendatang. Bisa saja Kongres Tahunan ini berubah menjadi KLB jika anggotanya menghendaki.

Pembekuan kepengurusan bukanlah barang baru bagi PSSI, setidaknya dalam setahun terakhir ini. Pertama, ketika Pengprov PSSI Sulawesi Utara dibekukan karena ketuanya, Syahrial Damopoli mendukung pasangan George Toisutta (GT) dan Arifin Panigoro (AP), bahkan ia saat itu menjabat Ketua Komite Penyelamat Persepakbolaan Nasional.Kedua, ketika pemerintah mengancam pembekuan PSSI serta mencabut fasilitas yang dinikmatinya jika tidak mengevaluasi keputusan Komite Pemilihan yang tidak meloloskan pasangan GT dan AP.

Sejarah berulang seperti roda yang berputar. Kebekuan yang ada di tubuh PSSI sekarang makin menebal dengan ambisi mempertahankan kekuasaan, tanpa peduli sekelilingnya lagi. Kebekuan yang hanya mencair jika dipanaskan oleh perlawanan, entah berupa KLB atau aksi turun ke jalanan. Tidak lagi sekedar kata-kata.

 

*Johannes Sugianto, penyair dan pengamat sepakbola.

 

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

You may also like...

Leave a Reply