Aremania dalam eksistensi

 

Aremania

Aremania

Oleh : PAS

Kompetisi paling akbar di negeri ini bertajuk Indonesian  Super League 2014 telah berakhir.Pencapaian Arema Indonesia FC hanya sampai babak 4 besar atau semifinalis dengan format  dua wilayah menjadikan kompetisi tidak  murni  mempertemukan semua peserta  yang berjumlah 22 tim tapi dilanjutkan  semi  turnamen yang di ambil 4 tim terbaik masing masing wilayah .Membuat  berkurangnya jumlah pertandingan  masing masing tim apalagi yang tidak masuk 8 besar.

Bagi Aremania dan Aremanita  dalam melakukan perjalanan tour dalam menemani tim Singoedan  berkurang menjadi  empat pertandingan bahkan bertambah menjadi 2 lagi karena  datang ketempat yang sama yaitu Padang dan Palembang.

Mengangkat Piala ISL 2014 merupakan tujuan bagi tim Arema Indonesia  dan semua tim tim yang berlaga di kompetisi tersebut , Juga harapan Aremania dan Aremanita  agar tim Singoedan pada akhirnya dapat merengkuh supremasi tersebut  dengan asumsi  bahwa tim kali ini di huni para pemain yang mumpuni apalagi pada pra kompetisi sudah meraih titel jawara  Menpora Cup , Gubernur Cup ,Trofeo Persija dan masih menjadi Finalis Inter Island Cup 2014 yang lucunya di gelar 2015 dan kemungkinan para komposisi pemain pemain yang tidak sama .

Sepanjang kompetisi ini yang menjadi catatan adalah sebuah eksistensi Aremania dan Aremanita saat mendukung tim Singoedan secara langsung di ISL 2014 .Kisaran  angka di atas 5000 an orang hanya tercatat pada pertandingan tandang Arema  Indonesia  menghadapi  tuan rumah Persija ( 4 Mei 2014 ), Persijap ( 31 Agustus  2014 ) dan Persela ( 8 Oktober 2014 ) selebihnya hanya berjumlah ratusan orang.

Arema Indonesia FC adalah salah satu tim swasta jebolan Galatama yang masih tersisa dan masih eksis sampai saat ini disamping tim Barito Putera,Semen Padang dan Pelita Bandung Raya.Dan dari Aremania dan Aremanita  yang  memberikan   pemasukan signifikan daripada 3 klub swasta lainnya.

27 tahun Arema Indonesia  FC  ada begitu juga Aremania  yang selalu mendampingi  baik kandang maupun tandang.Bagi Aremania mendukung tim Singoedan bukan sekedar  hanya untuk rasa cinta,kebanggaan namun juga sebagai jati diri  Aremania dan Arek Malang atau Arema  sebagai  refeksi  dan eksistensi  perjuangan mempertahankan harga diri .

Kurun waktu tersebut bukan suatu masa  yang sebentar penuh bumbu bumbu kegembiraan kala tim Arema meraih kemenangan dan menjadi juara namun juga penuh kisah kisah yang mengiris hati dari berbagai tragedi  yang harus dialamii.Saat   sebuah rasa  militansi yang di pertaruhkan dalam keadaan dan kondisi bersama  tim Arema FC kala berlaga di luar Malang.Dimana mengharuskan  Aremania dan Aremanita tidak hanya rela mengorbankan jiwa raga  biaya waktu tenaga bahkan nyawapun turut  mengiringi untuk membela panji kebanggaan berlogo singa.

Ada beberapa tragedi dari sekian banyak tragedi yang tidak dapat terhapus dalam ingatan para Aremania apalagi yang pernah menjadi saksi hidup dari peristiwa tersebut.

Teringat  peristiwa di Stadion Mandala Krida Jogja  14 Februari 1999 saat kerusuhan pecah dengan suporter tuan rumah dan Aremania Aremanita yang diberada di Stadion  dan harus menahan lapar dan harus berbagi minuman sebelum datang Sri Sultan Hamengkubuwono  X dengan membagi makanan dan untuk seterusnya  Aremania harus pulang meninggalkan lapangan yang bertuliskan Arema dari potongan besi dan benda benda lain akibat kerusuhan tersebut untuk menuju Malang dengan diangkut truk TNI AD tengah malam .

Menginjak 10 Mei 2001 saat Arema FC melawat ke Sidoarjo menghadapi Deltras di Stadion Gelora Putra Delta kala harus menahan lemparan batu dari luar stadion dan menghadapi kenyataan kendaraan roda dua dan roda empat yang di halaman parkir dalam keadaan rusak akibat ulah bonek tapi bukan suporter tuan rumah membuat pertandingan di tunda dan harus pulang dengan resiko keamanan dan keselamatan yang mencekam baik dengan menggunakan bus mobil pribadi sepeda motor dan kereta api.

Dan ini menjadi tragedi yang tidak terkira bagi Aremania di Madiun pada 10 April 2005 saat Arema FC harus bertanding dengan Persekapas di Stadion Wilis.Pecah tawuran dan bentrok antara Aremania dan Laskar Sakerah tak terelakkan bahkan harus jatuh korban di kedua belah pihak .Di Desa Garon Balerejo Madiun Sam Abdoel Rochiem dan Mat Togel harus meregang nyawa demi  sebuah harga diri dan  nama besar Arema.Dan kejadian ini menjadi episode terkelam bagi siapa yang pernah ikut tour tersebut atau yang menjadi saksi hidup.

Berikutnya 16 Januari 2008 pada putaran 8 besar Ligina Xlll  di Stadion Brawijaya Kediri pecah kerusuhan akibat Wasit Djajat Sudrajat dan perangkat pertandingan yang tidak jeli dengan menganulir 3 gol sah dari pemain Arema yaitu Patricio Morales dan Emile Mba Mba saat menghadapi Persiwa.Tersulut emosi seorang Aremania dengan membawa boneka  memukul Asisten Wasit seakan menambah bara api yang sudah terbakar bagi puluhan ribu Aremania masuk lapangan yang membuat keadaan tanpa terkendali.Panitia pelaksana dan pihak keamanan yang tidak sigap serta kalah jumlah menjadi hal tersebut berbuah anarki.Sepulangnya di daerah Pule,Kandat dan Babak Kediri Aremania dan Aremanita harus melintasi daerah tersebut dengan sambutan lemparan batu dari warga yang membuat 27 bus dan kendaraan pribadi menuju Malang tanpa kaca jendela.Akhirnya PSSI turut memberi hadiah dengan sanksi larangan selama 2 tahun menggunakan atribut bagi Aremania.

Banyak juga nawak nawak Aremania yang menghembuskan nafas terakhir saat mendukung tim Singoedan baik dalam perjalanan maupun sepulangnya dan bahkan berpulang karena takdir lain yang tidak dapat di sebutkan satu persatu.Mereka telah menempuh resiko tanpa berhitung apa apa dan berharap sesuatu ,Mereka lakukan hanya murni membela mati matian sebuah kata atau tulisan 5 huruf  yaitu Arema ,Tak hanya tertulis di kaos, di syal,di topi , di bendera bahkan di tatto pada bagian badan tapi sudah terpatri di jiwa jiwa mereka.

Mungkin mereka sekarang di surga nan kekal melihat realita Aremania sekarang akan berurai air mata sedih dan haru biru,Bagaimana tidak sekarang Aremania di sibukkan dengan menjaga eksitensi komunitas komunitas masing masing dengan sibuk mengurusi bendera atau banner masing masing yang sedikit banyak menguras tenaga .Sampai harus rela mengikuti tour sekedar memajang nama komunitas dan mengibarkan bendera masing masing agar tersorot kamera Media Elektronik.

Jika mereka bisa menyampaikan pesan mungkin kekecewaan yang terlontarkan saat peluang Arema Indonesia dapat meraih gelar jawara ISL 2014 sirna karena sedikitnya Aremania dan Aremanita di stadion Jaka Baring Palembang sehingga sedikit banyak moril punggawa tim Singoedan kurang berdaya saat bertanding melawan Persib yang didukung mayoritas viking atau bobotoh.Atau setidaknya besarnya jumlah Aremania dan Aremanita yang datang dapat mengimbangi tekanan suporter lawan dan bagi pemain akan merasa berdosa dan memberi tampilan spartan sehingga mencapai kemenangan menuju final .

Tapi masih dapat di temui para Aremania dan Aremanita yang senantiasa mendukung tim Singoedan representasi dari kebanggaan dan harga diri yang lahir  Malang,mereka yang pernah tinggal di Malang dan mereka yang mencintai Malang.

Kelak satu persatu Aremania Aremanita pergi menjalani takdirnya namun berbagai tragedi diatas akan tetap menjadi pengingat bahwa ketika kebersamaan demi kebanggaan dan harga diri sebagai Arema tidak pernah surut oleh waktu lekang oleh jaman dan lapuk oleh masa.Pun senantiasa akan tetap abadi semangat semangat persatuan tanpa mengedepankan eksistensi komunitas komunitas Aremania .Dan membuat tersenyum nawak nawak Aremania yang telah di surga saat ini dan nanti.

 

Menjadi Arema adalah Takdir.

Menjadi Aremania Aremanita adalah Pilihan

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Aremania dalam eksistensi, 10.0 out of 10 based on 1 rating

You may also like...

Leave a Reply