<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Arema Senayan</title>
	<atom:link href="http://aremasenayan.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aremasenayan.com</link>
	<description>Respect - Familiar - Togetherness</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 03:17:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tri Warsa</title>
		<link>http://aremasenayan.com/2012/02/02/tri-warsa.php</link>
		<comments>http://aremasenayan.com/2012/02/02/tri-warsa.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 01:53:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pak Dhe Arsen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arema]]></category>
		<category><![CDATA[Arsen]]></category>
		<category><![CDATA[ultah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aremasenayan.com/?p=3114</guid>
		<description><![CDATA[Salam satu jiwa Sampai hari ini waktu hitungan masehi mencapai 3 tahun yang di lampaui oleh Arema Senayan dalam berkomunitas,berkumpul bercengkrama dan berbagi rasa dengan segala apaadanya layaknya sebagai manusia yang nyaman dalam satu kebersamaan. Rasa syukur tak terhingga kepada Alloh swt adalah memberi kemampuan dan kemauan yang besar kepada para pribadi pribadi yang berbeda &#8230; </p><p><a class="more-link block-button" href="http://aremasenayan.com/2012/02/02/tri-warsa.php">Continue reading &#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span class="fb_share"><fb:like href="http://aremasenayan.com/2012/02/02/tri-warsa.php" layout="button_count"></fb:like></span><p class="dropcap-first"><a href="http://aremasenayan.com/v1/wp-content/uploads/2012/02/3-Tahun-Arsen.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3116" title="3 Tahun Arsen" src="http://aremasenayan.com/v1/wp-content/uploads/2012/02/3-Tahun-Arsen-300x300.png" alt="" width="300" height="300" /></a>Salam satu jiwa</p>
<p>Sampai hari ini waktu hitungan masehi mencapai 3 tahun yang di lampaui oleh <strong>Arema Senayan</strong> dalam berkomunitas,berkumpul bercengkrama dan berbagi rasa dengan segala apaadanya layaknya sebagai manusia yang nyaman dalam satu kebersamaan.</p>
<p>Rasa syukur tak terhingga kepada Alloh swt adalah memberi kemampuan dan kemauan yang besar kepada para pribadi pribadi yang berbeda di <strong>Arema Senayan</strong> namun mampu bertahan dalam satu himpunan yang penuh suka duka .</p>
<p>Dalam memaknai perjalanan 3 tahun tetaplah menjadikan pribadi pribadi sederhana yang mampu mengeratkan satu sama lainnya dari kecintaan terhadap Arema dan sebagai Aremania</p>
<p>Baik buruk adalah hal manusiawi namun bersikap dan bertindak bijak menerima masukan kritik maupun opini adalah hal yang lebih manusiawi.</p>
<p>Selamat memaknai waktu 3 tahun yang di lampaui <strong>Arema Senayan</strong> dan menjadi buah resolusi bagi waktu waktu akan datang yang penuh tantangan nawak nawak.<a href="http://aremasenayan.com/v1/wp-content/uploads/2012/01/bg-web-small.gif"><br />
</a></p>
<p>Jabat erat Resfato</p>
<p><img class="alignleft  wp-image-3123" title="resfatosign" src="http://aremasenayan.com/v1/wp-content/uploads/2012/02/resfatosign2.png" alt="" width="118" height="31" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aremasenayan.com/2012/02/02/tri-warsa.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paradigma Kekuasaan, Pembekuan dan Penolakannya</title>
		<link>http://aremasenayan.com/2012/02/01/paradigma-kekuasaan-pembekuan-dan-penolakannya.php</link>
		<comments>http://aremasenayan.com/2012/02/01/paradigma-kekuasaan-pembekuan-dan-penolakannya.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 06:44:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arsen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aremasenayan.com/?p=3109</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Johannes Sugianto Beku, dalam kamus Bahasa Indonesia ternyata juga bermakna “tidak mempedulikan keadaan di sekelilingnya”. Itu bisa disimak pada kalimat “hatiku beku sejak kegagalan cinta dengannya”. Tapi jika dikaitkan dengan sepakbola tentu pengertiannya akan berbeda.  Bagi pemain, lingkungan itu berarti teman satu tim, pelatih, official, penonton dan juga penggemar. Seharusnya hal itu juga berlaku &#8230; </p><p><a class="more-link block-button" href="http://aremasenayan.com/2012/02/01/paradigma-kekuasaan-pembekuan-dan-penolakannya.php">Continue reading &#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span class="fb_share"><fb:like href="http://aremasenayan.com/2012/02/01/paradigma-kekuasaan-pembekuan-dan-penolakannya.php" layout="button_count"></fb:like></span><p class="dropcap-first">Oleh Johannes Sugianto</p>
<p>Beku, dalam kamus Bahasa Indonesia ternyata juga bermakna “tidak mempedulikan keadaan di sekelilingnya”. Itu bisa disimak pada kalimat “hatiku beku sejak kegagalan cinta dengannya”. Tapi jika dikaitkan dengan sepakbola tentu pengertiannya akan berbeda.  Bagi pemain, lingkungan itu berarti teman satu tim, pelatih, <em>official</em>, penonton dan juga penggemar.</p>
<p>Seharusnya hal itu juga berlaku bagi pengurus PSSI yang tidak boleh mengabaikan apa yang terjadi di lingkungannya, yang bisa diartikan pada kalangan organisasi (anggotanya) serta masyarakat, sponsor, mitra bisnis, FIFA dan AFC serta tentunya media massa. Ketidakpedulian ini bisa diartikan bahwa pengurus yang ada telah beku hatinya.</p>
<p>Di tengah kebekuan itu, keputusan terkini yang ditelorkan adalah melakukan pembekuan terhadap 9 Pengurus Provinsi (Pengprov) PSSI yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, DIY Yogyakarta, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta dan Bengkulu. Dua Pengprov itu ketuanya dijabat oleh anggota Exco (La Nyalla Mattaliti dan Toni Apriliani) yang dipecat berbarengan dengan Roberto Rouw dan Erwin D.Budiawan oleh pengurus PSSI, sisanya dianggap melanggar ketentuan organisasi karena mendukung Kongres Luar Biasa (KLB).Erwin sendiri juga Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) PSSI Samarinda, yang anehnya belum juga dibekukan kepengurusannya. Entah apakah karena Pengcab tak punya suara di Kongres?.</p>
<p>Pembekuan itu sendiri bukannya tak mengandung cacad hukum, karena sesuai pasal 38 Statuta PSSI, Exco tidak dapat mengambil keputusan penting kecuali dihadiri oleh 2/3 anggota Exco. Saat ini dengan pemecatan 4 anggotanya maka hanya tinggal 11 anggota saja (termasuk Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum). Belum lagi soal kebenaran pembekuan Pengprov itu karena keinginan Pengcab dan klub-klub di masing-masing provinsi. Di Jawa Timur terjadi perlawanan dengan penolakan atas pembekuan itu.</p>
<p>Bisa ditebak bahwa pembekuan 9 Pengprov itu, dan bisa diikuti ke Pengprov serta klub lainnya (yang memiliki hak suara di Kongres) merupakan langkah pengamanan untuk Kongres Tahunan pada Maret 2012 mendatang. Bisa saja Kongres Tahunan ini berubah menjadi KLB jika anggotanya menghendaki.</p>
<p>Pembekuan kepengurusan bukanlah barang baru bagi PSSI, setidaknya dalam setahun terakhir ini. Pertama, ketika Pengprov PSSI Sulawesi Utara dibekukan karena ketuanya, Syahrial Damopoli mendukung pasangan George Toisutta (GT) dan Arifin Panigoro (AP), bahkan ia saat itu menjabat Ketua Komite Penyelamat Persepakbolaan Nasional.Kedua, ketika pemerintah mengancam pembekuan PSSI serta mencabut fasilitas yang dinikmatinya jika tidak mengevaluasi keputusan Komite Pemilihan yang tidak meloloskan pasangan GT dan AP.</p>
<p>Sejarah berulang seperti roda yang berputar. Kebekuan yang ada di tubuh PSSI sekarang makin menebal dengan ambisi mempertahankan kekuasaan, tanpa peduli sekelilingnya lagi. Kebekuan yang hanya mencair jika dipanaskan oleh perlawanan, entah berupa KLB atau aksi turun ke jalanan. Tidak lagi sekedar kata-kata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>*Johannes Sugianto, penyair dan pengamat sepakbola.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aremasenayan.com/2012/02/01/paradigma-kekuasaan-pembekuan-dan-penolakannya.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arema Senayan sebagai Skripsi</title>
		<link>http://aremasenayan.com/2012/02/01/aremasenayan-sebagai-skripsi.php</link>
		<comments>http://aremasenayan.com/2012/02/01/aremasenayan-sebagai-skripsi.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 02:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pak Dhe Arsen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arema]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aremasenayan.com/?p=3104</guid>
		<description><![CDATA[ABSTRAK Sayang Agnietia, Komunitas Suporter Sebagai Arena Sosio Edukasi Good Supporter: Studi Komunitas Suporter Arema Senayan. Skripsi. Jakarta: Program Studi Pendidikan Sosiologi, Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta, 2011. Penelitian ini bertujuan untuk mencoba memahami sisi positif suporter yang selalu diidentikan dengan kekerasan. Salah satunya adalah kemunculan komunitas Arema Senayan yang secara perlahan &#8230; </p><p><a class="more-link block-button" href="http://aremasenayan.com/2012/02/01/aremasenayan-sebagai-skripsi.php">Continue reading &#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span class="fb_share"><fb:like href="http://aremasenayan.com/2012/02/01/aremasenayan-sebagai-skripsi.php" layout="button_count"></fb:like></span><p class="dropcap-first"><a href="http://aremasenayan.com/v1/wp-content/uploads/2012/02/301582_235431623182141_100001459141103_647354_1086825531_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3105" title="301582_235431623182141_100001459141103_647354_1086825531_n" src="http://aremasenayan.com/v1/wp-content/uploads/2012/02/301582_235431623182141_100001459141103_647354_1086825531_n-239x300.jpg" alt="" width="239" height="300" /></a></p>
<p align="center"><strong>ABSTRAK</strong></p>
<p><strong>Sayang Agnietia, </strong>Komunitas Suporter Sebagai Arena Sosio Edukasi <em>Good Supporter</em>: Studi Komunitas Suporter Arema Senayan. <span style="text-decoration: underline;">Skripsi</span>. Jakarta: Program Studi Pendidikan Sosiologi, Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta, 2011.</p>
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mencoba memahami sisi positif suporter yang selalu diidentikan dengan kekerasan. Salah satunya adalah kemunculan komunitas Arema Senayan yang secara perlahan bergerak mengubah paradigma tersebut. Lebih lanjut, penelitian inipun ingin melihat bagaimana proses pembelajaran menuju <em>good supporter </em>dalam komunitas Arema Senayan dan adanya pengaruh aspek kultural dalam pembelajaran tersebut.  Sampai pada akhirnya penelitian ini juga ingin melihat bagaimana proses keadaban suporter secara menyeluruh.</p>
<p>Penelitian ini merupakan suatu studi yang menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif terhadap kelompok suporter <em>Aremania</em> dan suporter Indonesia pada umumnya, serta komunitas Arema Senayan pada khususnya. Subjek penelitian ini dua orang yang dituakan dalam komunitas Arema Senayan dan dua orang anggota Arema Senayan. Dan sebagai informan kunci adalah satu orang pendiri Arema Indonesia serta satu orang wartawan. Selain itu, peneliti juga mewawancarai beberapa suporter <em>Aremania </em>yang bukan anggota Arema Senayan dan bukan <em>Aremania.</em></p>
<p>Hasil analisis atas temuan di lapangan mengatakan bahwa sekalipun konsekuensi sebagai suporter untuk terlibat dalam kekerasan masih ada, namun terdapat sekelompok suporter yang bergerak perlahan meminimalisir karakter kehidupan suporter tersebut. Mereka melakukan sejumlah pembelajaran melalui kegiatan-kegiatan positif yang memberikan pengalaman edukatif bagi individu di dalamnya. Pembelajaran dimulai dari kemapanan pondasi sosial dan ekonomi komunitas Arema Senayan. Mereka adalah kumpulan individu yang mayoritas orang dewasa dan berada pada kelas sosial menengah atas. Hal ini mempermudah proses pembelajaran suporter yang ada. Pembelajaran tersebut melalui interaksi, pemaknaan simbol serta penanaman nilai-nilai normatif. Mereka juga berkonformitas dengan aturan masyarakat. Sebagai <em>Aremania</em>, kehidupan suporter mereka akrab dengan faktor kultural, maka pembelajaran mereka pun melibatkan aspek kultural. Dalam hal ini adalah nilai-nilai kejawaan karena induk dan mayoritas <em>Aremania</em> berasal dari Malang, Jawa Timur. Arema Senayan pun sebagai bagian dari <em>Aremania</em> merekonstruksi nilai kultural tersebut ke dalam interaksi dan hubungan sosial komunitasnya. Mereka membiarkan individu belajar dengan individu lainnya, mereka belajar melalui pengalaman yang mereka ciptakan sendiri dan masyarakat berikan, mereka juga menciptakan pondasi moralitas untuk mereka anut bersama dan menyosialisasikan keadaban yang dimiliki pada kelompok suporter lainnya melalui persahabatan antar suporter. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis, teori yang menguatkan hasil temuan lapangan adalah teori pembelajaran sosial dan pengaruh sikap terhadap tingkah laku. Teori ini berada dalam ranah psikologi sosial. Sementara untuk teori yang lebih sosiologis adalah pendidikan moral milik Emile Durkheim dan teori keadaban Norbert Elias.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aremasenayan.com/2012/02/01/aremasenayan-sebagai-skripsi.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasus Diego Michiels : Kobaran Api yang Kian Menjalar</title>
		<link>http://aremasenayan.com/2012/01/10/kasus-diego-michiels-kobran-api-yang-kian-menjalar.php</link>
		<comments>http://aremasenayan.com/2012/01/10/kasus-diego-michiels-kobran-api-yang-kian-menjalar.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 09:23:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arsen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aremasenayan.com/?p=3075</guid>
		<description><![CDATA[&#160; KASUS Diego Michiels, pesepakbola yang memutus secara sepihak kontraknya dengan klubnya, Pelita Jaya FC merupakan hal yang menarik untuk dicermati dari berbagai aspek, dan akan menjadi suatu pelajaran tersendiri dari aspek legalitas bagi para pemain serta klub-klub sepakbola di tanah air. Ada tiga hal yang patut dicermati dalam kasus tersebut yaitu ketidak netralan PSSI, &#8230; </p><p><a class="more-link block-button" href="http://aremasenayan.com/2012/01/10/kasus-diego-michiels-kobran-api-yang-kian-menjalar.php">Continue reading &#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span class="fb_share"><fb:like href="http://aremasenayan.com/2012/01/10/kasus-diego-michiels-kobran-api-yang-kian-menjalar.php" layout="button_count"></fb:like></span><p class="dropcap-first">&nbsp;</p>
<p><a href="http://aremasenayan.com/v1/wp-content/uploads/2011/07/ISL-v-LPI-300x1711.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2986" title="ISL-v-LPI-300x171[1]" src="http://aremasenayan.com/v1/wp-content/uploads/2011/07/ISL-v-LPI-300x1711.jpg" alt="" width="300" height="171" /></a>KASUS Diego Michiels, pesepakbola yang memutus secara sepihak kontraknya dengan klubnya, Pelita Jaya FC merupakan hal yang menarik untuk dicermati dari berbagai aspek, dan akan menjadi suatu pelajaran tersendiri dari aspek legalitas bagi para pemain serta klub-klub sepakbola di tanah air.</p>
<p>Ada tiga hal yang patut dicermati dalam kasus tersebut yaitu ketidak netralan PSSI, pencitraan bagi kompetisi Liga Prima Indonesia (LPI) sebagai kompetisi resmi bagi PSSI dibanding Liga Super Indonesia (LSI) yang dianggap ilegal, serta upaya pengalihan isyu oleh PSSI terhadap berbagai persoalan yang melanda dunia persepakbolaan saat ini. Ketiga hal itu tak bisa dipungkiri telah terpampang dengan nyata meski bisa dibantah dengan berbagai argumentasi oleh PSSI sendiri.</p>
<p>Pada hal pertama, dalam konperensi pers yang singkat (hanya 15 menit) Diego didampingi oleh dua staf khusus PSSI. Ini merupakan perlakuan yang istimewa mengingat yang terjadi adalah kasus antara seorang pemain dengan klubnya yaitu Pelita Jaya FC yang turut berlaga di LSI. Apakah sengketa hukum yang sedang berjalan antara pemain dan klub berhak diintervensi oleh PSSI?.</p>
<p>Jika PSSI beralasan untuk melindungi sang pemain, bagaimana dengan hak pemain di klub-klub peserta LSI yang tidak bisa membela negaranya sebagai anggota timnas?. Apakah pendampingan itu terkait dengan tuduhan Pelita Jaya bahwa pengurus PSSI yaitu Bernard Limbong menekan para pemain, termasuk Diego untuk pindah?.</p>
<p>Hal kedua, kompetisi LPI memang kalah wibawa dan popular dibanding LSI baik dari aspek penonton, supporter maupun daya tariknya bagi sponsor. Apalagi pesertanya yang lebih sedikit dan terdiri dari tim yang memiliki kualitas lebih rendah.</p>
<p>Salah satu langkah untuk mendongkrak popularitas kompetisi ini adalah menghadirkan seorang bintang, dan pilihan itu jatuh pada Dieog Michiels. Langkah yang meniru Liga Primer Indonesia, yang singkatannya sama yaitu LPI, dan menjadi liga haram di masa kepengurusan Nurdin Halid, dengan menghadirkan Irfan Bachdim sebagai ikonnya. Kebetulan juga keduanya pemain naturalisasi yang berdarah bule.</p>
<p>Hal ketiga, kasus Diego dengan segala aspeknya merupakan upaya pengalihan isyu terhadap gencarnya tuntutan akan Kongres Luar Biasa (KLB) serta gugatan hukum oleh klub terhadap PSSI (Persipura menggugat ke Court of Arbitrase for Sport dan 8 klub ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat).</p>
<p>Belum lagi upaya rekonsiliasi yang mendapat sambutan dingin dari para peserta LSI dan masih ragu-ragunya PSSI menjatuhkan sanksi terhadap Persipura atas kenakalannya menjadi peserta LSI. Langkah ini mudah dibaca dan merupakan pembodohan pemikiran untuk kepentingan politis dari PSSI yang bertujuan merubah pola pikir masyarakat akan kinerjanya selama ini.</p>
<p>Apakah semudah itu merubah pandangan para pecinta sepakbola, supporter dan para pemain sendiri terhadap berbagai langkah PSSI yang makin tak popular?. Kasus Dieog Michiels tak pelak bukan lagi sekedar antara dirinya dan Pelita Jaya tapi sudah menjadi cerminan makin ruwetnya persepakbolaan Indonesia yang dari hari ke hari tak kunjung membaik prestasinya.</p>
<p>Entah sampai kapan pengurus PSSI membiarkan semua ini menjadi kobaran api yang kian menyala dan menyebarkan panasnya ke segala sudut. Sumber : Harian GOsport edisi Sabtu, 07 Januari 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aremasenayan.com/2012/01/10/kasus-diego-michiels-kobran-api-yang-kian-menjalar.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rekonsiliasi dan Pemecatan</title>
		<link>http://aremasenayan.com/2012/01/07/rekonsiliasi-dan-pemecatan.php</link>
		<comments>http://aremasenayan.com/2012/01/07/rekonsiliasi-dan-pemecatan.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 05:26:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pak Dhe Arsen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arema]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aremasenayan.com/?p=3063</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Johannes Sugianto Di tengah kerasnya tuntutan Kongres Luar Biasa (KLB), menarik untuk dicermati langkah yang dilakukan oleh pengurus PSSI dalam menyikapi hal itu. Tuntutan yang lahir dari Rapat Akbar Sepakbola Nasional (RASN) dan berbuah Mosi Tidak Percaya yang intinya menyerukan perbaikan di tubuh PSSI melalui KLB. Meski menanggapi dengan dingin seruan itu, PSSI &#8230; </p><p><a class="more-link block-button" href="http://aremasenayan.com/2012/01/07/rekonsiliasi-dan-pemecatan.php">Continue reading &#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span class="fb_share"><fb:like href="http://aremasenayan.com/2012/01/07/rekonsiliasi-dan-pemecatan.php" layout="button_count"></fb:like></span><p class="dropcap-first">Oleh : Johannes Sugianto</p>
<p><img class="alignleft" title="Kisruh Pssi" src="http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Logo-PSSI-Kisruh.jpg" alt="" width="250" height="155" />Di tengah kerasnya tuntutan Kongres Luar Biasa (KLB), menarik untuk dicermati langkah yang dilakukan oleh pengurus PSSI dalam menyikapi hal itu. Tuntutan yang lahir dari Rapat Akbar Sepakbola Nasional (RASN) dan berbuah Mosi Tidak Percaya yang intinya menyerukan perbaikan di tubuh PSSI melalui KLB.</p>
<p>Meski menanggapi dengan dingin seruan itu, PSSI dengan dalih adanya surat FIFA tertanggal 21 Desember 2011 yang menyoroti kompetisi ganda di Indonesia, lalu mengirimkan Tim Rekonsiliasi ke klub-klub untuk mensosialisasikan dan berdiskusi soal surat tersebut. Berbarengan dengan itu, kembali Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin melayangkan himbauan agar mereka yang turut kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) kembali ke “rumah” yaitu PSSI (baca : Liga Prima Indonesia/LPI).</p>
<p>Pengiriman tim rekonsiliasi seperti ini tidaklah efektif, karena bukan hanya tidak mengantongi kewenangan untuk bersikap terhadap saran atau permintaan klub yang didatangi, seperti ketika bertemu manajemen Sriwijaya FC, tapi juga mengundang pertanyaan “apakah klub peserta LSI tidak mengerti isi surat FIFA itu” sehingga harus mendapat penjelasan dari staf PSSI?. Belum lagi bicara soal biaya yang timbul dari pengantaran surat ini, sesuatu yang terjadi di tengah efisiensi di tubuh PSSI. Bukankah ketika PSSI mengadakan rapat di rumah Arifin Panigoro mereka berdalih demi efisiensi?.</p>
<p>Kalau pengurus PSSI ingin berdialog dengan klub-klub LSI, sebenarnya hal ini sudah dihimbau oleh ke empat anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang dipecat pada 26 Desember 2011 lalu dan diumumkan keesokan harinya oleh juru bicara PSSI. Dialog itu merupakan langkah rekonsiliasi ketika terjadi sikap resisten terhadap langkah PSSI yang tidak tegas dan seenaknya dalam menentukan format kompetisi serta dimasukkannya 6 tim secara gratis atas dasar sejarah dan kasihan, plus atas permintaan sponsor. Hingga kini tak jelas siapa sponsor yang dimaksud, karena dalam pertandingan LPI belum terlihat di a-board dari perusahaan besar yang mendukung kompetisi itu.</p>
<p>Langkah rekonsiliasi itu, yang hakikinya mengusung kemauan baik dan ketulusan, juga makin mengundang pertanyaan besar ketika PSSI sendiri masih dianggap mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan klub, pengelola ISL, baik nama dan sifatnya yang bersifat pribadi. Sikap ini mendapat sorotan dari SFC ketika bertemu tim rekonsiliasi, karena malah bisa memperkeruh keadaan saja.</p>
<p>Rasanya rekonsiliasi ala PSSI kali ini hanyalah pemanis belaka, sekedar memperbaiki citra yang sudah terlanjur berantakan dengan berbagai langkah yang salah. Bukan berarti tak ada celah untuk memperbaikinya, terutama dalam soal kompetisi ganda untuk menghindari sanksi dari FIFA, tapi adakah ketulusan dan kejujuran untuk mau duduk bersama?. Tanpa itu, kembali sia-sia belaka, menghabiskan biaya atas keputusan FIFA yang mudah dibaca di media (lengkap dengan terjemahannya) dan perbaikan citra semata.</p>
<p>Apalagi pemecatan 4 anggota Exco yang dilakukan hanya berdasarkan perintah lisan lewat telepon, di saat kantor libur, sungguh merupakan penutup akhir tahun yang menyesakkan karena kembali menjadi catatan yang tak elok dalam kinerja PSSI. Apapun kesalahan mereka di mata pengurus, mereka juga pengurus yang mempunyai posisi sejajar sebagai anggota Exco, dipilih di dalam Kongres yang tak bisa dipecat hanya oleh SK Ketua Umum atas rekomendasi Majelis Etik (lembaga dalam lembaga yang tak dikenal dalam Statuta). Terasa sekali tak ada penghargaan secuilpun dalam tindakan ini bagi sesama kolega pengurus PSSI.</p>
<p>Rekonsiliasi jika memang dimaksudkan sebagai langkah merangkul kembali, harusnya dilakukan dengan duduk bersama, berdiskusi sambil ngopi, dalam bahasa sepakbola dan tawa. Bila hanya lewat pengiriman staf untuk mengantarkan surat, pernyataan di media saja, maka tak mengherankan bila rekonsiliasi itu dianggap sebagai intimidasi agar klub-klub mundur dari LSI dan ikut LPI. Selain itu merupakan sikap cari muka ke FIFA agar terlihat bahwa PSSI telah mengambil “tindakan yang layak” dalam menindaklanjuti surat induk organisasi sepakbola dunia itu.</p>
<p>Drama perseteruan antara organisasi dan anggotanya ini makin menyala, menjadi hiasan berita yang makin memanas di awal 2012, dan masyarakat hanya menyaksikannya dengan mengelus dada saja. KLB tinggal menunggu waktu saja untuk diketok oleh mereka yang makin geram atas segala langkah yang dilakukan induknya.</p>
<p>*Johannes Sugianto, penyair dan pengamat sepakbola</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aremasenayan.com/2012/01/07/rekonsiliasi-dan-pemecatan.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

